Bias Gender Terhadap Kinerja Perempuan

73

Who’s playing “The Man” by Taylor Swift out loud?

Us. 
Yep guys, sing it with us: “I’m so sick of running as fast as I can
Wondering if I’d get there quicker If I was a man?”

Yea, but whats’ up?
Because apparently, women emang kudu run quicker untuk bisa catch up! sama men. Hal ini diketahui dari hasil studi yang dirilis United Nations Development Programme (UNDP) Senin kemarin, di mana ditemukan bahwa secara global, sembilan dari sepuluh orang masih punya bias gender terhadap kinerja perempuan. Jadi kayak, cewek dipandang less capable gitu dibanding cowok, khususnya di dunia kerja. Terus, yang mikir gini tuh ada sembilan dari sepuluh orang loh di dunia.

WAH ada gila-gilanya juga.
Makanya. Hasil penelitian ini of course menunjukkan adanya gender bias yang berakibat munculnya diskriminasi terhadap perempuan di dunia kerja. Jadi boro-boro deh tuh ya mewujudkan kesetaraan gender di ruang publik. Ga didiskriminasi aja udah syukur jadi cewek tu.

Sedih 🙁 but tell me more.
OK. Jadi studi ini menemukan bahwa setengah populasi dunia tuh masih percaya bahwa cowok bakal jadi pemimpin politik yang lebih baik daripada perempuan (yea well, look at us now?). Terus lebih dari 40% warga dunia juga percaya cowok bakal jadi business executive yang lebih baik dari pada perempuan, dan ini yang serem ni guys: 25% populasi menganggap gpp aka menjustifikasi cowok yang memukul istrinya. WOW banget kan.

Suraaam suram.
Bukan kamu doang kok yang mikir gitu. Sekjen PBB Antonio Guterres juga. Maret lalu, beliau udah bilang bahwa “kesetaraan gender tuh menghilang di depan mata kita” dan menambahkan bahwa kesetaraan gender baru bisa terwujud 300 tahun lagi, aka masih lama banget. Guterres juga waktu itu menyebut bahwa berbagai gender inequality ini menyebabkan banyak masalah global, kayak kematian ibu hamil, pernikahan anak, hingga anak perempuan yang ngga boleh sekolah hingga akses pendidikan mereka hilang (looking at you, Afghanistan).

Sedih banget sih ini.
Yep. Nah balik lagi ke gender inequality di dunia kerja, jadi selain jaraang banget ada perempuan yang jadi kepala pemerintahan/top executives/managerial level di dunia kerja, masalah ternyata ngga sampe situ aja, guys. Udah harus dapet diskriminasi, ditemukan juga bahwa perempuan dibayar lebih rendah dari pada laki-laki globally. Adapun rata-rata income gap-nya itu mencapai sekitar 30%, di mana artinya cowok menghasilkan 30% lebih banyak dibanding cewek untuk jenis kerjaan yang sama. Yang ngeselin nih, kondisi ini terjadi ketika pendidikan perempuan tuh udah makin tinggi. Jadi di 59 negara di mana perempuannya lebih berpendidikan dari laki-laki, si income gap sebesar 39% itu masih ada, guys.
 
Ini beneran mundur banget nih…
Ya ngga mundur semua, tbh. Ada juga kemajuan, misalnya, makin banyak negara yang memberikan maternity leave atau cuti melahirkan lebih lama kepada perempuan. Terus, cewek yang masuk workforce juga udah makin banyak, meskipun itu tadi, kalo di managerial level sih tetep banyakan cowok. Bahkan di politik nih guys, dari tahun 1950, proporsi pemimpin perempuan secara global cuma ada di 10% aja tu teruuus sampe sekarang. Jadi kayak Bu Mega, ya masuk di 10% itu.

HAHAHA OK paham. Anything else?
Meski mengsedih, tapi perubahan itu mungkin banget terjadi, guys. Masih menurut report UN tadi, disebutkan bahwa kalo mau mengubah gender bias ini, maka pihak yang paling punya pengaruh besar adalah pemerintah. Jadi start dengan pemerintah yang bikin kebijakan-kebijakan berperspektif gender, nanti society-nya ngikut tuh. Pelan-pelan biasnya bisa berkurang deh. Makanya penting banget ygy nyoblos orang yang peduli sama kita-kita perempuan tuh…