Predisen Jokowi Panggil Ratusan Petinggi Polri Ke Istana Negara, KDRT Leslar Buat Heboh Netizen, Kesimpulan Dari TGIPF Tentang Tragedi Kanjuruhan, Populasi Satwa Liar Di Dunia Anjlok 69%

60

Good morning

Rise and shine! Whoa it’s Monday again and to get you ready to start the day, here we got the recap of all the headlines from last week and over the weekend. Yep, from the police to Leslar, we got everything covered! Let’s catch up!

First stop, we’ll start with Jokowi’s invitation….

To ratusan petinggi Polri.
Yep. Salah satu headline yang rameee banget dibahas di hari Jumat kemarin adalah ketika Pak Presiden Joko Widodo memanggil ratusan petinggi Polri mulai dari level Kapolres, Kapolda, sampai pejabat Mabes Polri untuk datang menghadap ke Istana Kepresidenan. Pemanggilan ini jadi most awaited dan most anticipated banget secara saat ini juga lagi banyak banget kisruh dan blunder yang terjadi di Polri ygy. So people be like, “Finally!!” gitu.

Background pls.
You got it. Well, jadi sejak kasus terbunuhnya Brigadir Yosua Hutabarat aka Brigadir J yang rupanya didalangi oleh eks Kadiv Propam Polri, Ferdy Sambo, masyarakat kan jadi punya trust issue sama kepolisian dan institusi Polri yah. Logikanya, anggota sendiri terbunuh aja penanganannya lama banget dan berbelit, apalagi kalau orang lain yang terbunuh. Terus selang nggak berapa lama, terjadilah Tragedi Kanjuruhan yang bikin nama Polri semakin tercoreng. Secara match itu kan diamankan sama polisi tapi nyatanya sebanyak 132 orang meninggal. Dan masih banyak lagi lah blunder-blunder di Polri ini, guys. Makanya di sini polisi ini dirasa perlu dapat arahan nggak cuman dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, tapi juga dari Presiden Joko Widodo.

Jadi mereka dikumpulin semua di Jakarta gitu ya?
Yang pejabatnya aja. Jenderal Listyo bilangnya ada sebanyak 559 orang anggotanya yang hadir di Istana Kepresidenan Jumat kemarin, guys. Adapun 559 orang ini terdiri dari 24 pejabat utama Mabes Polri, 33 orang Kapolda, dan 400 Kapolres. Yang menarik adalah, dalam undangannya, Presiden meminta ratusan anggota Polri yang hadir untuk nggak bawa handphone, nggak bawa tongkat, nggak pake penutup kepala, dan cuma boleh bawa buku dan pulpen. Nggak cuma itu, untuk level Kapolres juga nggak boleh bawa kendaraan pribadi alias harus pake bis yang udah disediakan.

Wkwkw menarik. Terus di istana mereka kena semprot? 
Yha nggak dong. Despite momen pemanggilan ini pas banget sama kepercayaan publik yang udah turun banget sama institusi Polri, di sini nggak ada adegan Jokowi marah-marah atau anggota Polri kena semprot gitu, guys. (Well, arahan ini diselenggarakan tertutup sih). HOWEVER, disampaikan oleh Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional aka Kompolnas, Benny Mamoto, emang nggak ada yang marah-marah di sini, gengs. Cuma aja, Pak Jokowi menekankan supaya kepercayaan publik tadi harus supaya cepat naik, gitu.

Gimme all the details…
Ada beberapa poin penting dari arahan Pak Jokowi Jumat kemarin, guys. Terutama yang related to gimana caranya kepercayaan publik bisa cepet naik. We’ll get you through this: Pertama, disampaikan oleh Jenderal Listyo, Jokowi kasih instruksi adanya reformasi internal Polri, mulai dari yang instrumental sampai yang kultural. Semuanya kudu dievaluasi dan dibenahi lah. Terus, Presiden juga kasih arahan supaya anggota Polri tetap stick sama tugasnya sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Hence, anggota Polri kudu jaga solidaritas mereka. Harus bantu Pemda setempat mengawal kebijakan pemerintah di lingkup kabupaten/kota, provinsi, dan nasional, plus kudu bantu jaga tahun politik bareng sama TNI in terms of stabilitas keamanan.

