10 Tahun Perang Sipil di Suriah

35

For when you’ve been hearing about Syrian Civil War for a while…

Yep, nyadar ga guys, kalo kita udah lamaaaaa banget denger berita soal perang sipil di Suriah? Kotanya ancur lah, ISIS menguasai lah, warganya banyak yang mengungsi, lah. Nah kalo kamu mikir, “Iya juga yhaa…udah lama ugha gue denger berita soal Suriah ini…” that actually makes sense, karena perang sipil di sana udah berjalan selama SEPULUH TAHUN. Jeng jeeeeng….
 
10 YEARS?
Yep. Jadi gengs, Rabu (10/3) kemarin, Perang di Syria officially has lasted for 10 years.  Sekjen PBB, Antonio Guterres mencatat dan mengkritik dampak dari perang yang terjadi di Syria sejak bulan Maret 2011 tersebut.
 
Background please. 
Ok. Awalnya, perang ini terjadi karena ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintahan Presiden Bashar Al-Assad yang udah menjabat di Suriah sejak tahun 2000. Penyebabnya? Yha kemiskinan, pengangguran, hingga dugaan-dugaan korupsi. Nah kemudian muncullah berbagai gerakan yang mendesak agar Assad mundur dari jabatannya, yang dilawan oleh serangan militer dari Assad. Konflik ini kemudian dengan cepat berproses jadi perang saudara yang berlangsung hingga sekarang. FYI, perang ini juga terjadi di tengah-tengah terjadinya “Arab Spring”, di mana waktu itu, muncul gerakan melawan pemerintah otoriter di berbagai negara Arab demi terjadinya reformasi demokrasi. Perlawanannya dimulai di Mesir, di mana masyarakat memprotes Presiden Hosni Mubarak pada Januari 2011. Setelah peristiwa tersebut, negara-negara di sekitar Mesir juga mulai melakukan perlawanan terhadap pemerintahnya, including Syria in March 2011.
 
I see, go on…
Nah, menurut PBB, perang di Suriah adalah “the greatest crimes in this century”. So far, perang tersebut telah membunuh hampir setengah juta penduduk, dan ada lebih dari satu juta penduduk yang cedera, terus ada lebih dari lima juta yang harus jadi pengungsi.  Sejak pandemi, things got worse karena fasilitas kesehatan yang terbatas. Guterres juga bilang bahwa masyarakat Suriah telah mengalami pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) skala tinggi.  Banyak bom yang meledak di pemukiman-pemukiman, sekolah, rumah sakit, pasar, dan berbagai fasilitas publik lainnya.
 
:’(
Lebih jauh, Sekjen PBB juga bilang bahwa setidaknya ada 60 persen dari penduduk Suriah yang terancam mengalami kelaparan tahun ini. Karenanya, beliau menganjurkan supaya ada peningkatan bantuan kemanusiaan, khususnya supply makanan untuk daerah-daerah konflik.
 
So…has anyone done anything?
Ya ada. Jadi sebenernya sih, sejak 2015 lalu, Dewan Keamanan PBB udah mengadopsi road map to peace in Syria yang juga udah ditandatangani oleh perwakilan PBB, Liga Arab, Uni Eropa, Turki dan lima anggota permanen Dewan Keamanan PBB, which includes the US, Rusia, China, Perancis dan Inggris.  Resolusi tersebut membahas tentang pembentukan badan pemerintahan transisi, penulisan ulang konstitusi baru, dan diakhiri dengan pemilu yang diawasi langsung oleh PBB. Selain itu, di tahun 2018 juga akhirnya ada kesepakatan di konferensi perdamaian Suriah di Swiss.
 
Kesepakatan apa? 
Kesepakatan untuk merancang konstitusi Suriah yang baru, dan membentuk pemerintahan transisi. Tapi, ternyata setelah lima kali pertemuan, tetap aja nggak ada progress tentang penyusunan konstitusi tersebut, dan kalo dari pihak PBB sih, hal ini mostly karena perwakilan pemerintahannya Assad yang ribet sama urusan-urusan prosedural dan jadinya progresnya lambat banget untuk nyampe ke substansi. Karena itu, Sekjen PBB juga mendesak Pemerintah Suriah untuk segera melakukan diskusi-diskusi yang terkait dan mulai menyusun konstitusi baru.
 
Got it. Anything else I should know?
This war is so…..devastating. Bayangin guys, dengan jumlah populasi sebelum perang adalah 23 juta orang, kini 5,6 juta di antaranya jadi pengungsi di negara lain seperti Lebanon dan Eropa. Terus 6.5 juta-nya juga jadi pengungsi di tanah air (karena kampung halaman atau rumahnya ancur), dan mayoritas para pengungsi ini udah berada dalam kondisi tersebut selama hampir 10 tahun.