Kerusuhan Akibat Pertempuran Militer di Sudan

170

When conflict seems to know no ending…..

Now in Sudan.
Duh, bisa nggak sih pada tenang-tenang aja, gitu. Kali ini giliran Sudan yang mengalami kerusuhan gara-gara pertempuran kelompok militer dan paramiliternya yang pertama kali terjadi pada hari Sabtu kemarin, hingga akhirnya menewaskan ratusan orang dan melukai ribuan jiwa.

Hadeeee. Kenapa lagi deh?

Buckle, up. Now let’s dive in into Sudan’s caseOK, guys. So lately, ada pertempuran sengit yang terjadi antara militer dan kelompok paramiliter yang disebut Pasukan Pendukung Cepat (RSF). Ada dua tokoh utama nih di sini. Pertama, ada Jenderal Abdel Fattah al-Burhan yang jadi kepala militer SAF sekaligus presiden hasil kudeta. Kedua, ada wakilnya sekaligus pemimpin RSF, Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo atau yang dikenal sebagai Hemedti. Mereka berdua tuh awalnya kerja sama, lho, dengan bareng-bareng melakukan kudeta. Ibaratnya, kaya partner in crime gitu, deh. Tapi kalo ini bener-bener in crime, jadinya sih. WKWKWK.

Go on…
Setelah jadi partner in crime, mereka kemudian pecah kongsi dan jadi berselisih soalnya kan keduanya udah mulai rebutan kekuasaan, yang justru bikin Sudan makin rusuh. Yah, namanya udah mau ngerebutin kekuasaan, begitu deh jadinya. Sebenernya, perebutan kekuasaan di Sudan itu udah terjadi sebelum adanya pemberontakan yang menggulingkan Omar al-Bashir. Waktu Bashir lengser, upaya Sudan buat beralih jadi pemerintahan yang demokratis tuh terhambat terus, and the one that should be blamed is, again, masalah perebutan kekuasaan ini. Sebenernya, para diplomat di Khartoum, which is ibu kotanya Sudan, udah kasih peringatan sejak awal 2011 kalo pertikaian antara dua faksi militer ini tuh bisa pecah kapan aja.

Lah, terus kenapa akhirnya baru terjadi Sabtu kemarin?
Sebenernya, pertempuran itu akhirnya pecah setelah Sudan udah melewati berbagai ketegangan sebelumnya. I know what you’re thinkingCOMPLICATED. Banget. Soalnya, kalo ditelusuri lebih jauh, penyebab pertempuran itu bukan sekedar soal kedua pemimpin militer yang berebut kekuasaan aja, tapi juga karena belakangan warga sipil tuh menuntut banyaaaak banget hal ke pihak militer. Ada soal warga sipil yang mendesak militer buat menyerahkan kepemilikan mereka di bidang sektor pertanian, perdagangan, ada juga masalah warga yang menuntut keadilan atas kejahatan perang oleh militer dan sekutu dalam konflik Danfur pada 2003, ada juga masalah menuntut keadilan atas pembunuhan pengunjuk rasa pro-demokrasi pada Juni 2019. Belum selesai gengs, ada lagiii soal tuntutan keadilan bagi 125 orang yang tewas dalam aksi protes sejak kudeta pada 2021.

Okayy…
Terlepas dari itu semua, lokasi Sudan tuh emang bener-bener ada di wilayah rawan konflik. Bahkan, negara tetangga Sudan kaya Ethiopia, Chad dan Sudan Selatan juga kena dampak dari konflik di sana. Nah, yang bikin pertempuran akhirnya pecah hari Sabtu kemarin adalah ketika anggota RSF mulai ditugaskan di seluruh wilayah negara, mereka kemudian ditangkap karena dianggap ancaman oleh militer. Sebenernya, masih belom jelas sih siapa yang pertama kali melepaskan tembakan pada Sabtu pagi kemarin, but one thing for sure, tembakan itu bener-bener memperburuk situasi Sudan yang jauuuh dari kata kondusif.

Terus, kondisinya sekarang gimana?
Totally, chaos se-chaos chaosnya. Hingga berita ini ditulis, sedikitnya ada 270 korban tewas dan lebih dari 2.600 orang terluka akibat kerusuhan itu. WNI yang ada di sana juga bilang kalo kondisinya tuh ngeri banget. Ada jet tempur yang wara-wiri lah sampe ada rudal yang nyasar, dan beberapa ada yang menyasar ke beberapa rumah WNI di Khartoum. Korbannya juga nggak cuma warga sipil biasa aja, bahkan ada personel bersenjata yang menggerebek rumah staf PBB dan karyawan organisasi internasional lainnya di wilayah Khartoum juga. Lebih jauh, para tentara bersenjata itu juga katanya melakukan pelecehan seksual dan mencuri barang-barang termasuk mobil. Kebayang, kan ngerinya gimana?

Atut 🙁
Makanya. Nah even though ada penyangkalan soal serangan ke staf PBB, tapi serangan ini bener-bener nggak pandang buluguys. Soalnya, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken aja bilang kalo ada serangan yang dilakukan terhadap konvoi diplomatik AS. Terus, Duta Besar Uni Eropa untuk Sudan juga diserang di rumahnya. Bahkan, ada tiga pegawai World Food Program (WFP) yang dilaporkan tewas akibat serangan.


I heard Indonesia has a say…
Yep, Pemerintah Indonesia lewat Kementerian Luar Negeri sih udah ikut komentar soal hal ini, dan bilang kalo Indonesia ikut prihatin sama situasi di Sudan saat ini. Makanya, Indonesia juga menyerukan segera dilakukan penyelesaian konflik secara damai.

Where are we going from here?
You know what should be done in this situation? Yup, gencatan senjata. Sebenernya keduanya udah melakukan gencatan senjata sih, gengs. Tapiii, baru aja satu jam setelah gencatan senjata dilakukan, kedengeran lagi tuh ada tembakan senjata berat. EH NAMUUNN, baik pihak SAF maupun RSF nggak ada yang ngaku soal siapa yang melakukan tembakan itu, bahkan bilang “Kita sih pengennya tetep melanjutkan gencatan senjata, ya.”

Anything else?
Oh iya, salah satu dampak dari konflik yang terjadi ini, adalah kekurangan pasokan makanan, air, listrik, yang bikin mobilitas warga jadi terhambat. Bahkan, rumah sakit juga kehabisan pasokan medis kaya kantong darah, oksigen, obat-obatan dan perlengkapan bedah. Parahnya lagi, banyak banget warga Sudan yang masih terjebak di rumah mereka akibat pertempuran ini.