Corona Update 8 Juli 2020, Hapus Wisata Baduy, New Rule American Student, Netflix & Indihome

94

Who’s just sent a worrying message?

OMG please, please pleaseeee not about corona…

Sorry, but it is.
 
HUFT ok lay it on me
OK. Jadi kemarin, 239 orang peneliti dari 32 negara ngirim surat terbuka ke World Health Organization, aka WHO. Isinya, mendesak WHO untuk mengubah guidance aka pedoman kesehatannya dalam menghadapi Covid-19.
Hah kenapa harus diubah?
Jeng jeeeng…inget ketika kamu disuruh social distancing karena virus Covid-19 menular lewat percikan air liur? Nah, penemuan dari studi terbaru yang dilakukan para peneliti ini menyatakan bahwa nggak cuma dari air liur, tapi penularan virus juga bisa menular lewat udara, aka airborne.
Whoaaaa yang benerrr!!!!!
Iya bener. Jadi menurut penelitiannya, diketahui bahwa secara partikel virus ini kecil banget, maka mungkin banget virus yang dikeluarkan ketika penderitanya ngomong atau menghela napas itu melayang di udara dan menginfeksi orang lain…
Bentar, emang yang ada selama ini gimana?
Selama ini, WHO menyebut bahwa penularan terjadi dari percikan yang lebih besar, yaitu ketika orang batuk atau bersin. Selain itu, dipercaya juga bahwa partikel virusnya bakal langsung jatuh dan “mendarat” di permukaan, terus kepegang sama kamu, makanya kan kamu disuruh cuci tangan terus…
I see.. terus-terus?
Yha dengan adanya penelitian ini, para scientists tadi mendesak WHO untuk merubah protokol kesehatannya, yaitu dengan memperketat physical distancing dan pemakaian masker secara terus menerus. Menurut para peneliti ini, ya kasian aja orang-orang udah mikir bahwa mereka udah cukup aman dengan mengikuti protokol yang ada sekarang, padahal sebenernya nggak aman.
Ouch. Does WHO say anything tho?

“We’ll look it up,” gitu katanya. Selain itu, sejauh ini WHO juga masih meyakini bahwa Covid-19 itu menyebar melalui droplets. Ya bisa sih lewat udara aka airborne, tapi kemungkinannya kecil banget.

Olrite. Wrap it up.

Ok, but just FYI, WHO is constantly in hot water karena sering bikin rekomendasi-rekomendasi yang ngebingungin. Contohnya, pas awal-awal ada Covid-19, mereka mengimbau bahwa pake masker di tempat umum itu nggak perlu, sekarang perlu. Terus juga mereka pernah bilang bahwa penyebaran Covid-19 dari penderitanya yang asimtomatis aka nggak menunjukkan gejala itu jarang terjadi, tapi kemudian statement itu ditarik lagi.
 
Uhmm kisah yang familiar…

Who’s feeling unhappy with their status?


Aku aku karena statusku masih dianggap temen sampe sekarang HEEEE
Makanya minta closure donk, kayak yang dilakukan sama warga Baduy yang ada di Kabupaten Lebak, Banten.
 
Hah kok jadi Warga Baduy?
Iya, jadi kemarin, perwakilan Warga Baduy ngirim surat ke Pak Jokowi. Isinya, mereka minta agar statusnya dihapus dari daftar destinasi wisata, demi menjaga kelestarian tatanan nilai adat Baduy.
 
Interesting, kenapa emang mereka gamau jadi lokasi wisata lagi?
Well, to start with, warga Baduy ini memang dikenal sebagai warga yang mengisolasi diri dari dunia luar. Mereka sangat memegang erat adat istiadatnya secara turun temurun dan punya aturan yang selaras dengan alam yang gaboleh dilanggar. Beberapa aturan ini di antaranya adalah gaboleh merubah jalan air, gaboleh menggunakan bahan-bahan kimia, gaboleh menebang pohon, dll.
OK…
Nah seiring dengan statusnya sebagai daerah wisata, kehidupan Warga Baduy, khususnya Baduy Dalam mulai terekspos…
And they’re unhappy with that?
Yep, unlike you yang hobi bikin story IG sampe titik-titik, Warga Baduy dalam justru nggak suka kalau kehidupannya dipublikasikan ke dunia luar. Selain itu, mereka juga unhappy karena di Google Maps ada peta beberapa wilayah tempat tinggal Warga Baduy Dalam yaitu di perkampungan Cikeusik, Cikertawarna dan Cibeo.
Hah emang kenapa mereka nggak mau dipublikasi?
Yha karena emang ada larangan dalam masyarakat Baduy untuk nggak mendokumentasikan kehidupannya. Selain itu, faktor sampah yang numpuk di perkampungan Baduy karena kunjungan wisatawan juga bikin mereka makin yakin untuk nggak menjadikan kampung halamannya sebagai tempat wisata.
I see, well, does the government say anything about this?
Yep, Bupati Lebak, Iti Octavia bilang bahwa dia baru denger berita ini dari sosial media, jadi yha mau dikonfirmasi lagi. Selain itu, Iti juga bilang bahwa dia berencana berkunjung langsung untuk ketemu para ketua suku dan mencari jalan keluar terkait kondisi ini, sebelum mengambil keputusan untuk bener-bener menutup tempat wisatanya.

