Sumba Jadi Destinasi Favorit Wisatawan

17

When your favorite destination for holiday is….

Sumba, East Nusa Tenggara.
Yep. Udah nggak diraguin lagi lah yha. Selain Bali, Sumba, Nusa Tenggara Timur tuh sekarang diincer banget sama wisatawan karena mereka literally punya semuanya, guys. Kamu mau apa? Culture? Masyarakat adat? Bukit? Pantai? Sunset? Sunrise? Di sana semuanya jempolan. Bahkan, hutan pun ada. Hutannya beda lagi sama hutan yang kamu tahu.

Aaaa my bucketlist
Same. Well today, let’s talk about Sumba. Jadi dalam beberapa tahun terakhir, keindahan alam di Sumba tuh kan emang terkenal banget ygy. Apalagi kalau kamu liat di Explore IG tuh, orang-orang pada foto pre-wedding di sana bagusssss banget. Hamparan bukit Savanna, pake tenun khas NTT, fotonya pagi-pagi waktu sunrise, udah deh. Kayak mau di-like 1000x itu foto yekan. Terus, kalau kamu datang langsung ke sana dan masuk lebih dalam lagi, kamu bakalan kenalan sama masyarakat adat di sana yang menyenangkan banget, guysNow everybody, meet: Marapu.

Tell me. 
Sure. Jadi Marapu merupakan kepercayaan asli penduduk Sumba yang hidup di empat Kabupaten yaitu di Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, dan Sumba Timur. Praktik budaya megalitikum Marapu ini sama sekali nggak tergerus globalisasi lo, guys. Dan sampai saat ini, kepercayaan itu masih dianut dan dipegang teguh sama penduduk di sana. Adapun salah satu praktik dari Marapu ini adalah ritual adat yang diselenggarakan kalau ada orang meninggal, guys. Jadi waktu mereka menguburkan jenazah anggota keluarga, orang Marapu akan menggelar upacara adat termasuk menyembelih hewan kayak kerbau, gitu-gitu. The same also goes kalau ada warga ingin masuk ke hutan buat mengambil kayu, warga sana juga harus mengadakan ritual di malam hari memohon izin kepada leluhur dengan motongin ayam, guys. Nah, dari ritual adat itulah warga setempat meyakini mereka dapat izin masuk hutan atau nggak untuk mengambil kayu. Jadi, gak bisa tuh asal nyelonong bae ngambil kayu sembarangan.

I see. The forest….
Yep. Namanya juga hutan, sumber kehidupan masyarakat kan pasti dari situ yah, termasuk buat masyarakat adat di Sumba, guys. Mereka bisa bikin macem-macem dari bahan yang ada di hutan. Mulai dari the iconic rumah panggung, sampai kain tenun Sumba khas NTT (which pasti kamu semua pernah liat).  But the thing is, thanks to deforestation as well as climate crisis, hutan yang ada di Sumba dan daerah-daerah lain di Indonesia in general tuh pada abis, guys. Not to mention berbagai kebijakan kayak UU Ciptaker dan iklim investasi di sana yang bikin hutan pada abis dibabat dan things got more complicated ever since.

Oh no…
Nah makanya masyarakat adat di sana pun pada vokal banget menentang alih fungsi hutan untuk kepentingan industrialisasi. Adapun salah satu yang jadi Key Opinion Leader-nya adalah Rambu Dai Mami sama Rambu Ana Maeri. Dengan segala effort-nya, Rambu berdua ini terus mengadvokasi warga setempat untuk nggak gampang terpengaruh iming-iming korporasi yang mau ambil lahan warga buat kepentingan industri. Oya, for context, Rambu adalah panggilan untuk perempuan keturunan bangsawan di Sumba, guys. Tapi seiring waktu panggilan Rambu mulai jamak digunakan. Sekarang semua perempuan di Sumba bisa dipanggil rambu kayak panggilan “mbak” gitu.

God bless their souls…
In their words, Rambu Ana sama Rambu Dai Mami bilangnya begini, guys: “Saya dan masyarakat adat berjuang pertahankan hutan karena prinsip saya hutan bukan milik kita, tapi generasi kita. Kalau bukan kita siapa lagi? Saya takutnya generasi kita selanjutnya melihat hutan hanya dari gambar, tapi tidak tahu hutan itu sendiri seperti apa.” Tapi ya gitu, tantangan terbesar mereka most likely ada di akses informasi dan komunikasi yang super terbatas. Makanya PR banget buat mengedukasi dan mengadvokasi masyarakat sana. Apalagi kaum perempuan, secara as we all know kaum perempuan tuh deket banget kan sama hutan buat berbagai kebutuhan di dapur.

Got it. Anything else?
Btw, did you know guys, Indonesia adalah negara dengan hutan tropis terbesar ketiga di dunia? Yes, setelah Brazil dan Republik Demokratik Kongo. Inilah alasan kenapa kita harus menjaga hutan, sesimpel dengan nggak buang sampah di hutan dan nanam pohon sebisanya, karena selain paru-paru dunia, banyak masyarakat yang hidupnya bergantung pada hutan. Hal inilah yang kemudian melahirkan gerakan Hutan Itu Indonesia untuk mendokumentasikan praktik penjagaan hutan dan menyampaikannya kepada anak muda. Sumba itu kan hutannya kecil, sumber airnya pun terbatas, karenanya hutan harus dijaga sebaik mungkin karena menjadi benteng krisis iklim. Sip?