Singapura & Thailand Mengalami Gelombang Covid-19 XBB

50

When you think that COVID-19 is over…

Hold. That. Thoughts.
Karena sorry to inform you, but a new variant of omicron was just detected. Yep, Jadi ada dua negara di Asia Tenggara yakni Singapura dan Thailand yang lagi brace themselves with the new omicron variableEverybody, meet: subvariant Omicron, XBB.

What happened in Singapore? 
Kalo di Singapura, mereka baru aja mengalami gelombang COVID-19 yang disebabkan oleh subvariant Omicron, XBB dan diperkirakan bakal mencapai puncaknya pada pertengahan November nanti. Menkes Ong Ye Kung sendiri udah bilang kalo varian ini mendominasi kasus COVID-19 di sana. XBB sejauh ini udah menyumbang 54 persen kasus lokal sejak 3 sampai 9 Oktober.
 
Wowww….
Yep, Mr. Ong juga bilang bahwa jumlah varian XBB udah ngalahin subvarian lainnya. Selain itu, nggak cuma subvariant XBB yang bikin kasus COVID-19 di Singapura naik, tapi juga reinfeksi. Mr. Ong bilang kalo 75 persen dari populasi di Singapura udah kena reinfeksi. Sejauh ini, Singapura sendiri udah mencatat 9.087 kasus COVID-19 baru pada Jumat (14/10). Pada puncaknya nanti di Bulan November, Mr. Ong memprediksi jumlah kasus harian bisa berada di 20 hingga 25 ribu pasien per hari.

What about Thailand?
Di Thailand sendiri sebenernya belum ditemukan subvariant Omicron XBB, tapinya nih gengs, minggu lalu tuh petugas bandara di Hong Kong melakukan random tests dan menemukan tiga orang warga Thailand yang baru nyampe sana mengidap varian baru tersebut. Makanya, kalo di Thailand statusnya masih “variant of concern”.

Got it. Now tell me more about this new XBB.
Jadi, Subvarian XBB, atau yang juga dikenal sebagai BA.2.10 adalah kombinasi dari varian BA.2.75 dan BJ.1 Omicron yang pertama kali terdeteksi di Singapura dan Amerika Serikat pada bulan Agustus. Sejauh ini sih, para ahli udah sepakat kalo varian XBB ini lebih menular daripada subvarian lainnya. Bahkan, Presiden Asia Pacific Society of Clinical Microbiology and Infection, Paul Tambyah bilang bahwa meskipun data pastinya belum ditemukan, tapi varian XBB ini emang kemungkinan lebih menular karena jumlah infeksi yang meningkat secara signifikan.
 
Noooo….
Tenang gengs, jangan  keburu panik dulu, karena para ahli juga bilang bahwa infeksi yang ditimbulkan nggak lebih parah daripada subvariant lainnya. Meski begitu, epidemiolog Dicky Budiman bilang bahwa meski tingkat keparahan dan kematiannya udah jauh berkurang dibanding varian sebelumnya, namun tetep aja kalo kena tuh agak ganggu karena bisa menurunkan produktivitas. Selain itu, ada juga resiko kamu kena long Covid kalo terus-terusan terinfeksi kembali. Kalo kena, maka beberapa organ di tubuh kamu bisa mengalami kerusakan long-term.

Anything else now?
Di Indonesia sendiri, Pak Dicky menyebut bahwa bisa aja nih sebenernya varian XBB udah masuk Indonesia mengingat mobilitas yang tinggi antara warga Indonesia dan Singapur. However, emang agak kurang nih kita dalam mendeteksi varian baru karena lemahnya early detection dan tracking. Jadi emang kitanya aja yang perlu hati-hati ygy.