Isu Tarif Cukai Minuman Berpemanis

52

First stop, we’re gonna start with…

Cukai Minuman Berpemanis.
Kamu suka minuman manis nggak sih, guys? Kalau lagi lunch misalnya, makan nasi padang pake kecap, udah gitu minumnya orange juice kemasan. Apa nggak diabetes tu, gengs? Apa ngga sugar rush tuh? Nah seiring dengan makin aware-nya masyarakat saat ini dengan efek dari pemanis, ditambah isu-isu yang terjadi di kalangan netijen +62, maka belakangan ini muncul isu supaya pemerintah menerapkan cukai minuman berpemanis dalam kemasan.

Hold on, how did we get here?
Actually ini bukan cerita lama, guys. Udah dari 2016. Tapi sekarang rame lagi gara-gara kisruh netizen vs salah satu brand minuman yang ribut di Twitter semingguan ini. Yep, we’re talking about Es Teh Indonesia. Jadi awalnya, beberapa hari lalu ada satu tweet dari @Gandhoyy aka Gandhi yang menyatakan bahwa salah satu varian minuman di Es Teh which is Chizu Red Velvet manisssss banget udah kayak ada 3kg gula di dalem situ. Nggak cuma itu, the way that tweet is written juga dinilai banyak pihak nggak proper, secara pake kata-kata kasar bahkan sampai nyumpahin.

Wow okay….
Nah setelah tweet itu viral, ke-notice lah sama brand yang diomongin yaitu si Es Teh Indonesia ini. Awalnya cuman di-reply begini sama si akun Twitter @esteh_indonesia: “Halo kak, terima kasih support-nya. Sehubungan dengan tweet tersebut, datanya sudah diterima oleh tim legal kami.”  Ternyata they really meant it. Nggak berapa lama kemudian, si Gandhi tadi udah ng-upload lagi yang menyatakan bahwa Es Teh Indonesia udah kasih somasi ke doi.

Pls spill 
Isi somasinya apa?
Well, dari somasi yang udah dikeluarkan Tim Legal-nya Es Teh Indonesia, mereka nggak bisa terima sama tweet si Gandhi itu, gengs. Pertama karena itu udah termasuk dalam penghinaan, bukan lagi kritik. Terus di situ juga dijelasin rasa manis tuh sifatnya subjektif banget dan konsumen harusnya bisa aja request buat less sugar, terus mereka juga nge-highlight statement di minuman Es Teh ada 3 kg gula, “Udah misinformation banget loh ini,” gitu kira-kira. Selain itu, since tweet itu isinya 80% kata-kata kasar, pihak Es Teh nggak bisa terima, guys. Mereka merasa terhina dan hal ini udah masuk ke dalam pencemaran nama baik.  Makanya dikeluarkanlah somasi buat Gandhi selaku pihak yang udah menyebar tweet itu buat melakukan klarifikasi dan menghapus tweet itu dalam waktu 2×24 jam. Makanya tweet itu dihapus dan diganti sama klarifikasi tadi deh.

Terus hubungannya sama cukai?
Jadi a little back story here, kamu pasti udah tahu bahwa gula itu salah satu penyebab penyakit diabetes yang sebenernya bisa banget dicegah dengan gaya hidup sehat. Nah terus, diabetes ini bisa di-cover pake BPJS Kesehatan aka our national healthcare system yang tentunya memberatkan BPJS dong, secara BPJS kan dibayarnya sama you you para taxpayers. Makanya dari tweet yang viral kemaren, reaksi netizen +62  juga fokus ke nge-remind pemerintah yang berencana menerapkan cukai buat minuman atau makanan yang mengandung gula, which rencananya bakal disahkan tahun depan.
 
Go on…
Nah kalau udah ada pajak atau cukainya, jumlah produksi juga bisa dikurangi, dan jumlah konsumsi masyarakat bakal berkurang juga. Jadi resiko diabetes dan penyakit lain bisa dikendalikan deh. Yang harus kamu tahu adalah, wacana penerapan cukai buat makanan dan minuman manis ini emang bukan hal baru lagi, guys. Udah diomongin dari tahun 2016. Lama nggak kedengaran kabarnya terus di tahun 2020, rancangan potensi penerimaan cukai plus perhitungan tarif yang udah dibikin sama Kementerian Keuangan akhirnya rampung dan didiskusikanlah sama Komisi IX DPR RI.

Gimme all the details… 
Dalam keterangannya, Menteri Keuangan Bu Sri Mulyani mengusulkan tarif cukai buat teh kemasan yaitu sebesar Rp 1.500 per liter. Kalau setahunnya ada at least 2 juta liter teh kemasan yang diproduksi, meaning pemerintah berpotensi menerima cukai sebesar Rp 2.7 triliun, guys The same also goes to minuman berkarbonasi dengan usulan tarif cukai sebesar Rp2.500 per liter. Dengan produksi minuman berkarbonasi sebanyak 700 liter per tahunnya, kaliin aja berarti potensi cukainya sebesar Rp1,7 triliun. Itu belum termasuk minuman kemasan lain yang ada gulanya kayak kopi dll, sehingga potensi total cukainya kata Bu Ani bisa senilai Rp6,25 triliun.

Berarti it’s all about the products gitu ya….
Sejauh ini sih gitu, guys. April kemarin, seiring dengan disahkan dan diberlakukannya kenaikan Pajak Pertambahan Nilai aka PPN sebesar 11% buat sembako, petani gula jadi overthinking dong. Secara kalau pajaknya naik, yang susah juga petani harus jualin harga berapa itu gula. Makanya mending dibebaskan aja sembako dari PPN. Apalagi barang-barang kayak gula, beras, kedelai yang merupakan bahan strategis which dibutuhin banget sama masyarakat kita. Merespons hal ini, Dirjen Pajak akhirnya mengklarifikasi kalau gula termasuk dalam barang yang dibebaskan PPN, guys. Jadi sekarang udah tenang deh itu petani gula.


I see. Anything else I should know?
Ok balik lagi ke minuman berpemanis, ternyata di negara-negara lain minuman berpemanis ini emang udah dikenakan pajak atau cukai, gengs. Dari sebuah riset yang di-conduct World Bank, di Saudi Arabia misalnya, mereka udah menerapkan cukai 100%  buat minuman energi dan berhasil menurunkan pembelian masyarakat sebesar 58%, gengs. Terus di Hungaria, Mexico, dan AS, penerapan cukai ini juga berhasil bikin masyarakat aware bahwa, “Oh iya rupanya emang nggak bagus ya guys minuman terlalu banyak gula tuh,” gitu.