China Masih Siaga Dari Covid-19

44

When things stay the same in…

China.
Yep, di saat negara-negara lain perlahan tapi pasti udah move forward dari Covid-19, bahkan udah mau jadiin pandemi ini sebagai endemi, ada satu negara yang masih siaga penuh sama bahaya Covid-19. Yep, it’s where it all started: China.

Still???
Yoi. Kayak yang kita bahas kemarin, di berbagai negara termasuk Indonesia tuh kan udah ada di zona hijau Covid-19 yah. Meaning kasus Covid-19 di negara-negara itu udah terkendali, guys. Beriringan dengan itu, berbagai pelonggaran pun dilakukan menyesuaikan sama keadaan: Kerumunan ada lagi, sekolah dan kantor udah offline, pasar, restoran, mall udah rame, ekonominya mulai bangkit lah gitu-gitu. Nah tapi, China masih siaga. Lockdown masih berlaku di sana. Bahkan, kemarin banget nih, pemerintah resmi menutup Kota Shenzen, yang jadi surga para pemburu elektronik made in China EHEHEH

Kok gitu sih?
For context, semingguan ini kasus baru Covid di China masih mencatat sebanyak 1.561 kasus. Yha kalau dibandingkan sama penduduk China yang more than 1 miliar orang sih, kita mikirnya angka segitu kecil kan. But the thing is, balik lagi ke kebijakan Zero Covid Policy di mana China ambi banget buat jadiin kasus Covid di negaranya jadi nol. Meaning, kalau ada satu aja kasus Covid ditemukan, udah deh satu neighbourhood atau satu kota kena getahnya. Mereka semua harus diisolasi di rumah mereka masing-masing, guys. Ini berlaku buat satu negara seantero China, nggak terkecuali Shenzen.

Tell me the conditions there…
Di Shenzhen, kemarin udah ditemukan adanya 50 kasus baru either dari hasil transmisi lokal dan kasus impor, di mana sebagian di antaranya positif tanpa gejala. Berangkat dari sini, pemerintah setempat langsung upset sendiri kan, “Enough is enough! Nggak boleh ada lagi yang positif!” Shenzhen pun akhirnya lockdown selama empat hari, guys.  Mereka nggak boleh keluar rumah kecuali buat tes PCR, nggak boleh ada restoran yang makan di tempat aka harus take away, tempat hiburan juga harus tutup. Not to mention ribuan toko di Huaqiangbei yang jual berbagai perabotan elektronik mulai dari komputer, handphone, dan microchips yang harus closed pokoknya.

Hua… Hua apa?
Huaqiangbei. Kamu harus tahu nih guys, pasar elektronik yang ada di Huaqiangbei itu adalah pasar elektronik terbesar di dunia, yang of course sangat berperan buat pertumbuhan ekonomi China. Dari periode April-Juni kemarin aja, PDB China cuma bertumbuh 0,4% year on year-nya. Nah dengan kota ‘pasar’ kayak Shenzhen yang juga di-lockdown kemarin, dikhawatirkan pertumbuhan ekonomi China bakalan makin lemah atau bahkan nggak ada pertumbuhan sama sekali, guys.

Got it. Anything else?
Btw dari tadi kita ngomongin lockdown China dan dampaknya, let’s go back to the cause of it, which is Zero Covid Policy yang diterapkan China. Selain dampak ekonomi, Zero Covid Policy rupanya berperan besar terhadap kehidupan sosial masyarakat di sana, guys. Yep, kamu masih inget nggak sama pembahasan kita waktu itu kalau sekarang, di China tuh minim banget orang yang menikah apalagi berhubungan seksual? Terus, sekarang China juga dihadapkan sama angka pengangguran yang terus meningkat dari angka 15,3% di Januari, menjadi 19,9% per Juli lalu. Ini juga yang jadi PR Presiden Xi Jinping buat recover stronger dan balikin China on track.