Is that it?
Belum selesai, beb. Lebih jauh, Pakde juga ngebahas soal gaya hiduo ‘mewah’ mereka sekalian kasih arahan supaya harus lebih sensitif sama masyarakat yang lagi kesusahan. Gaya hidup mewah itu harus direm kata Pak Jokowi, supaya nggak menimbulkan kecemburuan sosial ekonomi buat masyarakat. Apalagi di era media sosial kayak gini where orang mudah banget upload ini itu pamerin barang-barang mewah dan semua orang bisa liat. In his words, Presiden Jokowi menyebut, “Jangan gagah-gagahan karena punya mobil bagus atau motor gede yang bagus. Hati-hati saya ingatkan, hati-hati.”

Judi online nggak dibahas nih?
Dibahas dong EHEHEHE. Apalagi dalam konteks ini, gaya hidup mewah dan keterlibatan pejabat Polri dalam judi online tuh beneran bikin kepercayaan publik jadi turun banget kan. Makanya, merespons hal ini, Jenderal Listyo Sigit bilangnya segala bentuk pelanggaran, bakalan ada langkah-langkah selanjutnya terkait buat memberantasnya dan ada tindakan tegas juga, katanya gitu. Termasuk pemberantasan judi online, pemberantasan narkoba, dan hal lain yang sungguh meresahkan masyarakat.

Talking about narkoboy…
We’re talking about pengedaran narkoba yang dilakukan anggota Polri. Now everybody meet: Irjen Teddy Minahasa, Kapolda Jawa Timur yang sekarang resmi jadi tersangka peredaran narkoba. Ceritanya tuh gini, Kapolda Jawa Timur sebelumnya Irjen Nico Afinta tuh kan dimutasi yah sebagai buntut dari kasus Kanjuruhan. Nah sebagai penggantinya, Kapolri lalu menunjuk Irjen Teddy ini. Tapi belum sempat dilantik, divisi Propam Polri udah menangkap beliau atas kasus pengedaran narkoba jenis sabu. Terus, dari gelar perkara yang diselenggarakan kemarin, Polda Metro Jaya akhirnya menetapkan Irjen Teddy sebagai tersangka.

Geeezz…
Akibatnya, pelantikan dan serah terima jabatan Irjen Teddy yang rencananya bakal digelar minggu ini pun harus batal, guys. Karena Kapolri udah membatalkan perintah mutasinya, dan jabatan dia sebelumnya sebagai Kapolda Sumatera Barat juga udah dinonaktifkan. Irhen Teddy sekarang dimutasi ke Pelayanan Masyarakat Polri sambil menunggu progres kasus ini berjalan. In that sense, Polri melalui divisi Propam bakalan mendalami kasus ini lebih lanjut terkait pelanggaran etik dengan ancaman pemecatan anggota kepolisian. Nggak cuman itu, karena udah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya, dia dijerat Pasal 114 Ayat 2 subsider Pasal 112 ayat 2, juncto Pasal 55 UU No. 35 Tahun 2009 dengan ancaman hukuman mati dan hukuman minimal 20 tahun penjara.

Got it. Anything else?
Balik lagi ke Presiden Joko Widodo dan Polri. Akhir-akhir ini hubungan Pak Jokowi dan Jenderal Listyo emang banyak dipertanyakan publik, guys. Terutama waktu upacara HUT TNI beberapa waktu lalu di mana waktu presiden jalan, beliau salaman sama Panglima TNI Jenderal Andika. Nah sementara Kapolri Jenderal Listyo yang ada di sebelah Panglima di-skip sama Jokowi nggak disalamin. Makanya makin banyak spekulasi deh tuh di antara netizen. Terus, merespons hal ini, Kepala Sekretariat Presiden (soon to be Gubernur DKI) Heru Budi Hartono menyampaikan hubungan keduanya baik-baik aja. Sebelum upacara udah disalamin kok itu Kapolri, kata Pak Heru gitu. Terus, meskipun nggak salaman, Pakde tetep negur Jenderal Listyo kok. Jadi yha jangan dikompor-komporin lagi ceunah.

