Ferdy Sambo & Istri Akhirnya Minta Maaf, Virus Pernapasan Menyerang Anak Di AS, Penggunaan Plat RF Akan Diperketat, Twitter Akan Beri Aturan Akun Centang Biru Berbayar

54

Good morning

Rise and shine, hustlers! It’s Wednesday so as always, we also bring you some updates on podcast. You know, the Sambo drama is still on going, so we get you up to speed on that, RSV in children and another Elon thing with Twitter. Scroll down…

Who’s finally meeting each other?

Orang tua Brigadir Yosua dan Ferdy Sambo-Putri Candrawathi.
Yep, kedua pihak ini akhirnya dipertemukan. Kemarin banget nih, di Sidang lanjutan Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi atas dakwaan pembunuhan berencana. Selain pertama kali ketemu, di sidang kemaren itu, terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi akhirnya minta maafguys.

FOR REAL??
For real. Di sidang kemarin, Sambo dan Putri kan akhirnya ketemu untuk pertama kali sama kedua orang tua Brigadir Yosua, Samuel Hutabarat dan Rosti Simanjuntak itu kan. Dalam kesempatan itu, Sambo akhirnya minta maaf ke pihak keluarga, gengs. In his words, Ferdy Sambo bilangnya gini: “Bapak ibu Yosua, saya sangat memahami perasaan bapak dan ibu. Untuk itu saya mohon maaf.” Lebih jauh, dia juga bilang dia sangat menyesal karena nggak bisa kontrol emosi dan pikirannya nggak jernih di hari kejadian. Terus, di situ Sambo juga jelasin kejadian saat itu tuh bisa kejadian gara-gara dia marah banget atas perbuatan Yosua ke istrinya. That being said, Ferdy Sambo bilang dia bakal bertanggung jawab secara hukum dan bilang segala keterangan yang disampaikan orang tua Yosua memang beneran, makanya nggak ada keberatan juga yang diajukan Ferdy Sambo, nggak kayak sebelum-sebelumnya.

I see…
Hal yang sama juga diungkap Putri Candrawathi di kesempatan yang sama juga. Waktu dikasih kesempatan sama hakim buat ngomong, Putri bilang kalau dia dan suaminya nggak pernah pengen ada kejadian kayak gini terjadi di keluarga mereka. Kejadian ini juga membawa luka yang dalam buat keluarganya, katanya. Lebih jauh, Putri juga minta maaf sama kedua orang tua Brigadir Yosua, khususnya buat si ibu. In her words, Putri bilangnya: “Sebagai seorang ibu, saya memahami bagaimana dukanya kehilangan seorang anak. Maka dari itu, saya mohon maaf atas peristiwa ini. Saya siap menjalani sidang ini dengan ikhlas dan ketulusan hati, agar seluruh peristiwa yang terjadi cepat terungkap.”

Hold on.
 Kok ada orang tua Brigadir Yosua sih?
Yha karena sidang lanjutan kemarin itu digelar dengan agenda mendengarkan keterangan para saksi. Adapun saksi yang dihadirkan kali ini adalah keluarga Brigadir Yosua Hutabarat, gengs, mulai dari ayah, ibu, tante, pacar, sampai kuasa hukum keluarga juga. Sama kayak sidangnya Bharada E minggu lalu di mana orang-orang ini juga yang dimintai keterangan sebagai saksi (read the full story here). Nah, kali ini mereka datang lagi atas undangan Jaksa Penuntut Umum deh.

So, how did it go?
Of course, mixed feelings banget gengs. Secara ini emang kali pertama orang tua Brigadir Yosua dipertemukan dengan Ferdy Sambo dan juga Putri Candrawathi. Jadi kayak, “Oh, there you are!” gitu kira-kira. Terus, jadi momen kenalan lah ini pihak berdua. Pak Samuel Hutabarat bahkan sempat bilang ke majelis hakim supaya Ferdy Sambo buka maskernya. “Mohon izin Yang Mulia, dibuka dulu maskernya biar saya kenal,” katanya gitu. Lalu di situ Hakim Wahyu Iman Santosa minta Sambo buka maskernya dan diiyain sama yang bersangkutan. Abis itu baru deh Pak Samuel mengenali Ferdy Sambo sebagai atasan anaknya di kepolisian.

Wkwkw menarik… 
Well, secara teknis, Pak Samuel dan Bu Rosti emang tahu dan kenal sama dua orang ini, secara semasa hidupnya, anaknya emang sering cerita tentang Ferdy Sambo dan juga Putri. Dalam penuturannya kemarin, Pak Samuel bilang kalau lagi pulang ke Jambi, Yosua sering cerita Sambo dan Putri tuh selalu baik sama dia, sehat-sehat juga. Terus waktu ditanya apakah Yosua pernah cerita soal ancaman atau kejanggalan, Pak Samuel bilang nggak pernah. Yosua selalu cerita yang baik-baik, katanya. Makanya pas denger kabar itu anaknya tewas di tangan Ferdy Sambo dan Putri, “Kami seperti disambar petir,” kata Pak Samuel gitu.