Who’s saying, “Time to go home…”?

The U.S. aka Amerika Serikat.
Not so good news buat kamu yang pengen kuliah di Amerika Serikat, mending pikir-pikir lagi deh.
Hah kenapa?
Jadi kemarin, sebagai respons dari pandemi Covid-19, ICE aka Dirjen Imigrasinya Amerika Serikat baru aja ngeluarin peraturan yang mewajibkan pelajar internasional (specifically pemegang visa F-1 dan M-1) yang kampusnya nggak ada kuliah tatap muka untuk pulang ke negaranya, atau kalau enggak, mereka bakal dideportasi.
Whaaaaat?
Iya. Atau kalo nggak mau dideportasi, mereka harus transfer ke kampus lain yang menggelar kuliah tatap muka. Selain itu, ICE juga ngumumin bahwa mereka nggak akan menerbitkan visa buat fall semester mendatang (biasanya dimulai September sampe November/Desember) buat mahasiswa internasional yang kuliahnya online.
OMG…
Hal ini kemudian bikin bingung nggak cuma mahasiswa, tapi juga kampus-kampus yang ada di Amerika. Hal ini karena udah ada kampus kayak Harvard dan Princeton yang ngumumin bahwa mereka bakal fully cuma menggelar kuliah online.
Tapi emang kenapa ICE bikin peraturan kayak gini sih?
Yha pastinya karena Covid-19 yang merupakan kondisi luar biasa aka extraordinary circumstances. Selain itu, juru bicara ICE Carissa Cutrell juga bilang bahwa mereka bakal berusaha se-fleksibel mungkin dalam hal akomodasi, tapi teteup international students harus mengikuti aturan yang ada.
I want to know what people think about this….
Well, kalo kata Elizabeth Warren, yang merupakan anggota senat dari negara bagian Massachusetts yang merupakan rumah bagi banyak kampus top US (kayak Harvard, MIT, Tufts, Boston Uni dll) sih, kebijakan ini jahat banget dan nggak berperasaan. Selain itu, presiden Harvard University Larry Bacow juga menyebut bahwa pihaknya khawatir dengan kebijakan ini, karena cuma ngasih satu solusi buat permasalahan yang beragam. Bacow juga bilang, pihak Harvard bakal koordinasi sama kampus-kampus lain untuk bahas nih, ke depannya mau ngapain.
I see… anything else?
Well FYI, kampus-kampus di US biasanya nge-charge mahal banget buat international students, di mana dana yang didapatkan dari sini biasanya dijadikan subsidi silang buat ngasih bantuan finansial buat mahasiswa asli US. Namun dalam satu tahun belakangan ini, angka visa AS yang dikeluarkan untuk mahasiswa internasional menurun sampe 40% dibanding tahun-tahun sebelumnya, thanks to proses visa yang lambretttta.

For when you can finally binge-watch House of Cards…

Yeep, selamat yaa buat kamu pengguna Indihome atau Telkom, akhirnya kemarin, provider pelat merah itu udah resmi membuka blokirnya terhadap Netflix! Menurut pihak Telkom sih, keputusan ini diambil setelah Netflix melakukan berbagai pendekatan terhadap pasar Indonesia dan setuju untuk meneruti berbagai regulasi yang ada, misalnya kayak memperketat parental control, memastikan adanya sistem untuk membatasi tayangan sensitif, membangun mekanisme untuk ngurusin pelanggan yang komplain, sampe bersedia untuk menyelesaikan keluhan dari pemerintah dalam waktu 24 jam. Nah, seiring dengan di-unblock-nya Netflix dari Indihome, saham Telkom kemarin langsung naik 2,3 persen. Finally, a gentle reminder from us, kalo kamu langganan Netflix, jangan lupa bahwa mulai bulan ini, tarif bulanannya naik 10% yang merupakan pajak PPN. Danggg!


“Tak ada urgensinya.”

Komentar Indonesia Corruption Watch aka ICW terhadap kegiatan Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar DPR RI di Gedung KPK kemarin. Jadi normally, RDP ini digelar di gedung DPR RI Senayan, namun kemarin, rombongan DPR datang ke gedung KPK di Kuningan untuk meetingnya di kantor KPK aja. Terus, meetingnya juga tertutup lagi, sehingga bikin masyarakat berspekulasi bahwa ada yang disembunyikan.
 