Now, it’s time to dive in to: Kekerasan Dalam Rumah Tangga…

On Leslar.
Trigger warning: As stated above, this content is about domestic violence, which could be unsettling for some readers. Proceeds with cautions!
 
I’m ready. Tell me. 
You must have heard the news, rite? Over the past few weeks, netizen +62 tuh heboh banget ngomongin Leslar aka Lesti Kejora dan suaminya, Muhammad Rizky aka Rizky Billar. Pasangan yang sebelumnya dikenal bucin banget ini heboh gara-gara laporan Lesti terkait Kekerasan Dalam Rumah Tangga aka KDRT, guys. Terus, ketika kasusnya udah berjalan di kepolisian, Lesti tiba-tiba mencabut laporannya dan setuju buat damai.

DAMAI???
Iya, guys. Jadi dalam laporan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga aka KDRT yang dilakukan Rizky Billar terhadap Lesti, Jumat kemarin, Lesti diketahui mencabut laporannya di Polres Metro Jakarta Selatan. Dalam kesempatan itu, Lesti juga menyatakan kalau dia dan keluarga udah memaafkan perbuatan Billar. Alasannya, adalah anak. In her words, Dede Lesti bilangnya gini: “Alasannya, anak saya. Karena mau bagaimanapun, suami saya adalah bapak dari anak saya dan beliau juga sudah mengakui perbuatannya dan meminta maaf pada saya dan keluarga.”

Terus terus? 
Terus, as a result dari Lesti, who sebagai korban dan pihak pelapor yang mencabut laporannya, Polres Metro Jakarta Selatan pun langsung menangguhkan penahanan terhadap Rizky Billar, guys. Padahal Billar statusnya udah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan selama 20 hari. Oya, for context, dalam kasus ini, Rizky Billar dijerat Pasal 44 Ayat (1) UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT dengan ancaman lima tahun penjara. Tapi, belum sempat divonis, itu Leslar Couple udah menyatakan berdamai dengan sejumlah perjanjian bermaterai, guys.

Apa ajatu?
Salah satunya adalah Billar janji nggak bakal lagi enteng tangan alias nggak bakal lagi mengulangi perbuatannya. Well, disampaikan langsung oleh Rizky Billar waktu keluar dari tahanan, Billar bilangnya dia cinta banget sama istrinya dan selalu pengen jadi pelindung buat keluarga. Lebih jauh, Billar juga udah minta maaf dan ngaku kalau dia KHILAF melakukan KDRT. Khilaf, guys. Terus, Billar juga berharap rumah tangganya bisa semakin kokoh dengan adanya kejadian ini. In his words, Billar bilangnya begini: “Mudah-mudahan dengan adanya kejadian ini, rumah tangga kami semakin kuat, semakin kokoh, dan tidak terpengaruh terhadap hal apapun dan oleh siapapun.” Dia juga mau jadi ayah yang baik buat anaknya dan suami yang bertanggung jawab untuk Lesti, katanya gitu.

Wait. I’m clueless here.
 Kejadian awalnya emang gimana ya?
In case you’re puzzled, jadi ceritanya tuh gini guys. Akhir bulan lalu Lesti Kejora didampingi kuasa hukum dan keluarganya tuh datang ke Polres Metro Jakarta Selatan. Lesti yang saat itu publik tahunya adem ayem jadi bertanya-tanya dong, “Ada apa nih? Ngapain nih Lesti ke Polres?” gitu kan. Nah terus, setelah dikonfirmasi sama polisi, pihak Polres Metro Jakarta Selatan akhirnya nge-spill kalau Lesti datang itu buat bikin laporan terkait Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang dialaminya dengan pelaku si Rizky Billar ini, guys.