Can’t imagine the pain….
The pain yang dirasakan Samuel Hutabarat dan keluarga juga dirasakan ketika mereka menerima jenazah Yosua yang dikirim Polri ke Jambi. Yep, di persidangan kemarin itu Pak Samuel juga dimintai keterangan terkait apa aja yang terjadi ketika pihak keluarga menerima jenazah sampai akhirnya dimakamkan, termasuk fakta peti jenazah Yosua nggak boleh dibuka sama polisi yang ngantar, semuanya diceritain. In that sense, waktu pertama kali peti jenazah datang, Kombes Leonardo Simatupang yang bertugas waktu itu nyodorin berita acara serah terima jenazah yang kudu ditandatangani pihak keluarga.
 
Go on…
Dari keterangannya, peti jenazah nggak boleh dibuka sebelum  Pak Samuel selesai tanda tangan. Yha nggak terima dong beliau. “Dibuka dulu. Kalau tidak dibuka, saya tidak mau. Itu anak saya apa bukan? Kalau bukan anak saya gimana?” Dijawab sama Kombes Leo, “Masa bapak nggak percaya yang di dalam peti itu anak bapak? Ada luka tembaknya lo, nih bukti visumnya,” gitu guys kira-kira. Dari ceritanya pak Samuel, Kombes Leo terus-terusan mencegah peti jenazah dibuka dengan berbagai alasan. Terus pas akhirnya dibuka dengan syarat cuman buka dua kancing, disitulah pihak keluarga ngeliat luka yang ada di tubuh Brigadir Yosua, guys.

Speaking of
 luka tembak…
Hal ini juga dibahas di persidangan kemarin. Ketika akhirnya pihak keluarga ngeliat jenazah, diketahui bahwa ada luka-luka lain selain luka tembak di situ, guys. Dijelasin satu-satu sama Pak Samuel. Ada lubang di bahu, dan ada biru-biru di rusuk kanan-kiri. Lebih jauh, leher sebelah kanan juga ada lubang. Jari kelingking juga hampir putus. Kebayang nggak? Jangan dibayangin deh, gengs ehehehe. Makanya Pak Samuel yakin banget ini nggak cuman ditembak, tapi dianiaya. Sampai nyawanya nggak tertolong. Makanya di momen itu, mumpung ada Ferdy Sambo-nya di situ, Pak Samuel nanya, “Jadi bagaimana kebalikannya peristiwa ini. Pak Ferdy Sambo jadi saya, saya jadi Pak Ferdy Sambo. Dengan begitu sadis, nyawa anak saya ataupun nyawa anak dia saya ambil secara paksa di rumahnya sendiri, bagaimana perasaan dia.”

:)))))
Ungkapan yang sama juga diutarakan oleh saksi selanjutnya, Rosti Simanjuntak. Bu Rosti juga sama desperate-nya dan sama kehilangannya, guys. “Kalau anak bapak ibu yang disiksa bagaimana?” kata Bu Rosti gitu.  In her words, Bu Rosti bahkan sampai bilang begini ke Putri Candrawathi: “Sudah terbunuh anakku, ibu. Sudah tercapaikah keinginan kalian? Sudah puaskah dengan perbuatan kalian kepada anakku yang sudah merampas nyawa anakku dengan sadisnya dengan komplotanmu itu? Sadarlah bu, terlalu kejam. Terlalu kejam seorang ibu,” katanya gitu.

Can’t agree more…
Tapi ya gitu. Dalam sidang kemaren, kuasa hukum Ferdy Sambo, Arman Hanis kan menjalankan tugasnya kasih-kasih pertanyaan ke Pak Samuel dan Bu Rosti kan. Nah, the thing is, pertanyaan yang dilontarkan Arman Hanis tuh disebut nggak relevan sama materi sidangnya, guys. Di situ dia nanya apakah Pak Samuel dan Bu Rosti ini tinggal bersama atau terpisah selama berumah tangga. Mulai keliatan bingung tuh Pak Samuel di situ. Kenapa jadi ke sana larinya pertanyaan bapak, ditanya gitu kan. Berputar di situ sampai Pak Samuel kesal sendiri. “Kalau kami nggak serumah, nggak mungkin ada anak pak.” Di-ulti gitu kan. Riuh lah ruang sidang. Nah pertanyaan Arman Hanis ini kemudian ditengahi sama hakim, terus akirnya disampaikan lah tuh kalau dia cuman pengen tau yang membesarkan Yosua siapa. Dijawab sama Pak Samuel, yang besarin yha saya dan istri, berdua, katanya.

