Kasus COVID-19 Di China Masih Meningkat

52

What is rising other than the sun?

COVID-19 in China. Yup kasus COVID-19 di China lagi-lagi masih meningkat, terutama di kota-kota besar kaya Shanghai sama Shenzhen setelah masa liburan.

Whaaaat?
Yep, Jadi kasus infeksi COVID-19 di China belakangan ini dilaporkan meningkat to the highest level since August. Nah, peningkatan ini tuh terjadi setelah masa liburan Golden Week, yang ketika itu banyak orang melakukan perjalanan domestik. Menurut info terakhir sih, pihak berwenang nemuin lebih dari dua ribu kasus infeksi lokal baru pada 10 Oktober kemaren, dan itu tuh yang terbesar sejak 20 Agustus 2022. Gara-gara peningkatan kasus itu terjadi setelah masa liburan, banyak kasus yang ditemuin di tempat-tempat wisata dan tempat-tempat yang banyak turisnya.

OMG…
Makanya kan. Gara-gara takut kejadian lockdown gede-gedean kaya bulan April lalu, otoritas berwenang di Shanghai bilang kalo pemerintah bakal meningkatkan pengujian. Bahkan sampe dua kali seminggu. Terus, turis-turis yang mau masuk tempat wisata dan hotel juga dicek secara lebih ketat lagi.

Padahal mereka lockdown mulu ya…
Yoi. Fyi guys, COVID-19 di China is still a thing. Bahkan, 36 kota di China masih nerapin lockdown. Misalnya aja di Shenzhen, varian Omicron lagi gencar-gencarnya di sana. Bahkan, kasus lokalnya meningkat sampe lebih dari tiga kali lipat. Terus, di kota barat laut Xian, yang ngelaporin lebih dari 100 kasus, hingga pihak berwenang akhirnya nutup sekolah dan banyak ruang publik lainnya.

Then? 
Actually, beban kasus COVID-19 China masih terbilang kecil kalo dibandingin sama negara-negara lain. Apalagi, aturan yang diterapin sama pemerintah China ketaaat banget karena mereka memberlakukan zero covid policy. Karena kebijakan inilah, tiap ada kasus dikit maka pemerintahnya langsung lockdown. Hal ini karena mereka khawatir epidemi ini bakal menyebar dan nggak habis-habis.

OK. Anything else? 
Aturan soal pencegahan COVID-19 ini diumumin beberapa hari menjelang kongres Partai Komunis yang akan dimulai pada 16 Oktober, di mana Xi Jinping diperkirakan bakal berkuasa jadi pemimpin lebih lama lagi. Jadi, analis bilang kalo aturan ketat tersebut sifatnya sementara aja gara-gara prioritas utamanya tetap menjaga situasi menjelang pertemuan penting itu.