Terus terus…
Masih dari keterangan polisi, kekerasan itu terjadi pada tanggal 28 September kemarin, guys. Di mana diceritain Billar mencekik dan banting Lesti ke kasur. Terus narik tangan Lesti ke kamar mandi dan dibanting ke lantai. Nggak selesai di situ, kekerasan ini terjadi nggak cuman sekali, guys. Ada juga bukti lain berupa video yang nunjukin Billar ngelempar bola biliar ke arah Lesti, guys. In case you’re wondering why he did what he did, yep, tindakan KDRT ni dilatar belakangi oleh isu perselingkuhan yang Billar lakukan, guys.

So, he is cheating and wished 
rumah tangga bisa semakin kokoh??
EHEHEHE iya. Dikonfirmasi langsung oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Endra Zulpan, Lesti tuh sempat minta penjelasan soal perselingkuhan ini dan minta dipulangin ke rumah orang tuanya, gengs. Billar-nya nggak terima, emosi, terus end up melakukan KDRT.  Tapi ya gitu deh, ketika bergulir di kepolisian, selang 16 hari, laporan KDRT ini dicabut, dan Billar yang tadinya udah ditahan pun sekarang udah keluar dan menjalani wajib lapor aja, guys.

I see. Any words?
Yep. Komnas Perempuan menilai alasan Lesti mencabut laporan KDRT-nya ini perlu dicek lebih jauh lagi, gengs. Apakah emang karena kesadaran pribadi atau ada pengaruh dari orang lain. Apalagi kalau udah dicabut begini, bakalan muncul opini publik bahwa pelaku KDRT tuh bisa nggak dipidana padahal korban udah babak belur. Secara Lesti sampai sekarang masih masa pemulihan, sampai masuk rumah sakit bahkan. Gimana caranya biar kasus sejenis ini nggak kejadian lagi di masa depan gitu lo. Lebih jauh, dijelaskan oleh Komisioner Komnas Perempuan, Siti Aminah, siklus KDRT tuh emang udah template-nya begitu, guys. Doi minta maaf, terus damai, dan kalau nggak dicegah, KDRT ini bisa keulang lagi. Malah bisa semakin liar dia melakukan kekerasan. Makanya penting banget buat minta bantuan pihak ketiga biar siklus ini bisa diputus.

Ok. wrap it up…
Well, tindakan Lesti yang mencabut laporan ini kemudian jadi bahan omongan netizen, guys. Banyak banget yang kecewa sama tindakan Lesti, di mana Lesti yang merupakan publik figur dan sosok panutan masyarakat jadi menganggap KDRT adalah hal yang biasa dan wajar dilakukan. Takutnya ini diikutin sama orang luas kan. Makanya ada sebuah petisi yang memboikot Lesti buat nggak lagi muncul di TV dan nggak lagi dijadikan panutan masyarakat.

Who’s finally finished their job?

TGIPF.
Well, in case you missed it, TGIPF stands for Tim Gabungan Independen Pencari Fakta, yang dibentuk Presiden Joko Widodo khusus untuk mengusut Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 132 orang di Malang awal bulan kemarin. Sekarang, TGIPF udah menyelesaikan tugas mereka dengan kesimpulan dan rekomendasi yang siap buat di-spillguys.

Spill the tea!!
Sesuai arahan awal Pak Jokowi sama tim yang diketuai oleh Menko Polhukam Mahfud MD ini, mereka kudu kerja mengusut kasus ini dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Ada deadline-nya, guys. Yaitu within one month. Nah mulai bekerja lah TGIPF di situ kan, mereka melakukan berbagai investigasi, sampai akhirnya ketemu nih benang merahnya. Benang merah tragedi ini kemudian di-compile ke dalam satu laporan di mana di laporan itu terdapat kesimpulan dan rekomendasi dari tim dan Jum’at kemarin, laporan itu resmi diserahkan ke Presiden Joko Widodo, guys.