Lucu banget sih jujur…. 
Now enough with orang tua Yosua, we’re moving on to Vera Maretha Simanjuntak, pacarnya Brigadir Yosua. Di sidang kemarin itu, keterangan Vera most likely sama kayak keterangan sebelumnya di mana Vera jelasin Yosua sempat cerita kalau dia diancam. Nah cuman pas kemarin, penjelasan Vera lebih spesifikguys. Dan penjelasan Vera mengarah ke Kuat Maruf yang mengancam mau bunuh Yosua. Yep, in case you remember, Vera nge-refer to kejadian di rumah Magelang tanggal 4 Juli itu di mana Kuat ngelarang keras Yosua nyusul ke atas. “Berani kau naik ke atas, kubunuh kau,” Vera ceritanya gitu, guys.

:((( Now wrap it up…
Btw talking about Kuat Maruf, sidang kemarin itu emang sengaja buat terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi aja, guys. Yep, jadi dalam kasus ini emang masing-masing terdakwa dibagi jadi tiga sidang: Terdakwa Putri Candrawathi-Ferdy Sambo jadi satu, terdakwa Brigadir Ricky Rizal-Kuat Maruf jadi satu, sama Bharada Richard Eliezer sendiri. Sidang untuk Terdakwa Ricky Rizal dan Kuat Maruf bakal menjalani sidangnya hari ini.

What’s making headlines in the US?

Respiratory Syncytial Virus alias virus pernapasan yang udah makin menyebar di tengah anak-anak sana.

WHAT?? 
Yep, jadi minggu lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika Serikat mengumumkan bahwa angka penderita RSV meningkat tinggi, dan kebanyakan anak yang terkena RSV masih berusia 2 tahun.
 
Waduh…
Nah gejalanya sih sebenernya nggak begitu mengkhawatirkan, kaya pilek, nafsu makan berkurang, batuk, bersin dan demam. Biasanya, gejala itu bertahan satu sampe dua minggu dan biasanya sembuh dengan obat-obatan dengan istirahat yang cukup. Tapi buat beberapa anak, terutama yang masih bayi, RSV bisa berbahaya. Mereka bisa aja dehidrasi, sulit bernapas atau berpotensi ke penyakit yang lebih serius kaya bronkiolitis atau pneumonia.
 
Ok. Tell me more.
Jadi, walaupun sampe sekarang masih belum ada kasus rawat inap atau kematian yang dilaporkan untuk penyakit ini, tapi emang para dokter di AS bilang kalo terjadi peningkatan kasus yang belom pernah terjadi sebelumnya. Kenaikan ini sangat signifikan, sampe bikin RS buat anak-anak di sana kewalahan.
 
Should we be worried? 
Sebenernya yang bikin khawatir itu kalo yang terinfeksi adalah anak-anak di bawah usia dua tahun atau lansia, atau mereka yang punya penyakit bawaan kaya jantung atau paru-paru kronis. So far juga masih belom ada pengobatan khusus untuk RSV, atau pun vaksin khusus. Satu-satunya cara ya dengan obat-obatan, dan istirahat yang cukup.

Anything else?
But parents still should be careful karena RSV ini bisa menular lewat batuk atau bersin. Jadi, cairan yang menyebar lewat gagang pintu atau tangan orang lain itu berpotensi banget menularkan virus. Adapun langkah pencegahannya sih sama kayak Covid-19, kayak jaga kebersihan, menutup hidung ketika lagi batuk, and keep sanitized aja, ygy.

When you’ve heard a lot about…..

Plat RF.
Yep, plat nomor polisi RF sekarang ini emang heboh banget diomongin orang, seiring penggunaannya yang bakal diperketat sama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, guys. Iya, jadi nggak semua orang bakal bisa pake.

Plat RF tuh apa?
Well, plat RF tuh emang plat yang relatif spesial dan rahasia yang supposed to dipasang di kendaraan-kendaraan kedinasan kayak mobil polisi atau pejabat lainnya, gengs. Cuman sayangnya, beberapa waktu belakangan ini pelat RF ini sering salah tempat. Iya, banyak banget masyarakat yang kendaraannya pake plat RF ini dan sombong banget kalo di jalan. Terus, it gets worse ketika mereka pasang lampu strobo. Jadi, orang ngiranya yha mereka petugas yang lagi urgent jadi minta jalur prioritas gitu.

