Dugaan Obat Pemicu Gagal Ginjal

65

When Ayah Bunda in the entire country are getting concerned….

Due to Dugaan Obat Pemicu Gagal Ginjal.
Yoi, ayah bunda kudu waspada nih. Gagal ginjal akut yang sekarang lagi rame banget menjangkit anak-anak usia di bawah lima tahun itu makin meluas aja, guys. Terus, over the weekend kemarin, Menteri Kesehatan akhirnya nge-spill berbagai fakta terbaru dari kasus ini, termasuk jenis obat yang diduga kuat jadi pemicunya.

Tell. Me. Everything.
 All right. Jadi kayak yang pernah kita bahas kemarin, dalam beberapa waktu terakhir, kasus gagal ginjal akut ini terus meningkat ygy.  Adapun lonjakan kasusnya tuh terjadi dari bulan Agustus kemarin, dari yang awalnya 131 kasus, terus bertambah lagi jadi 152 kasus. Nggak cukup di situ, kasus gagal ginjal akut yang mostly menyerang anak usia di bawah lima tahun ini terus meningkat sampai di angka 206. Nah puncaknya, hari Jumat minggu lalu, dalam konferensi pers-nya, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin menyebut kasus gagal ginjal akut udah mencapai 241 kasus dan tersebar di 22 provinsi di Indonesia.

Whoaaa that’s huge…
Huge indeed. Terus, selain makin meluas, penyakit ini juga bisa ganas banget sekali kena ke orang, guys. Terbukti sama satu kasus gagal ginjal di Depok, Jawa Barat. Jadi ada satu anak berusia 3 tahun  yang hari Kamis mengalami demam dan pilek, terus dikasih obat sirup penurun panas dan pilek sama orang tuanya. Sempat enakan tuh dia, nah pas hari Sabtu, kondisinya drop lagi sampai muntah-muntah, kata ibunya. Dibawa ke dokter, diresepin obat lagi, tapi tetep nggak ada progres. Dibawa ke UGD, akhirnya ketahuan kalau si anak menderita gagal ginjal akut stadium 3.

Stadium 3???
Iya, masuk ke Pediatric ICU kan, karena harus segera ambil tindakan. Nah di PICU, kondisi si anak malah makin drop. Dalam sehari, dokter menyatakan gagal ginjalnya udah masuk ke stadium 6 dan harus dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo aka RSCM. Nah di RSCM, even udah tiga hari dapat perawatan intensif, ada tindakan cuci darah segala, tapi kondisinya masih belum stabil sampai akhirnya hari Minggu tanggal 16 kemarin, si anak dinyatakan meninggal dunia. Per Jumat kemarin, udah ada 133 kasus meninggal which setara dengan 55 persen dari total kasus yang ada. Lebih dari setengah lo.

Oh noooo :((((

Makanya dari sini banyak pihak yang mendesak kasus gagal ginjal akut ini supaya dijadikan Kejadian Luar Biasa kayak Covid atau Cacar Monyet kemarin, guys. Epidemiolog Dicky Budiman bilangnya kalau ngeliat syaratnya, gagal ginjal akut ini udah fulfilled buat dijadiin KLB, supaya penanganannya juga bisa lebih sat set sat set. Apalagi udah tersebar di 22 provinsi kan. Lebih jauh, Dicky bilangnya meskipun bakal telat buat dijadiin KLB, tapi at least manajemen situasinya bisa ke-handle. Ada satgas, ada investigasi yang lebih advanced, dan ada data yang lebih kuat yang bisa didapat dengan penetapan status KLB ini. Tapi dalam keterangannya, Menkes Budi menyebut status KLB belum ditetapkan buat gagal ginjal akut ini.