Kesimpulannya adalah…
.
Ada beberapa poin di sini, guys. Kita bahas satu-satu yah. Get ready. First of all, dalam laporan itu, ditulis bahwa Tragedi Kanjuruhan ini bisa jadi ‘Tragedi Kanjuruhan’ karena PSSI dan stakeholder lain yang terlibat di sini tuh nggak profesional, nggak paham sama tugas dan perannya masing-masing, cenderung acuh sama peraturan dan standar yang ada, dan saling lempar tanggung jawab ke pihak lain. Parahnya lagi, attitude dan etos kerja kayak gini tuh udah terjadi selama bertahun-tahun, di sebagian besar match sepak bola yang diselenggarakan, makanya butuh reformasi besar-besaran deh sepak bola Indonesia tuh.

Terus…
Masih dari laporan itu, TGIPF menyimpulkan aparat yang bertugas di sana emang nggak ngikutin tahapan pengamanan dan penanganan kayak yang tertuang dalam Perkapolri Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindak Kepolisian. Di situ kan ada tahapannya, tahap satu pencegahan, tahap dua perintah lisan, tahap tiga kendali tangan kosong lunak, tahap empat kendali tangan kosong keras, tahap lima baru senjata tumpul termasuk gas air mata, terus tahap enam senjata api kan. Nah, di kejadian kemaren, aparat langsung secepat kilat loncat ke tahap lima dan bikin situasi jadi chaos deh. Parahnya lagi, para aparat yang nembakin gas air mata kemarin itu belum pernah dapat pembekalan sebelumnya, guys.

HEMM…

Selain itu, the fact that cuman dua pintu yang kebuka out of 14 pintu di Stadion Kanjuruhan tuh akhirnya bikin situasi jadi makin tambah parah di mana itu adalah tanggung jawabnya pengelola stadion. Not to mention pihak Arema FC dan PSSI yang harusnya bisa ngawasin keamanan dan make sure pertandingan lancar, juga gagal. Makanya dalam laporan itu, Ketua PSSI dan seluruh jajaran Komite Eksekutif disebut baiknya mundur aja, sebagai bentuk pertanggung jawaban moral atas 712 korban, di mana 96 luka berat, 484 luka ringan, dan 132 meninggal dunia. In that sense, PSSI tuh adalah pihak yang seharusnya bertanggung jawab, guys. Nggak cuman secara moral, tapi juga pidana, karena udah lalai menyebabkan kematian yang sungguh mengerikan.


Mundur….
For context, Beberapa waktu lalu, waktu TGIPF manggil orang-orang PSSI buat rapat di Kantor Kemenko Polhukam, PSSI tuh defensive banget dan terus bilang kalau Tragedi Kanjuruhan itu bukan salah mereka, based on regulasi PSSI yang bilang segala bentuk kecelakaan tuh sepenuhnya tanggung jawab panitia pelaksana, bukan mereka. Lebih jauh, Anggota TGIPF, Akmal Mahari menyebut pihak PSSI tuh malah bilangnya pemerintah mending nggak usah terlalu ikut campur ranahnya PSSI, intervensi itu namanya, kata mereka gitu.

HMMMMMM…
Iya makanya, TGIPF juga bingung guys, masalahnya adalah, PSSI dipanggil di situ tuh semata-mata cuman biar dapet aja nih solusinya dari Tragedi Kanjuruhan ini. Biar ada hukum yang jelas dan seadil-adilnya buat 132 korban tewas itu, dan biar sepak bola Indonesia juga bisa berbenah. Balik lagi ke laporan timnya Pak Mahfud, PSSI tuh nggak bisa terus berlindung di balik regulasi mereka, tapi gimana caranya memprioritaskan kepentingan publik. Jadi nggak cuman organisasinya aja gitu. Talking about organisasi, dalam hal ini TGIPF juga bilangnya harus ada keterbukaan informasi di dalam PSSI, finansialnya gimana, lembaga yang kerjasama apa aja, dll.

