IMF : Setelah Pandemi Jarak Negara Kaya Dan Negara Miskin Semakin Jauh

45

What’s getting bigger during the pandemic?

U talking about my weight?
 
Nope, but actually:
The gap between the rich and the poor.
 
Maksudnya?
Iya jadi menurut keterangan yang disampaikan sama lembaga keuangan internasional the International Monetary Fund (IMF) Selasa lalu, disebutkan bahwa negara-negara kaya bakal makin cepat bangkit dari pandemi, sedangkan negara miskin bakal makin lama sembuh. Akibatnya jarak antara keduanya juga makin jauh.
 
Explain. 
Ok. As you know, warga negara kaya udah banyak banget yang divaksin (sekitar 40%), sebaliknya warga negara miskin masih sedikit yang divaksin (sekitar 11%). Nah, hal ini tentunya turut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di negara-negara tersebut. Ya kaan, kan kalo divaksinnya cepet, maka pembukaan ekonomi juga cepet, dan pemulihan ekonomi juga bakal ikutan cepet, begitu juga sebaliknya. Karena itulah, IMF bilang bahwa pertumbuhan ekonomi di negara kaya bakal lebih cepat pulih karena mayoritas warganya udah divaksin, jadi mereka nggak perlu menerapkan kebijakan lockdown lagi.
 
OK Paham.
Yep. On the other hand, negara menengah ke bawah, belum bisa melakukan pemulihan ekonomi secara maksimal secara masih di lockdown, karena belum banyak warga yang divaksin.  Nah, karena pendistribusian vaksin yang nggak seimbang ini, maka kemungkinan besar si negara kaya bakal tambah kaya, si negara miskin jadi tambah miskin.
 
Hiks…seriously? 
Iya.  Menurut IMF, meskipun GDP (gross domestic product – produk domestik bruto/PDB) dunia bakal naik menjadi enam persen tahun ini, namun tetap aja bakal ada kesenjangan yang lebih tinggi seiring dengan tumbuh cepatnya negara kaya, dan makin lambatnya pertumbuhan negara miskin. For exampleAmerika Serikat diprediksi bakal tumbuh sekitar tujuh persen tahun ini (lebih tinggi 0,6 persen dari prediksi sebelumnya).  Meanwhile, estimasi pertumbuhan ekonomi di India turun menjadi 9.5 persen (sebelumnya diprediksi bakal tumbuh 12,5 persen).
 
OMG…
Yep, belum selesai guys. IMF juga bilang bahwa negara-negara kaya masih bisa ngasih bantuan ke rakyatnya terkait wabah pandemi (kayak bansos atau pemotongan pajak) hingga beberapa tahun ke depan. Namun untuk negara-negara miskin, maka kebanyakan bantuan ini berakhir di tahun 2020, dan abis itu, pemerintahnya harus puter otak lagi untuk ngasih dana bantuan.
 
Hiks, terus gimana? 
Nah, meskipun prediksi perekonomian si kaya udah membaik, namun IMF juga memberikan warning ke si negara-negara tajir bahwa jika virus covid-19 dan varian-variannya masih exist in this world, si kaya bakal tetap mempunyai risiko terdampak virus-virus tersebut.  Hal tersebut diprediksi bisa menghabiskan sekitar $4.5 triliun dari GDP global per 2025. Berdasarkan prediksinya, setengah dari kerugian tersebut adalah kerugian negara-negara kaya.
 
Gils, terus gimana? 
Well, menurut IMF, untuk menghindari hal tersebut, negara-negara kaya harus berbagi setidaknya 1 milyar vaksin di tahun ini ke negara-negara miskin.  Hal ini supaya virusnya nggak tersebar lagi dan supaya kerugian global yang tersebut di atas, bisa dihindari.