Tragedi Kanjuruhan

100

Here’s your A to Z recap on: Tragedi Kanjuruhan….

Today is a sad, sad day.
Because we will talk about your full recap on: Kerusuhan yang terjadi dalam pertandingan sepak bola. Yep, weekend kemarin, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, right after Arema FC VS Persebaya tanding, ada kerusuhan yang menewaskan at least 174 orang dan menjadi tragedi paling mengerikan Nomor 2 sepanjang sejarah sepak bola dunia.

WHATTT?
Oke we’ll get you go through this. Jadi ceritanya tuh gini, guys. In case you missed it, sekarang itu lagi on going sebuah top tier kompetisi sepak bola namanya Liga 1 Indonesia. Adapun pesertanya terdiri dari 18 klub diantaranya kayak Persib, Persija, Bali United, Persik Kediri, PSM Makassar, Persebaya, dan Arema FC. Kompetisi ini awalnya fine-fine aja, guys. Yha kayak pertandingan pada umumnya aja. Ada yang menang, ada yang kalah. Sabtu kemarin juga gitu, waktu Arema FC tanding sama Persebaya di Stadion Kanjuruhan Malang, Persebaya menang dengan skor 3-2.

Okay….
Terus, keadaan jadi chaos ketika right after wasit niupin peluit tanda pertandingan selesai, belum sempat pemain tuh salam-salaman, beberapa suporter Arema FC langsung pada turun ke lapangan, dan ngejar para pemain yang masih di sana. Alasannya, yha karena mereka kecewa dan nggak bisa menerima kekalahan Arema, guys. Dari sini, polisi yang berjaga pun siap siaga melerai dan melakukan upaya pengalihan dan pencegahan biar orang-orang ke-distract dan nggak bertindak lebih jauh. Cuma ya gitu, emosi mereka semakin terpancing sampe lemparin benda-benda tumpul. Polisi pun langsung melepaskan gas air mata. Pokoknya chaos banget lah, guys.

Ya ampun….
Nah dengan keadaan begitu, orang-orang yang rame ada di situ pada sibuk menyelematkan diri kan. Nggak liat kiri-kanan, mereka berusaha menyelamatkan diri tapi yang terjadi malah orang-orang banyak yang keinjek :(. Terus, penonton yang di tribun juga gitu. Karena gas air mata yang ditembakkan polisi, mereka jadi sesak nafas, kehabisan nafas, dan pingsan, bahkan meninggal. Di luar juga sama chaos-nya. Para suporter diduga merusak dan membakar sebanyak delapan mobil polisi yang terparkir di sana. Sampai berita ini diturunkan, terhitung udah ada sebanyak 174 korban meninggal dunia, di mana sebagian besar dari mereka berusia belasan tahun, 20an tahun, bahkan ada yang masih balita, guys. Terus, pihak keluarga yang anaknya, kakaknya, adiknya datang ke Stadion Kanjuruhan kemarin juga masih mencari keberadaan keluarga mereka, karena belum ditemukan sampai sekarang.

Oh noooo :(((((
Makanya ini disebut sebagai tragedi paling mematikan nomor 2 dalam sejarah sepak bola dunia. Di tahun 1964 lalu, di Lima, Peru, ada juga kejadian serupa di mana Timnas Peru waktu itu cetak gol jadi 1-1 dianggap nggak sah sama wasitnya (Yang dianggap condong ke Argentina). Marahlah pendukung Timnas Peru. Mereka turun ke lapangan dan menganiaya wasit itu. Akibatnya, sebanyak 354 orang meninggal dunia. The thing is, nggak ada yang menduga kejadian kayak gini terjadi di Indonesia, guys. The pain, the trauma, semuanya.

Okay….
Nah, tragedi ini tuh ngga cuma bikin merinding karena banyaknya jumlah korban yang melayang, tapi juga soal penggunaan gas air mata di pertandingan sepak bola yang ternyata menyalahi aturan FIFA. Iya, nggak kayak unjuk rasa di mana pasukan pengamanan lazim dan sah-sah aja melancarkan gas air mata, nah kalau di pertandingan sepak bola, sesuai sama yang tertuang dalam Regulasi FIFA, Bab III Tentang Stewards pasal 19, penggunaan senjata api dan gas pengendali massa itu dilarang, guys.
 