Oke. Anything else?
Btw dengan diserahkannya laporan TGIPF ini ke Presiden Joko Widodo, meaning selesai sudahlah tugas TGIPF ini, guys. Tapi meskipun begitu, TGIPF belum dibubarkan. Since reformasi dan transformasi sepak bola juga masih harus dilakukan kan. Fyi sampai sekarang Liga 1, Liga, Liga 3, dan kompetisi sepak bola lain di bawah PSSI tuh masih dilarang sama pemerintah. Pokoknya sampai ada perubahan signifikan dan PSSI nunjukin kesiapan mereka mengelola lagi kompetisi sepak bola, baru deh larangan itu dicabut.

Our wildlife populations are decreasing 🙁Yup. Can we get everybody’s attention pleaseee?

Sad banget nih guys. Kamu harus tahu bahwapopulasi satwa liar di dunia ini jumlahnya udah berkurang, jatoh, anjlok sampe sekitar 69%. Adapun pengurangan ini diitung dari tahun 1970 sampai 2018. Nahhh mau tau ga penyebabnya apa? Tentu karena mereka suka ghosting kayak gebetan kamu… ga deng, tapi apa lagi kalo bukan karena ulah manusia. Yep, dalam laporan bertajuk Living Planet Report 2022, disebutkan bahwa penurunan populasi satwa liar ini terjadi gara-gara perubahan iklim, keanekaragaman hayati yang mulai hilang, dan eksplotasi berlebihan terhadap hewan dan tumbuhan. Bukti terbesarnya adalah yang terjadi di Amerika Latin dan Karibia, yang menunjukkan penurunan regional terbesar dalam populasi rata-rata sebesar 94%. Nggak cuma itu, sekarang ini satu juta tumbuhan dan hewan udah mengalami kepunahan, di antaranya adalah sekitar 1-2,5% mamalia, burung, reptil, ikan dan amfibi. Bahkan, hewan yang kurang dikenal kaya lumba-lumba sungai merah muda Amazon yang juga mengalami penurunan jumlah.
 
Adapun penurunan jumlah terbesar yang dialami terjadi pada spesies air tawar, dengan populasinya yang menurun sampai 83%. Laporannya menyebut bahwa hal ini bisa terjadi karena habitat mereka rusak dan banyaknya aktivitas manusia membuat migrasi para ikan-ikan itu terganggu. Menurut direktur WWF Marco Lambertini, udah lampu merah banget nih, di mana habitat kita ancur-ancuran karena ulah manusia. Buktinya, penurunan populasi hewan liar ini mencapai 2/3 secara global dan terjadi hanya dalam waktu kurang dari 50 tahun. Makanya, diperlukan upaya radikal untuk menghindari kerusakan lebih jauh dan jangan sampe kenaikan suhu global mencapai 1,5 derajat. Otherwise, biodiversitas kita bakal makin ancur. Hiks…

“Sarang pungli, sarang korupsi.”
 
Wow wow wowww gitu guys isi coretan yang terpampang nyata di dinding Mako Polres Luwu Sulawesi Selatan kemarin. Jadi coretannya tuh terpampang di dinding kantor polisi dengan menggunakan cat semprot aka pilox. Nah menurut Kapolres Luwu AKBP Arisandi, pelaku vandalismenya adalah anggota Polres Luwu sendiri.
 
Now you know who has the same thought as you…

Announcement


Thanks to Someone for buying us coffee today!

(Mau ikutan nraktir tim Catch Me Up! kopi? Here, here…just click here Dengan mendukung, kamu nggak cuma beliin kopi yang menemani kami nulis, namun kamu juga udah men-support kami untuk terus berkarya dan membuat konten-konten berkualitas yang imparsial dan bebas dari kepentingan. Thank you so much!)

Catch Me Up! recommendations

In case you need some guides about taking a nap… look no further.