China Mengalami Tsunami Kasus COVID-19

257

Who’s still not over with COVID-19?

China.
Lagi-lagi, China mengalami tsunami kasus COVID-19, terutama setelah pelonggaran aturan COVID-19 beberapa waktu belakangan ini. Hal ini kemudian menyebabkan lonjakan kasus yang signifikan dalam sebulan terakhir.

Againnnn??
Yep. Di saat hampir seluruh masyarakat dunia udah mulai done sama ini virus, sampai hari ini, China tuh masih struggling parah sama COVID-19, guysOf course ini nggak terlepas dari kebijakan negaranya sendiri, which is Zero Covid Policy. China ambi banget mau menekan kasus Covid jadi nol, tapi justru mengorbankan warganya. Warganya nggak boleh kemana-mana, toko-toko banyak nggak boleh buka, gitu-gitu. Dan ini udah terjadi for a veryyyyy long time. Sampai itu warga jengah sendiri terus protes deh.

Didengerin tapi?
Didengerin tuh. Dari situ, lockdown dan segala aturan mulai dilonggarkan lah. Masyarakat udah mulai keluar rumah dll. Cuman ternyata, dengan adanya pelonggaran ini, justru jadi boomerang tersendiri buat China, guys. Hal ini karena China dinilai belum siap sama peraturan ini. Salah satunya karena vaksinasi buat lansia yang masih kurang. That being said, China mulai mengalami lonjakan kasus COVID-19 deh. Parahnya lagi, nggak cuman kasus positifnya yang meningkat tajam, tapi angka kematiannya juga.

Separah itu?
Well, dari rumah sakit sampe krematorium di seluruh negeri penuh banget sama pasien COVID-19. Data publik terakhir yang dipublish sama pemerintah China, pada 21 Desember mencatat ada 5.944 kasus COVID-19 baru. Tapi, beberapa pihak sih yakin kalo angka aslinya jauh dari jumlah kasus dan kematian sebenarnya. Yang bikin makin yakin adalah pemerintah China bahkan berhenti buat mempublikasikan jumlah kasus harian COVID-19 per Senin (26/12).

Go on. 
Terus nih ya, menurut laporan internal pemerintah, sebanyak 250 juta penduduk China juga terinfeksi COVID-19 dalam 20 hari pertama di bulan Desember. Angka ini tuh bocor gitu deh ke media dari catatan rapat internal para pejabat Kesehatan China. Presiden Xi Jinping pun akhirnya buka suara nih soal hal ini, guys. Doi sih bahasanya alus banget, bilang kalo pengendalian dan pencegahan COVID-19 di China tengah menghadapi situasi dan tanggung jawab baru. Yang actuallyyyyy, mungkin aja situasinya jauh lebih mengkhawatirkan dari itu.

Tapiiii… 
At the same time dengan kasus COVID-19 yang lagi menggila, China malah mencabut persyaratan karantina buat pelancong yang datang dari luar negeri mulai 8 Januari 2023. Terus, aturan soal karantina buat pasien positif dan contact tracing juga dihapus. Tapi, pelancong masih harus ikut tes COVID-19 sebelum tiba di China. Terus, China juga menurunkan penanganan COVID-19 jadi penyakit kelas B alias masuk kategori penyakit yang nggak terlalu parah. Bahkan, disamain kaya penyakit demam berdarah. China juga bakal menyebut COVID-19 sebagai infeksi.
Advertisement

Ebuset….
Nah tapi, meski kasus dalam negeri lagi tinggi-tingginya, banyak warga China yang berbondong-bondong pesen tiket buat jalan-jalan ke luar negeri. Hal ini terjadi setelah pemerintah mengumumkan kalo perbatasan bakal dibuka lagi. Of course hal ini bikin warga China langsung pengen jalan-jalan dong, secara mereka udah di-lockdown sampe tiga tahunan gitu. Tapi yhaa karena kasusnya lagi naik, mereka jadi menghadapi berbagai aturan pembatasan juga di negara tujuan.

For example, Japan. 
Jepang emang selama ini jadi salah satu tujuan paling popular buat turis China. Tapi, segera pemerintah setempat udah mengumumkan bahwa semua pelancong dari China harus menunjukkan hasil negative COVID-19 atau ikut karantina. Selain Jepang, India juga menegaskan kalo pelancong dari China harus menunjukkan tes negative COVID-19. Anyway, India tuh kan tetanggaan banget ya sama China. Jadi sebenernya, lonjakan kasus di China ini lumayan bikin pemerintah India ketar-ketir juga. Warga India bahkan juga kembali diminta buat pake masker lagi.


And United States as well…
Pemerintah AS juga ngeluarin aturan COVID-19 baru buat pelancong yang datang dari China. Syaratnya, pelancong yang datang harus nunjukkin bukti vaksin resmi dan ikut tes COVID-19 sebelum berangkat.

Anything else? 
Eh tapi, jangan mentang-mentang kasus yang melonjak terjadi di China, terus kita yang di Indonesia jadi santai santai aja. Soalnya, Ahli Epidemiologi dari Griffith University Australia, Dicky Budiman bilang kalo kasus COVID-19 di Indonesia bisa aja melonjak. Soalnya, pergerakan orang dari dan ke dalam negeri kan juga masih bebas dan nggak ketat kaya di awal pandemi. Pak Dicky juga bilang kalo sebaiknya lansia segera mendapatkan vaksinasi lengkap, sampe booster-nya. Soalnya, mereka jadi golongan paling rawan seandainya terinfeksi COVID-19.
Advertisement