Pembunuhan Satu Keluarga di Magelang

111

Let’s kick off the morning with the case of: Family murder….

In Magelang.
Belakangan ini kelakuan masyarakat +62 beneran bikin geleng-geleng kepala ygy. Tiap hari adaaa aja gitu kasus-kasus penuh plot twist terjadi di negeri ini. Kali ini, kita mau ngebahas satu keluarga di Magelang, Jawa Tengah, yang ditemukan tewas dibunuh Senin kemarin. Plot twist? Ada banget. Pelaku pembunuhan ini adalah anak kedua di keluarga itu, gengs.

HAH??? 
Ok jadi ceritanya gini, guys. Di daerah Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, ada sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak. Anak pertama perempuan umurnya 25 tahun berinisial DK, dan udah kerja di PT KAI di Yogyakarta. Terus anak kedua cowok, usianya 22 tahun berinisial DDS. The problem starts with this DDS boyguys. DDS, yang kemudian diketahui bernama Dhio Daffa Syadilla itu merasa nggak diperhatiin di rumah, terus dia juga merasa nggak nyaman dan tertekan karena ayah, ibu, dan kakaknya terus-terusan ngedesak doi supaya cari kerja.

Terus terus? 
Karena terus-terusan ada di situasi nggak nyaman dan bikin dia jengkel kayak gitu, Dhio pun langsung mengambil jalan pintas dengan nekat membunuh mereka bertiga, guys. Keluarganya sendiri. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah, Kombes Djuhandani Raharjo Puro dalam konferensi pers kemarin di mana setelah dilakukan proses penyidikan dan pemeriksaan terhadap Dhio. Dalam proses pemeriksaan itu, Dhio-nya sendiri udah ngaku kalau emang dia yang membunuh ayah, ibu, dan kakaknya, guys.

Gimana caranya?
Inhale, exhale. Mereka bertiga diracun sama Dhio. Well, setelah ketiga jenazah ini ditemukan, kan langsung dilakukan proses autopsi yah. Nah dari hasil autopsi tersebut, diketahui ada racun yang tergolong ganas dan mematikan buat manusia. Hal ini ketahuan dari tenggorokan sampai lambung korban yang mengalami luka bakar. Adapun luka bakar ini disebabkan oleh racun yang dikonsumsi korban. Iya, disampaikan oleh Kabid Dokkes Polda Jawa Tengah, Kombes Sumy Hastry, ada dugaan racun dalam dosis banyak (Sekitar 2-3 sendok teh) yang dicampurkan ke teh atau kopi korban, terus diminum sama mereka. Kenapa bisa nggak ketahuan, yha karena meskipun dosisnya banyak, racun ini nggak ngubah rasa dan warna teh atau kopi itu waktu kecampur tadi.

OMG…
Nah, kalau ngomongin racun yang tergolong ganas dan mematikan, kan jenisnya bisa macem-macem banget yah. Ada sianida kayak yang dipakai di kasus Jessica Wongso beberapa tahun lalu, ada juga racun tikus, dll. Nah, kalau di kasus ini, berdasarkan hasil autopsi dan sisa barang bukti di TKP, racun yang berhasil diidentifikasi sama petugas tuh adalah yang jenisnya arsen, guys. Cuman masih diperiksa lagi di Laboratorium Forensik buat kepastiannya. Untuk sekarang polisi juga udah mengamankan gelas dan sendok yang sebelumnya dipakai buat minum teh dan kopi ini.

Ok tell me more about this Dhio….
Sure. Dari penuturan Agus Kustiardo, kakak kandung si bapak, si Dhio ini belakangan ini emang suka hambur-hamburin duit, guys. Di luar sifatnya yang emang suka overlap. Nah tapi kalau menurut tetangga, Dhio tuh dikenal pergaulannya bagus, guys. Keluarganya juga dikenal harmonis, nggak neko-neko, nggak pernah ada masalah sama orang. Makanya pas denger kabar Dhio ditangkap polisi, para tetangga tuh pada heboh langsung lemes gitu. “Rasanya nggak percaya,” kata para tetangga. Karena menurut tetangga si Dhio ini udah kerja, daftar di kereta api.

…..
But it is what it is kan. Setelah melakukan gelar perkara, mengumpulkan bukti, dll, kemarin banget nih, Dhio ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan ketiga anggota keluarganya. Ia dijerat dengan pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup. Other than that, pihak keluarga juga udah menyerahkan kasus ini sepenuhnya kepada pihak kepolisian, biar proses hukum tetap berjalan, sekalipun pelakunya adalah keluarga sendiri.


Got it. Anything else I should know?
Btw sebelum polisi mengarah sama si Dhio sebagai pelaku pembunuhan dan ditetapkan sebagai tersangka, emang terdapat beberapa kejanggalan dari kasus ini, guys. Pertama, soal kondisi jenazah di TKP. Biasanya, kalau ada korban meninggal karena keracunan, bakalan ada sisa muntahan di sekitaran situ. Tapi yang ini nggak ada, clear. Terus, waktu ketiga jenazah mau diautopsi, si Dhio sempat nolak nggak mau padahal keluarga yang lain udah setuju. Tapi yha tetep dilangsungkan dong proses autopsinya. Makanya dari sini polisi udah merasa janggal, dan polisi pun dari situ keep an eye on him.