Really?
Yep, makanya Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menduga ada potensi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) oleh polisi dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan ini gengs. Menurut Ketua YLBHI Muhammad Isnur, penggunaan gas air mata yang engga sesuai prosedur mengakibatkan suporter di tribun berdesakan mencari pintu keluar. Akibatnya, orang-orang jadi mengalami sesak napas, pingsan, dan akhirnya saling bertabrakan dan terinjak-injak. Padahal udah jelas penggunaan gas air mata dilarang sama FIFA.

Terus kenapa masih dipake?

Well, dalam keterangannya, Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta menjelaskan penggunaan gas air mata itu pihaknya lakukan karena massa yang ada di stadion itu udah crossed the line banget dan udah sangat anarkis sampai membahayakan banyak pihak, terutama para pemain dan officials-nya. Meanwhile, dari sisi PSSI yang in charge sama event ini, lewat konferensi pers Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi bilangnya kejadian yang terjadi kemarin itu cepet banget. Makanya keputusan pun harus dibuat dengan cepat, termasuk penggunaan

gas air mata ini, gitu.
 
……
Nah, atas kejadian ini, Presiden Joko Widodo yang udah mendengar berita ini pun langsung meminta Liga 1 2022/2023 dihentikan sampai prosedur pengamanan pertandingan ditingkatkan. Lebih jauh, Pak Jokowi pun udah minta PSSI, Kemenpora, dan PT LIB selaku event organizer acara ini buat bergerak cepat menindaklanjuti masalah tewasnya ratusan orang di Stadion Kanjuruhan itu. Terkait kejadian ini, Menpora Zainuddin Amali pun juga langsung melakukan investigasi secara 360 derajat. Nggak cuman peristiwanya aja, tapi juga semua hal yang berkaitan sama peristiwanya, termasuk penggunaan gas air mata tadi.

Do we know who’s responsible for this?
So far, belum. Makanya penting banget pemerintah ngadain investigasi secara menyeluruh, selain biar sepak bola Indonesia nggak terpuruk lagi,  kita harus tahu siapa yang harus bertanggung jawab atas kejadian ini. Kalau udah ketemu, yha pihak yang bertanggungjawab tadi akan dikenakan sanksi sesuai sama aturan dan hukum yang berlaku di tanah air. Anyway, talking about sanksi, Liga 1 udah dihentikan selama satu minggu sesuai permintaan Pak Jokowi. PSSI pun udah menjatuhkan sanksi Arema nggak boleh jadi tuan rumah lagi sampai kompetisi Liga 1 2022/2023 selesai diadain, gengs. In general, Indonesia sendiri terancam sanksi dari FIFA yang salah satunya adalah batal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 mendatang.
 
Got it. Anyone saying anything? 
Yep, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bilangnya tragedi ini nggak cuma jadi duka buat provinsinya aja, tapi juga buat Indonesia. Dalam keterangannya, Bu Khofifah juga mengkonfirmasi bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Kota Malang bakal memberikan santunan buat semua korban, baik yang wafat dan luka berat. Di akhir pernyataannya, Bu Khofifah menyebut Tragedi Kanjuruhan ini harusnya dijadiin pelajaran, biar nggak ada lagi kejadian kayak gini.
 
Anything else?
FYI guys, tragedi di Kanjuruhan ini mendapatkan perhatian global, di mana banyak klub sepakbola maupun pemain yang menyatakan langsung rasa belasungkawa melalui media sosialnya. FIFA sendiri menyebut bahwa kejadian ini adalah “hari gelap bagi sepakbola” dan menyatakan bahwa FIFA dan komunitas sepakbola dunia lainnya mengirimkan doa kepada para korban baik yang tewas atau pun luka-luka.
 
Tidak ada pertandingan sepak bola yang sebanding dengan nyawa. Deep condolences untuk seluruh keluarga korban yang terdampak dalam tragedi ini.. Our hearts, our thoughts, and our prayers go out for you.