Lebih Dari 50 Juta Orang Di Seluruh Dunia Jadi Korban Kerja & Pernikahan Paksa

18

What’s increasing but not your salary?

Poverty rate.
Iya guys sedih deh. Jadi laporan terbaru dari yang di-publish International Labour Organization aka ILO minggu lalu melaporkan bahwa ada lebih dari 50 juta orang di seluruh dunia yang diyakini jadi korban dari kerja paksa dan pernikahan paksa, all thanks to poverty dan ketidakpastian ekonomi yang tengah terjadi saat ini.
 
Nooooo 🙁
We know. It’s sad. Adapun jumlah 50 juta tadi merupakan kenaikan hingga 25% dari jumlah prediksi sebelumnya di tahun 2016. Terus guys, angka ini didapatkan dari hasil survei yang dilakukan ILO di sekitar 180 negara. Penelitian lebih jauh juga menemukan sekitar 22 juta orang mengalami pernikahan paksa, dan angka ini naik sebesar 43% dari tahun 2016. Furthermore, lebih dari 2/3 korban pernikahan paksa ini adalah perempuan, dan bikin mereka jadi lebih berisiko mengalami eksploitasi seksual dan kekerasan. Adapun tempat yang paling banyak melaporkan kasus pernikahan paksa ini adalah Asia dan negara-negara Arab.
 
Tapi emang penyebabnya apa sih?
Well, definitely paling pertama Covid-19, terus juga konflik bersenjata, dan krisis iklim yang menyebabkan “gangguan tak terhindari” pada lapangan kerja dan pendidikan. Hal ini kemudian menyebabkan meningkatnya kemiskinan, migrasi, dan kekerasan berdasarkan jenis kelamin. Semua ini eventually leads to modern slavery tadi.

Now, can we talk about…. home?
Yep. Here in Indonesia, kenaikan harga BBM juga took its toll in so many families, especially the most vulnerables. Menurut Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara, 40 persen rumah tangga paling miskin menanggung beban Rp8,1 triliun akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite, solar bersubsidi, dan Pertamax. Meanwhile, rumah tangga di keluarga menengah ke atas juga bakalan menanggung beban sebesar Rp42,2 triliun karena kenaikan ini.

Kenapa kok banyak banget?
Karena seiring dengan kenaikan harga BBM, berbagai harga barang pokok juga jadi pada naik gengs. Kayak beras misalnya, terus bawang merah, bawang putih, dll. Kalau harga barang-barang pokok udah naik, yha bakalan ada semakin banyak orang yang jatuh miskin dan angka kemiskinan pun jadi semakin tinggi deh, not to mention ancaman inflasi yang secara makro bakalan ngaruh ke Produk Domestik Bruto aka PDB.

Terus gimana dong?
Makanya, pemerintah came up with the idea of menyalurkan berbagai bantuan sosial buat masyarakat Indonesia. As we all know pemerintah juga naikin harga BBM biar dana bansos bisa dialokasiin dari BBM Subsidi ini kan. Adapun anggaran Bansos yang udah ready adalah sebesar Rp24,17 triliun dan siap disalurkan ke berbagai lapisan masyarakat dalam berbagai bentuk dan berbagai tahapan.

I think I’ve heard of it. But remind me again, pls.
Sure, jadi secara umum bantuan sosial pasca naiknya harga BBM Subsidi ini dibagi ke dalam tiga bentuk untuk tiga golongan, guys. Yang pertama, ada Bantuan Langsung Tunai aka BLT buat jutaan Keluarga Penerima Manfaat yang udah terdaftar di Kementerian Sosial sebesar Rp600.000  Lalu untuk para pekerja peserta BPJS Ketenagakerjaan dengan gaji di bawah 3,5 juta per bulan, juga bakalan dapet BLT sebesar Rp600.000. Last but not least, buat para ojol, angkutan umum, nelayan, dan angkutan umum,

I see. Anything else?
Btw bersamaan dengan ancaman inflasi, harga BBM yang naik, dan warga yang masih menolak keputusan ini, kemarin banget nih, Presiden Joko Widodo memanggil para kepala daerah buat diskusi. Di situ Pak Jokowi juga jelasin kenapa akhirnya harga BBM diputuskan harus naik, guys. Lebih jauh, beliau juga bilang ke sejumlah kepala daerah yang hadir buat barengan menahan dampak kenaikan harga BBM di mana pemerintah daerah bisa pakai anggarannya buat mencegah kenaikan harga barang. Meanwhile, pihak istana juga udah menemui para pengunjuk rasa yang dari kemarin penuh di jalanan. Semua aspirasi ditampung deh di situ.