Butuh 300 Tahun Untuk Mencapai Kesetaraan Gender

438

Now everybody, let’s talk about: Gender equality.

Yang sadly, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres baru aja memberi peringatan bahwa kalo ngeliat kondisi sekarang, kesetaraan gender atau gender equality tuh butuh waktu sampe 300 tahun dari sekarang baru bisa tercapai.
 
Gilee lebih lama daripada w nulis skripsi.
Yep, and longer than your last relationship *wink*. Dalam pidatonya di hadapan Commission on the Status of Women Senin lalu, Guterres bilang bahwa di seluruh dunia, hak-hak perempuan tuh semakin disalahgunakan, diancam, dan dilanggar. Makanya, upaya kesetaraan gender itu ngga cuma diam di tempat, tapi juga “menghilang” di depan mata kita :(.
 
Speaking of gender equality… 
Before we talk further, it’s important for you to know what it is exactly. Kesetaraan gender adalah kondisi yang setara di mana laki-laki dan perempuan bisa mendapat kesempatan, hak, manfaat dan akses yang sama sebagai manusia. Keduanya bisa sama-sama berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan nasional, serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut.
 
Is it that important? 
Totally. Kalo menurut situs resmi United Nation Women, banyak banget kasus diskriminasi terhadap perempuan di dunia, yang membatasi hak mereka di ruang privat maupun publik. Salah satu kasus yang paling banyak terjadi adalah kekerasan berbasis gender. Berdasarkan data dari 87 negara, satu dari lima perempuan dan anak perempuan di bawah usia 50 tahun mengalami kekerasan fisik atau seksual oleh kerabat terdekatnya. Selain itu, masalah pernikahan dini juga jadi salah satu concern paling besar. Soalnya, ini tuh membuat 15 juta anak perempuan di bawah usia 18 tahun kehilangan masa kanak-kanak mereka, dan ini terjadi setiap tahun. Makanya, penting banget buat semua orang sadar soal kondisi di dunia.
 
:((
Balik lagi ke Pak Guterres, beliau kemudian menekankan desakannya kepada para kepala negara supaya melakukan tindakan nyata buat menutup kesenjangan gender, terutama di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi. Soalnya katanya, kontribusi penuh perempuan bakal sangat bermanfaat bagi dunia.
 
Of course.
Rite? Karena emang ketika perempuan punya kemerdekaan untuk turut berkontribusi di masyarakat, kesejahteraan negara itu juga meningkat, guys. Buktinya aja kalo menurut Laporan Kesenjangan Gender Global 2013, negara-negara kaya seperti Islandia, Finlandia, Norwegia dan Swedia memiliki tingkat kesenjangan gender paling rendah. Artinya, perempuan di sana bisa menikmati akses yang sama terhadap pendidikan, kesehatan, dan terlibat penuh dalam dunia politik dan ekonomi, dll. Hal ini kemudian berbanding lurus dengan the fact that negara-negara tadi memiliki tingkat ekonomi yang tinggi.

 
Meanwhile in the other parts of the world…
Menurut Indeks Kesetaraan Gender PBB 2020 dan Indeks Women, Peace and Security  (WPS) ada 10 negara dengan tingkat kesetaraan gender paling parah
Advertisement
. Pertama ada Afghanistan yang kini dipimpin oleh Taliban. Sejak Taliban took over the power, hak-hak dasar perempuan di sana otomatis dicabut, sampe mereka kuliah aja gabole, guys. Belum lagi masalah pakaian dan aturan untuk keluar rumah juga dibatasi. Finally, here’s a more chilling figure: 35 out of 100 women in Afghanistan mengalami kekerasan di tangan pasangan intim mereka. Let that sink in.
 
🙁
Selain Afghanistan, negara lain yang juga jadi sorotan karena ketimpangan gender equality adalah Suriah. Masalah gender di Suriah tuh sebenernya udah lamaaa banget. Sebelum perang pada 2011, pemerintah Suriah juga udah patriarki. Perempuan di sana nggak bisa ikut pemilu dan sedikit banget yang bisa bekerja. Terus, muncullah krisis yang berlarut-larut, bikin situasi di sana jadi makin buruk. Diketahui bahwa 75 dari 100 ribu perempuan Suriah tewas dalam kekerasan yang terorganisir. Selain Suriah ada juga Sudan Selatan, dimana budaya patriarki bikin mereka udah nggak bisa ikut campur soal urusan politik. Perempuan juga hampir nggak punya kekuatan dama pengambilan keputusan dalam rumah tangga. Terus, negara-negara lainnya yang juga jadi sorotan dalam isu serupa tuh ada Kongo, Chad, Sudan, Sierra Leone, Somalia, Afrika Tengah dan Pakistan.
 
Kalo di Indonesia gimana? 
Kalo dibandingin sama negara-negara ASEAN, Indonesia is quite bad. Berdasarkan penilaian Bank Dunia, Indonesia mendapat skor 70,6 pada 2023. Ini lumayan membaik sih dibanding tahun sebelumnya yang cuma dapet skor 64,4. Tapi, nilai Indonesia cukup tertinggal karena berada di peringkat ke-8 dari 11 negara ASEAN. Nah, kalo menurut Indeks Kesenjangan Gender Global 2020, Indonesia mendekati kesenjangan gender secara keseluruhan. Indonesia ada di peringkat ke-85 dari 153 negara, dengan skor 0,700. Masalah paling gede di Indonesia tuh di bidang pasar tenaga kerja dan pendapatan. Cuma 54,3 persen perempuan Indonesia yang berpartisipasi dalam pasar tenaga kerja, sementara laki-laki sebanyak 83,9 persen. Terus, penghasilan perempuan Indonesia juga cuma setengah dari perkiraan pendapatan laki-laki.
 
🙁 Anything else? 
Sebenernya, ada Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap 8 Maret, which is hari ini banget nih. Tujuannya adalah buat memperjuangkan hak-hak perempuan di seluruh dunia. Itu juga bermula dari unjuk rasa para kaum buruh perempuan di New York, AS pada 8 Maret 1857, 1907 dan 1909.
 
Happy International Women’s Day, everyone!
Advertisement