Kok mereka bisa dapet itu plat?
Yha beli. Sama kayak kalau beli plat nomor cantik 666 and stuff like that, plat RF ini juga bisa dibeli. But the thing is, bakal ada perbedaan mana plat RF yang beneran untuk pejabat, mana yang beli. Bedanya, kalau plat RF yang beli tuh dua tiga digit aja, kalau pejabat dll tuh bakalan empat digit. But, kalau di jalan kan sebenarnya nggak terlalu ke-notice kan dia punya empat digit atau tiga digit. Yang orang liat pertama kali pasti huruf ujungnya, si RF ini yang orang anggap sebagai mobilnya polisi. Nah makanya, buat balikin citra Polri, hal ini bakal dibenahi, guys.

Dibenahi gimana?
Dibenahi supaya pengelompokkan pelat RF ini sejalan aja sama apa yang udah diatur dalam Peraturan Kapolri Nomor 3 Tahun 2012 tentang Penerbitan Rekomendasi STNK dan TNKB. Nah dalam aturan ini, ada deh tuh pengelompokan RF buat pejabat negara di atas eselon II, RFP tuh buat Polri, RFD buat pejabat TNI AD, RFU buat pejabat TNI AU, sama RFL buat pejabat TNI AL. Selain itu, ada juga plat RFS, buat para pejabat sipil, sampai  RFQ, RFO, sama RFH yang diperuntukkan buat pejabat sipil setingkat di bawah eselon II, gitu-gitu.

I see. Did anyone say anything?
Yep, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyebut pihaknya mendukung keputusan Kapolri buat membenahi aturan Plat RF ini, guys. Supaya itu tadi, nggak ada lagi kebingungan di masyarakat mana yang beneran polisi, mana yang beneran pejabat, mana yang masyarakat sipil. Lebih jauh, Pak Dasco juga menyebut dia yakin langkah ini udah dipikirin mateng-mateng sama Polri. Secara rencana plat RF ini mau dibenahin udah ada dari jaman Kapolri terdahulu, nah baru sekarang deh coba direalisasikan.

Got it. Anything else?
Btw plat RF tuh nggak selamanya jadi ‘raja’ di jalan tau, guys. Awal tahun kemarin aja, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya udah melakukan tilang atas ratusan kendaraan berplate RF, gengs. Pelanggarannya yha beragam, mulai dari Ganjil Genap, langgar rambu lalu lintas, pake strobo dan sirine, dst.

If you want to get verified on Twitter…

It might be no longer free, guys. 
Yep, ada-ada aja ygy kebijakan yang dirilis oleh Elon Musk since dia took over Twitter’s HQ. Kemarin, Twitter dikabarkan lagi nimbang-nimbang untuk ngerubah sejumlah aturan termasuk kasih harga buat orang-orang yang mau subscribe centang biru alias jadi verified accounts. So, selebgram udah nggak usah nungguin followers lagi kalo mau verified nih, karena kamu bisa tinggal bayar aja.
 
Even it’s not official yet, rencananya subscription itu bakal senilai $19.99 per bulan atau sekitar Rp 312 ribu. Tapi belum jelas juga, gimana nasib akun-akun yang udah verified duluan jadi harus berbayar apa engga. Pun dengan harganya yang mungkin banget berubah.
 
Fyi guys, sebenernya sistem kaya gini nggak baru-baru banget sih buat AS.  Di sana, ada yang namanya Twitter Blue, yang harganya cuma $4.99 per bulan tapi hanya berlaku di empat negara termasuk AS. Masih belom jelas sih perubahan apalagi yang bakal diumumin sama Musk, tapi yang jelas doi punya banyak rencana yang bakal diterapin di kantornya yang baru itu.
 
So, let’s see…

“Saya remah-remah rengginang.”
 
Wkwkwkw gitu guys kata politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Johan Budi yang juga merupakan inisiator Dewan Kolonel loyalis Puan Maharani. Kata Mas JB, mau ada internal PDIP yang sukanya ke Ganjar Pranowo, ya itu hak setiap orang dalam menentukan pilihan. Termasuk juga hak dirinya buat mendukung Puan Maharani. In his words, “Kalau bahasa Jermannya ini saya termasuk remah-remah rengginang di partai ini, tapi kan boleh dong punya kesukaan.”
 
Now singing: Do you ever feel, like a rengginang…

Announcement

Thanks to Nathasya & Ms Kim for buying us coffee today!
 
(Mau ikutan nraktir tim Catch Me Up! kopi? Here, here…just click here Dengan mendukung, kamu nggak cuma beliin kopi yang menemani kami nulis, namun kamu juga udah men-support kami untuk terus berkarya dan membuat konten-konten berkualitas yang imparsial dan bebas dari kepentingan. Thank you so much!)

Catch Me Up! recommendations
Calling all the people pleasers, here’s how to learn to say no.