Apresiasi Berbagai Lembaga Untuk Hasil Pembahasan G20

283

Here’s all you need to know: Post-G20 and COP 27….

In terms of Climate crisis.
Yoi. Masih kerasa nggak sih euforia KTT G20 yang digelar di Bali kemaren, guys? Bukan cuman soal world leaders yang rame-rame ngumpul di Indonesia, tapi juga soal apa yang dibahas dan hasil kayak gimana yang diputuskan di sana terkait perubahan iklim, yang kemudian diapresiasi oleh berbagai lembaga.
 
Tell. Me. Everything. 
All right. Jadi as we all know beberapa waktu lalu tuh kan Konferensi Tingkat Tinggi G20 tuh baru aja beres ygy. Mulai dari Presiden AS Joe Biden, PM Inggris Rishi Sunak, PM India Narendra Modi, Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol dan jajaran elite lainnya negara anggota G20, semuanya kemaren pada kumpul di Bali untuk agenda penting ini. Adapun yang dibahas di sana tuh kan macem-macem, guys. Tapi dengan pembahasan yang macem-macem dan multidimensi itu, of course tetep ada isu fokusnya. Adapun isu yang dibahas kemaren tuh berfokus di tiga hal: Transformasi digital, arsitektur kesehatan global, dan transisi energi berkelanjutan.

Energi berkelanjutan?
Iya. Secara isu ini tuh udah jadi main focus yang terus-terusan di bahas di berbagai forum baik nasional maupun internasional, gengs. Berangkat dari banyak bencana, terus fenomena alam lain kayak es kutub mencair, karhutla, flora dan fauna terancam punah, gitu-gitu. Nah semuanya bermuara di satu fenomena inti, which is climate crisis. Yang harus kamu tahu adalah, climate crisis sekarang keadaannya makin concerning, gengs. Dan solusi yang bisa me-reduce bahaya climate crisis yha dengan beralih dari energi tak terbarukan aka energi fosil ke energi terbarukan. But it takes a lot of works kan. Makanya isu ini dianggap penting dan jadi fokus utama di KTT G20 kemarin.

I heard 
that yang gini-gini tuh ada conference-nya sendiri deh…

Correct. Namanya Conference of the Parties aka COP yang kemarin baru aja digelar di Mesir. Di situ, perwakilan negara-negara fokus membahas masalah-masalah yang berkaitan sama climate crisisguys. Dekarbonisasi, keuangan, keanekaragaman hayati, sampai transisi energi tadi. Nah dua conference besar yang berlangsung tahun ini akhirnya punya keputusan akhir kan. Keputusan ini kemudian diapresiasi oleh berbagai pihak guys, meaaning beneran bagus nih hasilnya. Gimme all the details…Adapun salah satu pihak yang mengapresiasi berasal dari Koalisi Keadilan Iklim, yang terdiri dari Yayasan Pikul. Yayasan Madani Berkelanjutan, Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia aka Walhi, dan Kemitraan untuk Pembaharuan Tata Kelola aka KEMITRAAN. Disampaikan oleh Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan, Nadia Hadad, pihaknya menyambut baik hasil yang didapat dari dua conference ini, gengs. Di mana salah satunya adalah nge-acknowledge peran penting negara hutan tropis buat meminimalisir dampak climate crisis.

 
What about that? 
Karena hutan hujan tropis tuh bisa banget membantu menyerap karbondioksida dari udara, terus disimpen, jadi oksigen, plus dengan adanya hutan hujan tropis, bisa menyerap jumlah emisi greenhouse gases aka gas rumah kaca, guys. Nggak cuman itu, flora dan fauna tuh mulai dari spesies burung dan invertebrata kayak golongan kerang, siput gitu-gitu banyak banget ditemukan di hutan hujan tropis. That being said,
Advertisement
 bakalan membantu banget buat kelangsungan makhluk hidup di masa depan.  Nah dari hasil KTT G20 dan COP27 kemarin, akhirnya aliansi Indonesia-Brazil-Kongo (Which ketiganya merupakan negara hutan tropis dan banyak hutan hujannya) sepakat buat mengangkat peran penting ini to make a change deh.
 
Yang penting implementasinya sih…
Nah iya makanya Mbak Nadia juga menyebut aliansi ini kudu bisa kasih manfaat yang konkret dan berkeadilan bagi masyarakat, guys. Lebih jauh, Mbak Nadia juga bilang aliansi ini harus bisa menganalisis apa aja faktor-faktor laju kehilangan hutan meningkat mulu, dan nge-analyze elemen pencegahannya mesti kayak gimana. Khususnya di Indonesia, pemerintah dan kita semua kudu sama-sama menjaga hutan di negeri ini, gengs. Tanpa terkecuali.


As we should
. Terus terus?
Nah selain kesepakatan soal aliansi, G20 dan COP27 juga menghasilkan kesepakatan Loss and Damage serta Just Energy Transition Partnership aka JETP. Lewat dua kesepakatan ini, negara-negara berkembang buat urusan transisi energi plus mengatasi segala kerusakan akibat dampak climate crisis, gengs. In that sense, within 3 or 5 years, Indonesia bakalan dapat pendanaan sebesar US$ 20 miliar dari negara penyumbang,yang dipimpin Amerika Serikat dan Jepang. Nggak cuma cuma dong dikasih miliaran dolar. Indonesia harus meninggalkan batubara sebagai tenaga pembangkit listrik dan mempercepat pemberhentian operasional PLTU batubara. Seneng dong aktivis lingkungan.

Ada tapinya nggak nih?
Tapi tetep ada catatan eheheh. Yep, disampaikan oleh pihak WALHI, Indonesia harus terlibat penuh dalam pembahasan mekanisme penyaluran dana ini, guys. Kudu ikutan langsung, biar sama-sama enak. Jadinya nggak ngang ngong ngang ngong tau-tau dapet 20 miliar dolar. Ehehehehe. Sambil tetep dipantau juga perkembangan kondisi geopolitik sekarang between negara-negara utara dan selatan, negara maju dan berkembang, kalau kata WALHI.

I see. Anything else I should know?
Di balik kesepakatan yang diapresiasi oleh Koalisi Keadilan Iklim dan upaya meminimalisir dampak climate crisis, yang paling penting tuh sebenernya gimana caranya partisipasi publik bisa aktif dan bermakna biar keadilan iklim bisa tercapai, guys. Nah biar ada publik pada aktif berpartisipasi, penting banget buat kita untuk aware sama isu ini, aware bahwa ini bukan situasi yang wajar, analyze what should be done, and go out. Keluarin pendapat kalian. Tapi yha kalau ada yang speak up jangan di-salty-in. Jangan diteriakin SJW, guys. Kasian, ntar besok-besok orang nggak mau lagi speak up their thoughts :(.
Advertisement