Gas Air Mata Di Tragedi Kanjuruhan

64

Gas air mata at Tragedi Kanjuruhan

Which everyone keeps talking about.
Yoi. Tragedi paling paling mematikan nomor dua sepanjang sejarah sepak bola dunia ini emang udah 11 harian, guys. But the grief, the pain, and everything are still here. Termasuk berbagai question marks yang dari kemaren udah kita bahas juga still here and there. Nah, pelan-pelan, seiring berjalannya waktu, akar masalah from A to Z-nya kasus ini juga mulai kebongkar, guys. Termasuk tentang penggunaan gas air mata yang menyebabkan banyak korban meninggal dunia.

Tell me.
Sure. As we all know, match Arema FC VS Persebaya dalam Liga 1 yang berlangsung di Stadion Kanjuruhan itu kan berujung jatuhnya korban jiwa. Hal ini karena, kalau menurut aparat sih, mereka yang bertugas perlu segera meredam emosi supporters itu as fast as they can, salah satu caranya adalah dengan penggunaan gas air mata yang kemudian dipertanyakan banyak pihak. Yep, kalau kamu invested ngikutin tragedi ini, kamu pasti khatam bahwa gas air mata ini kena spotlight yang begitu gede. Nggak hanya karena penggunaannya yang dilarang FIFA, tapi juga karena gas air mata yang digunakan malam itu udah kadaluarsa.

WHATTT???
Iya. Adapun yang pertama kali speak up tentang masalah ini tuh Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam. Disampaikan langsung oleh Cak Anam, pihaknya dapat informasi kalau gas air mata yang digunakan di Stadion Kanjuruhan tuh diproduksi tahun 2016 dan seharusnya udah kadaluarsa tahun 2019 lalu. Makanya Komnas HAM pun beranggapan gas air mata ini punya peran yang cukup signifikan dalam tragedi ini, since udah kadaluarsa tadi.

Terus terus?
Tapi belum bia dipastikan legit kan. Masih berupa kecurigaan aja awalnya. Adapun kecurigaan ini terus berlanjut sampai diperiksa sama tim gabungan bentukan Jokowi, Tim Gabungan Independen Pencari Fakta. Salah satu anggota mereka, Rhenald Kasali mengungkap gas air mata yang supposed to meredam agresivitas massa, tapi kali ini kok… Mematikan? Gas air mata yang dipake di sana tuh beda gitu kalau kata Pak Rhenald, guys. Awalnya korban nggak ngerasa apa-apa, eh sehari dua hari setelahnya mata mereka langsung menghitam dan memerah. Makanya kecurigaan kadaluarsa pun jadi makin kuat dan sampel gas air mata itu pun dibawa ke lab buat diperiksa, gengs.

I believe Polri has a say….
You know what? Jeng jeng… Dalam keterangannya, pihak Polri mengaku kalau gas air mata yang digunakan emang udah kadaluarsa, guys. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Kadiv Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo dalam konfereni pers hari Senin kemarin. HOWEVER, Irjen Dedi bilangnya justru kalau udah kadaluarsa, kandungan zat kimia yang ada di dalam situ jadi berkurang, kemampuannya juga menurun. Jangan disamain sama makanan yang kalo kadaluarsa jadi ngerusak kesehatan, gas air mata konsepnya nggak gitu. In that sense, Irjen Dedi bilangnya even udah kadaluarsa, ga air mata ini nggak berbahaya, guys.

HAH GIMANA??
Masih dari pernyataan Irjen Dedi, berdasarkan hasil penelusuran penyidik, ratusan korban yang tewas dan luka-luka dalam Tragedi Kanjuruhan itu bukan karena gas air mata, tapi karena kekurangan oksigen (?????): Mereka yang desak-desakan, berusaha keluar dari stadion itu at one time, bahkan ada yang terinjak, makanya sampai mengakibatkan kekurangan oksigen dan meninggal. Lebih jauh, Irjen Dedi juga menyebut keterangan para ahli di mana gas air mata tuh nggak ada yang sampe menyebabkan kematian. Hal ini juga selaras sama keterangan dokter spesialis yang menangani korban Kanjuruhan, nggak ada satu pun korban meninggal akibat gas air mata. Semuanya pure karena kekurangan oksigen.

Tapi tuh… Gimana ya jelasinnya?
Easy, we got you. Balik lagi ke keterangan TGIPF tadi, Pak Rhenald bilangnya Polri tuh udah melakukan penyimpangan dan pelanggaran karena udah nembakin gas air mata yang udah kadaluarsa. Terus, Polri tuh harus inget kalau mereka tuh bukan polisi yang basisnya militer. In fact, mereka adalah civilian police aka polisi rakyat yang harusnya patuh sama Hak Asasi Manusia.

HEM. Anything else?
Well, balik lagi ngomongin korban meninggal. Kemaren tuh kan Presiden Joko Widodo sempat terbang langsung ke Malang buat ngeliat kondisi lapangan secara langsung. Selain visit ke Stadion Kanjuruhan dan melakukan evaluasi di sana, beliau juga menjenguk korban luka-luka Tragedi Kanjuruhan yang dirawat di rumah sakit. Nah, salah satu korban yang dijenguk Pak Jokowi tuh namanya Helen, perempuan berusia 25 tahun yang dari keterangan dokter, terdiagnosa punya banyak trauma di luar kepala, perdarahan dalam perut, dan sepsis aka infeksi luas. Kemarin banget nih, Helen dinyatakan meninggal, guys. Korban meninggal Kanjuruhan pun bertambah menjadi sebanyak 132 orang.