When your boss forces you to do Zoom meeting while everything could’ve been an email…

Angel’s Stories
1. Rumah gue di Kemanggisan, Jakarta Barat. Tiap sore kalo sepedaan suka ngeliat kuda delman kurus kering, menyedihkan banget di Pasar Palmerah. Gue sadar, banyak yang against praktik delman ini. Gue pun ga sepenuhnya setuju, but to be honest, di situasi seperti ini yang terpenting bagi gue adalah prioritas untuk memikirkan kuda-kudanya dulu. Gue buka campaign di Kitabisa, sebarin di Twitter dan ga nyangka banget, besokannya terkumpul 6jt lebih. Bahkan para pecinta kuda dan dokter hewan ngontak gue mau bantuin juga. Gue ga ngerti lagi mau bilang apa, orang baik masih banyak di sekitar kita.
-Caroline, Jakarta-
2. Ini terjadi Sabtu lalu, aku dan 2 orang temanku menginisiasi suatu kegiatan Serial Webinar (@wirahsa.official) untuk mengedukasi masyarakat terkait kesehatan mental sekaligus mengajak untuk berdonasi kepada masyarakat terdampak covid. Ternyata terkadang ada yang mengambil keuntungan dari niat baik kita. Jadi, ada yang menghubungi kami bahwa dia mau donasi karena ada rezeki, tapi dia salah tekan nominal, alhasil kami harus ngembaliin sisa duitnya. Aku pergi ngecek saldo karena kebetulan m-banking lagi error. Ternyata beneran ada uang sejumlah yang dia bilang, terus kukirim balik dong. Eh, ternyata setelah itu ortuku nelpon kalau tadi habis ngirim duit yang jumlahnya sama kayak orang tadi, jadi uang tadi dari ortuku bukan dari orang itu. Aku baru sadar, kalau tadi itu penipuan. Aku sedih, gak nyangka kalau ada orang yang tega menipu atas nama donasi. Akhirnya, aku sampaikan ke dua orang temanku. Mereka pun kaget dan gak nyangka. Aku nenangin diri dan mencoba mengikhlaskan. Trus, baru pagi ini banget, salah satu dari temenku ini ngirim bukti transfer ke aku dan bilang bahwa aku gak sendiri, dan ini bukan 100% salahku. Ya Allah… Aku terharu. Kejadian ini ngasih pelajaran besar. Temenku baik banget. Makasih ya mbak. Semoga Allah yg balas ❤
–AWW-
3. Jadi setiap sore biasanya ada anak bocah yang jualan kue lewat di depan rumah. Ayahku udah jadi langganan beli kue sama anak itu, walaupun kue-nya ga delicious amat, ayah aku selalu beli (bantuin anaknya biar laku jualan). Aku sampai pernah overheard ayah aku bilang ke anak itu, “Tiap kali jualan langsung ke rumah ini aja ya, bakal dibeli kok.” Since then anak itu sering ke rumahku. Nah seminggu terakhir ini si anak ga datang-datang lagi, entah karena apa. But then, came a day when it was pouring rain so hard, anjingku nge-gonggong jadi serumah tahu kalo ada orang di depan rumah. Ayahku keluar rumah dan liat ternyata itu si anak yang jualan kue megang payung dan kotak jualan kosong. Aku liat dari jendela anaknya sedih gitu. Ayahku balik ke dalam rumah ambil uang terus ngasih ke anaknya. Pas ayahku masuk ke dalam rumah, aku nanya, “Kok ga ada kuenya?” (wkwk).. Trus ayahku bilang bahwa anaknya tadi lagi jualan ke penumpang angkot yang lagi berhenti sejenak, trus penumpangnya pada ambil semua kuenya, ga bayar, dan langsung pergi. Anaknya pasti bingung dong ya takut dimarahin orangtuanya karena ga bawa uang pas pulang rumah, rugi. Mungkin karena ayahku selalu nerima dia buat jualan kuenya di rumah, jadinya dia percaya ke ayahku to ask for help. For me personally, this act of kindness that you do for anyone bakal jadi investasi yang gede banget, which is trustAt least that’s what I saw in what my dad did.. hoho.
-Sa E Ri-
 
(We believe that angels, just like superheroes and cats, come in different costumes, but they’re here for the same reasons: to make our days brighter, our smiles wider, and our feelings happier. So during these uncertain times, we’ve decided to replace the love letter with stories about kindness, because now more than ever, our community needs that. Shoot us your kindness stories here (can be something you see or experience firsthand (or no), basically, anything!) and we will feature it here. Come, share us your versions of angels!)