Persaingan Parpol Dalam Pemilu 2024

143

Who keeps manifesting, “We got this. Kita pasti bisa”?

Partai Politik.
Not gonna lie persaingan dalam Pemilu 2024 tuh beneran ngeri-ngeri sedap, guys. Partai Politik sampai sekarang juga masih mengatur strategi gimana caranya partai mereka bisa menang dan lolos ke parlemen DPR RI kan. But the thing is dalam survei Litbang-nya Kompas bulan ini, ada partai yang dinilai bisa make it through, ada juga yang nggak.

Wow tell me. 
Sure. Kayak yang udah-udah, menjelang Pemilu, suasana politik negeri +62 tuh kan bergejolak banget. Dari satu kejadian aja, elektabilitas sebuah partai politik tuh bisa banget naik dan bisa banget turun. Terus, menjelang Pemilu ini juga, berbagai lembaga dan institusi tuh rame-rame menggelar berbagai survei terkait elektabilitas ini, guys. Harapannya sih supaya kita para pemilih ini juga makin yakin sama pilihan kita nanti.

Kok kayak milih pacar…
Well, pretty much. Bedanya kalo pacar for forever, kalo ini buat lima tahun aja ehehehe. Anyway balik lagi ke survei guys, jadi salah satu lembaga yang melakukan penelitian adalah Litbang-nya Kompas. Adapun dalam survei yang dilakukan 29 April sampai 10 Mei kemarin, Kompas menemukan Partai Golkar punya tingkat popularitas tertinggi among partai politik lainnya, yaitu sebesar 86%. Kedua ada PDI-Perjuangan dengan 83,8%, terus partai-partai lain kayak Partai Demokrat, Partai Gerindra, dan Partai NasDem yang punya tingkat kepopuleran di rate 75-80-an persen.

Kalau elektabilitas tadi? 
Nah kalau soal elektabilitas, partai politik yang populer ini naik turun banget elektabilitasnya dalam beberapa bulan ke belakang. Tapi tiga teratas sih tetap dipegang PDI-Perjuangan, Partai Gerindra, dan Demokrat. Kita bahas satu-satu yah. Dalam survei ini, elektabilitas PDI-Perjuangan dan Partai Gerindra yang masing-masing udah mengusung capres tuh dinilai naik. Dari bulan Januari yang elektabilitasnya ada di angka 22,9%, Mei ini naik jadi 23,3%. Gerindra juga gitu, Dari yang cuma 14%, sekarang naik jadi 18,6%. That being said, dua partai ini sekarang ada di puncak elektabilitas secara konsisten dari Januari sampai sekarang.

Emang apa yang nggak konsisten?
Posisi Partai NasDem yang mengusung capres Anies Baswedan. Jadi partai Nasdem ini elektabilitasnya turun, dari yang sebelumnya 7,3% jadi 6,3%. Selain itu, partai politik yang menempati posisi ketiga juga nggak konsisten. Kalau Januari kemarin, yang menempati posisi ketiga dengan elektabilitas tertinggi tuh Partai Golkar, dan Demokrat ke empat. Nah sekarang, meskipun by number
Advertisement
 elektabilitas Demokrat turun, dari 8,7% ke 8%, tapi at the same time elektabilitas Golkar juga terjun bebas dari yang sebelumnya 9% jadi 7,3%. Menyikapi hal ini, Ketua DPP Partai Golkar, Dave Laksono bilangnya, “Ya udah, liat hasilnya aja ntar tahun depan.”

Aku suka pria percaya diri….
Wkwkwkwk. talking about confidence, masih dari survei ini, ada juga salah satu aspek yang sedikit banyak mempengaruhi kepercayaan diri partai politik, guys. Secara, Kompas tuh juga menilai parpol mana yang bisa lolos Pemilu dan berhasil tembus ke kursi DPR RI, mana yang nggak. Diketahui ada 12 partai yang diprediksi bakal gagal lolos ke DPR. Surprisingly, tiga di antaranya merupakan parpol yang kini di DPR.

Gimme all the details…
Kalau yang lolos yha partai-partai itu juga, guys. PDI-Perjuangan, Gerindra, Demokrat, NasDem, sampai Partai Kebangkitan Bangsa aka PKB. Beda dengan PKS, PAN, dan PPP yang 2024 nanti diprediksi nggak lolos sampai ke parlemen. Sisanya yha emang partai yang non-parlemen, kayak Perindo, Hanura, PBB, PSI, Partai Gelora, Partai Buruh, Partai Garuda, Partai Ummat, dan PKN. Nah menyikapi hal ini, PPP sih santai. Ketua DPP PPP, Achmad Badlowi bilangnya survei itu nggak jadi acuan utama dalam berpolitik. Pokoknya PPP committed bakalan berusaha sekuat tenaga biar bisa dapat dukungan masyarakat di Pemilu kedepannya.

Ok. Anything else I should know? 
Fyi did you know kalau dalam politik, elektabilitas dan popularitas yang tadi kita bahas tuh merupakan dua hal yang berbeda, guys? Iya, meskipun emang saling terkait, tapi sebenarnya yha jalan sendiri-sendiri juga mereka tuh. Kalau popularitas tuh kaitannya sama “Orang tahu dia atau nggak?” tapi kalau ngomongin elektabilitas, yha kaitannya sama “Orang bakal milih dia atau nggak?” Jadi sekarang pertanyaannya,  “Gimana caranya orang tahu kamu kalau kamu nggak populer?” Terus pertanyaan selanjutnya, “Kamu bakal milih dia apa enggak meskipun kamu tahu? Siapa tahu dia nggak layak”. Nah yang kaya gitu lho.
Advertisement