Mark Zuckerberg Buka Suara Atas Kisruh Perusahaannya

35

When it’s been a tough month for Facebook…

Bos-nya FB Mark Zuckerberg finally angkat bicara.
Yep, akhirnya setelah berada dalam “no comment” mode selama beberapa waktu ke belakang, akhirnya CEO Facebook Mark Zuckerberg buka suara soal berbagai kisruh mengenai perusahaannya.
 
Whoaaa, ngomong apaan doi?
Hari Senin kemaren, Zuckerberg nongol di penyampaian laporan pemasukan perusahaannya di Q3 2021. Di kesempatan tersebut, Zuckerberg membahas soal dokumen perusahaannya yang diduga bocor baru-baru ini dan menurutnya, ada upaya untuk bikin nama FB jadi jelek. In his words: “Good faith criticism helps us get better, but my view is that we are seeing a coordinated effort to selectively use leaked documents to paint a false picture of our company.”
 
Wait, tell me from the start.
Oke so, kalo kamu inget di bulan September kemaren ni rame-rame soal Facebook dimulai dari bocornya hasil penelitian internal yang dilakukan sama Facebook terkait Instagram. Sebagai anak perusahaan dari Facebook, Instagram melakukan penelitian terhadap para penggunanya selama dua tahun sejak 2019, dan hasilnya ternyata Instagram bikin penggunanya, terutama remaja perempuan, jadi punya body image issue. Yang bikin rame juga adalah, ternyata Facebook udah tau ini semua tapi mereka dinilai enggak bertindak apa-apa untuk mengatasi hal tersebut, belom lagi hasil studinya ditutupin dari publik.
 
Oh dang, go on.
Penelitian itu kemudian diekspos oleh Wall Street Journal kepada publik dan diketahui bahwa yang bocorinnya adalah eks karyawan Facebook sendiri, Frances Haugen. Haugen yang merupakan eks product manager di Facebook menyatakan bahwa Facebook gak peduli sama keselamatan penggunanya, terbukti dari dirahasiain hasil penelitian tersebut dan kurangnya upaya perusahaan dalam mengatasi berita hoaks yang berseliweran di platform tersebut. Setelah ekspose WSJ viral, Haugen juga menghadap hakim di pengadilan AS buat testify against Facebook dan terus melakukan investigasi terhadap perusahaan tersebut. Sampe akhirnya, terkumpullah beberapa informasi yang lagi rame banget diomongin sebagai Facebook Papers.
 
Tell me more about it.
Jadi, Facebook Papers ini dianggep sebagai dokumen internal Facebook yang bocor dan ngebeberin banyak banget malpraktek Facebook sebagai perusahaan yang menaungi platform media sosial Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Ada beberapa poin penting di dalemnya gengs, mulai dari minimnya pengawasan konten yang ada di Facebook di negara-negara berkembang, sampe kurangnya kontribusi Facebook dalam mencegah kerusuhan pas pilpres AS 2020 yang berujung ke penyerangan Capitol Hill oleh pendukung Trump yang gak terima idolanya kalah.
 
Whoaaa… Terus Zuckerburg ngomong apa lagi?
Doi sih bilang kalo perusahaannya tuh punya kultur yang terbuka terhdap riset yang dilakukan. Tujuan risetnya pun kalo kata Zuck yhaa buat mengoptimalkan platformnya demi kepentingan para pengguna. Terus, gak lupa juga ni Zuck ngingetin para investornya buat jangan khawatir karena Facebook bakal terus profitable. Buktinya, di Q3 Facebook mendapatkan keuntungan sebesar 2,9 miliar dolar AS, naik 17% dari Q3 tahun lalu.
 
Hmmm… Anyone saying anything about it?
Menurut Profesor Komunikasi di Syracuse University Jennifer Grygiel, semuanya balik lagi ke gimana Zuck mau menggunakan kekuasaan yang dia dapatkan seiring berkembangnya Facebook. Meskipun Facebook emang sering menghadapi PR crisis, tapi bisa dibilang ini yang terparah. Zuck sebagai pemegang saham paling besar di perusahaan tersebut dan pemegang suara paling berpengaruh di sana harusnya bisa lebih menggunakan kekuasaannya for the greater good.
 
Got it. Anything else?
Di saat yang sama, Facebook juga ngingetin ke pengguna Apple kalo iOS 14.5 yang fokus sama privasi pengguna ini kemungkinan bisa mengubah algoritma aplikasi tersebut. FYI, iOS 14.5 dari Apple bikin penggunanya secara eksplisit memberikan consent ke aplikasi yang digunakan buat ngambil data pengguna, termasuk Facebook. Akibatnya, iklan-iklan yang sebelumnya udah personalized bisa berubah lagi karena adanya kebijakan ini.