PM Thailand Digantung Dari Jabatannya

28

Who’s singing “Kau gantungkan hubungan ini…”

Thai Prime Minister, Prayut Chan-o-cha. 
Yup. You read it right. Di tengah berbagai polemik yang dihadapi negaranya, Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha harus digantung aka di-suspend dari jabatannya, guys. Di-suspend-nya tuh beneran, “Plz berenti dulu menjabat,” tapi gajels statusnya gimana. Makanya hal ini bikin masyarakat Thailand mixed feelings dong: Seneng nggak yah? Is it a good thing? Eh, biasa aja sih. Nggak deng. It is a big deal.

Diskors kenapa?
Jadi gini ceritanya, guys. Dalam sistem pemerintahan Thailand yang baru passed di tahun 2014 lalu, diatur bahwa seorang Perdana Menteri cuma bisa menjabat maksimal banget 8 tahun aja. Nah baru-baru ini, orang-orang di parlemen sana dari pihak oposisi ngide buat ngitungin udah berapa lama Pak Prayut ini serving as the Prime Minister. Akhirnya ke-up lagi lah fakta bahwa beliau ini udah menjabat dari tahun 2014, guys. Sekarang kan udah 2022, meaning udah 8 tahun nih kan menjabatnya, dan kalau diterusin, bakal melanggar konstitusi dan sistem pemerintahan sana dong.

Terus terus?
Terus, para pihak ini bikin petisi supaya Prayut di-suspend dan melaporkannya ke Mahkamah Konstitusi Thailand. Setelah dilaporkan ke MK, MK pun akhirnya Rabu lalu memutuskan untuk menskors Pak Prayut dari jabatannya karena kalo lewat 8 tahun yha udah melanggar konstitusi. In the meantime, Wakil Perdana Menteri Prawit Wongsuwan bakalan in charge menggantikan posisinya. Nah, bersamaan dengan itu, pihak MK juga kasih waktu ke Pak Prayut selama 15 hari buat kasih alasan kenapa dia harus mempertahankan jabatannya.

Okay…
Well talking about the reason to stay,  Sebenernya, Pak Prayut ini lumayan “like you” “like you not” among Thailand people, guys, aka banyak yang suka tapi lebih banyak ngga sukanya. Hal ini karena kan pemerintahan Pak Prayut udah dimulai sejak kudeta militer tahun 2014 lalu. Nah, sejak menjabat sebagai PM, beliau jadi orang yang semakin otoriter dan dinilai banyak pihak merusak sistem demokrasi di Thailand. Mulai dari semua kampanye politik yang dilarang, ratusan aktivis ditangkap dan didakwa, banyak lah. Belum lagi secara ekonomi, kemiskinan dan inequality yang makin ketara juga bikin Prayut jadi ngga populer.

I see…
Nah Puncaknya, di tahun 2020, banyak anak muda di Thailand melakukkan unjuk rasa besar-besaran dan menentang semua aturan yang diterbitkan sama Pak Prayut, bahkan menuntut supaya Pak Prayut mundur aja. Secara unjuk rasa yang terjadi ini juga kayak klimaks dari segala konfik dan polemik yang terjadi di Thailand sejak lama, guys. Jadi pas unjuk rasa, semuanya numpukkkk gitu. Mulai dari Prayut yang gagal mulihin demokrasi, adanya tekanan terhadap hak warga sipil dan kebebasan, economic mismanagement, dll.

What about
 penanganan Covid?
Nah soal itu. Masyarakat Thailand yang udah marah, makin dibikin panas lagi karena menilai adanya kesalahan urus dalam pemerintahan militer, plus penanganan pandemi COVID-19 yang dianggap gagal, terus banyak nepotisme sampe kurangnya transparansi juga bikin desakan supaya Pak Prayut mundur tuh semakin kuat. Nggak sampe di situ aja, kemarahan publik sama pihak militer dan monarki kerajaan juga masih terus berlanjut sampe tahun 2021. Waktu itu, ketika Raja Maha Vajilongkorn naik tahta di tahun 2016 dan dinobatin di tahun 2019, dia malah kebanyakan spend time dan uang di luar negeri, bahkan ketika Thailand lagi bergulat sama pandemi virus corona. Bahkan, aset sebanyak miliaran dolar juga masuk ke akun pribadinya yang bikin dia makin tajir abis.

So… where are we going from there?

Polemik soal penentuan masa jabatan Pak Prayut masih belum jelas. Pihak pengadilan juga masih belum pasti kapan bakal ngasih keputusan soal peninjauan tersebut. Tapi yang jelas, pemilihan umum baru masih on schedule, which is tetep di bulan Mei 2023. Prayut sendiri saat ini masih dalam temporary step down status, dan menjabat sebagai menteri pertahanan.