:((((. 
Meskipun begitu, sampai sekarang, Kementerian Kesehatan dan pihak-pihak terkait masih melakukan investigasi dan penelitian terkait gagal ginjal akut ini, guys. Selain itu, ada juga langkah-langkah penangan yang bakal dilakukan sama pemerintah. Salah satunya adalah impor obat Fomepizole yang dinilai ampuh buat mengatasi penyakit ini, dari Singapura. Terus, terkait investigasi dan penelitian yang dilakukan, dugaan sementara terkait penyebab kasus ini sih udah ketahuan, guys. Yep, disampaikan langsung oleh Pak Budi, dugaan sementara ada di senyawa kimia yang mencemari obat-obatan sirup yang dikonsumsi sama anak-anak ini :((.


Gimme all the details…
Well, dari awal kasus ini heboh di masyarakat, everybody’s eyes kan emang tertuju ke obat sirup makanya sampe dilarang peredarannya sama Kemenkes (Read the full story here). Terus kemaren, Menkes Budi menegaskan kalau probability senyawa kimia di obat sirop jadi penyebab gagal ginjal akut ini udah jauh lebih pasti dari sebelumnya, guys. Hal ini karena setelah dilakukan pemeriksaan secara langsung dengan datengin 156 rumah penderita gagal ginjal satu persatu, ditemukan sebanyak 102 obat dalam sediaan sirup. Terus diperiksa lebih jauh lagi kan. Hasilnya, jeng jeng… Ada obat yang mengandung senyawa berbahaya bahkan di luar ambang batas dan kalau dikonsumsi, bisa bikin ginjal jadi rusak, gengs. Now everybody meet: Etilen glikol, Dietilen glikol, dan Etilen glikol butyl ether aka EGBE.

Waduhhh…
Nah merespons penemuan ini, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmidzi menyebut 102 obat tadi masih harus diuji dulu di Badan Pemeriksa Obat dan Makanan aka BPOM, guys. Adapun hal ini dilakukan buat nge-make sure senyawa berbahaya yang ada di obat-obatan ini nggak melewati ambang batas yang diperbolehkan. Nah kalau fix dinyatakan melewati ambang batas, onat-obatan tadi bakalan dilarang diresepkan dan dijual ke masyarakat luas, guys.

Emang ambang batasnya gimana?
Good question. Ikatan Apoteker Indonesia tuh udah mengeluarkan statement terkait ambang batas penggunaan senyawa Etilen glikol dan Dietilen glikol ini, gengs. Dalam keterangannya, senyawa itu boleh jadi bahan tambahan sediaan sirup dengan nilai toleransi 0,1% pada gliserin dan propilen glikol, serta 0,25% pada polietilen glikol. Terus, pertanyaan selanjutnya adalah: Sekarang ada beredar nggak obat-obatan yang mengandung senyawa berbahaya melebihi ambang batas yang dibolehin ini? Jawabannya, adaRead it carefully, ayah bunda. Ada Termorex sirup, Flurin DMP sirup, Unibebi cough sirup, dan Unibebi demam sirup.

Well, I believe BPOM has a say…
Nah menariknya di sini, guys. Sesuai tupoksi-nya, BPOM tuh kan harusnya mengawasi obat-obatan yang ada di Indonesia, yang make sure kalau obat itu aman dikonsumsi buat masyarakat. Tapi, disampaikan oleh Inspektur Utama BPOM,  Elin Herlina, keamanan plus mutu obat-obatan tuh tanggung jawabnya industri farmasi, bukan BPOM. In her words, Bu Elin bilang, “Sesuai dengan ketentuannya yang bertanggung jawab terhadap keamanan, mutu, dan khasiat obat itu industri farmasi. Jadi bukan shifting, tapi emang wewenang dan ketentuannya seperti itu.”

HEMMM. Anything else?
Nah balik lagi ke kementerian Kesehatan. Bu Siti Nadia Tarmidzi kemarin mengkonfirmasi kalau biaya pengobatan penyakit gagal ginjal akut ini bakal di-cover sama BPJS Kesehatan dan disesuaikan sama kepesertaan masing-masing pasien. Obat Fomepizole yyang didatangkan dari Singapura tadi, yang udah dipakai sama pasien-pasien di RSCM dan harganya cukup mahal, termasuk biaya cuci darah, transplantasi, juga nggak bakal dibebankan ke pasien, guys.