Ratusan TKI Ditipu Di Kamboja

55

When you reallyyyy need to be careful….

Waktu cari kerja.
Yes. Nggak ada henti-hentinya yah berbagai masalah yang dirasain tenaga kerja Indonesia di negara orang, guys. Kali ini, everybody’s eyes are on ratusan TKI yang niatnya mau kerja ke negara tetangga kita: Kamboja yang ditipu, disiksa, dianiaya, dikurung, sampai mau dijual sama orang-orang di sana.

WHAT???
Iya. Sedih banget kan. Bayangin kamu seorang jobseeker nih, lagi cari-cari loker di media sosial. Nah ketemu lah satu postingan tawaran kerja di Kamboja. Persyaratannya mudah pula, cukup bisa bahasa Inggris dan ngerti komputer. Terus gajinya gede. Plus, waktu dikonfirmasi, tiket penerbangan pun ditanggung perusahaan. Siapa yang nggak tertarik coba? Nah, ini yang dirasain sama ratusan masyarakat kita itu, guys.

Emang menggiurkan sih. Terus?
Berdasarkan penuturan salah seorang TKI namanya Rendi (Bukan nama sebenarnya), waktu dia terbang ke Phnom Penh Mei lalu, everything was really fine at the beginning. Dia dijemput sama pihak perusahaan, terus dibawa ke kantor di luar kota Phnom Penh yang jaraknya 6-7 jam dari kota. Semuanya fine-fine aja until Rendi found out kalau perusahaan yang katanya layanan konsumen itu bukan perusahaan layanan konsumen beneran. Secara spesifik, itu perusahaan fintech palsu, dengan produk investasi yang bodong juga, dan Rendi barengan sama ratusan pekerja lainnya disuruh nipu.

Nipu gimana?
Jadi mereka harus cari pelanggan di berbagai platform, mulai dari media sosial kayak Facebook atau Instagram, sampai ke dating apps. Nah udah dapet, terus mulai pitching deh tuh di situ sampai mereka mau investasi, nah ketika si calon investor udah setuju dan menanamkan investasinya, ya udah di-ghosting lah mereka. Kinda.. classic, rite? EHEHEHE. Tapi masalah mulai datang waktu Rendi ngelapor ke KBRI. Setelah laporan itu, Rendi jadi dikucilin sama temen-temennya dan dibilang udah melanggar kontrak padahal nggak ada kontrak samsek in the first place. Rendi diharuskan ganti rugi sebesar USD 11 ribu dalam tiga hari. Nah, selama tiga hari itulah dia disiksa, dianiaya, dipukulin, disetrum, gitu-gitu lah guys. Serem pokoknya.

Nooooo….
Crazy rite? But the thing is bukan cuma satu orang, atau dua orang yang mengalami hal kayak gitu, guys. Beberapa orang lainnya bahkan ada yang jadi korban human trafficking aka perdagangan manusia. Data dari Kementerian Luar Negeri RI bilangnya jumlah tenaga kerja Indonesia di sana tuh terus bertambah. Mulai di angka 53, terus naik 60, 68, 70. Sampailah ke data terakhir di 129 orang. Tapi thank God 129 orang ini udah berhasil diselamatkan dan udah dalam perlindungan KBRI Kamboja di Phnom Penh untuk kemudian dipulangkan ke Tanah Air secara bertahap.

Thank God. Any words?
Well, kepulangan mereka ke Tanah Air ini dibantu juga oleh Kementerian Luar Negeri RI yang koordinasi langsung sama berbagai pihak di Kamboja, mulai dari pihak kepolisian, sampai ke Kementerian Dalam dan Luar Negerinya. Terus Menteri Luar Negeri RI, Bu Retno Marsudi langsung yang nge-push supaya pemulangannya buruan dilakukan, pencegahan dan penanganan kasus serupa, dan langkah-langkah lain buat mencegah human trafficking supaya nggak keulang lagi. In that sense, Bu Retno bilangnya antara RI sama Kamboja tuh emang perlu ada MoU aka Nota Kesepakatan terkait pemberantasan kejahatan lintas negara katanya.

Got it. Anything else I should know?
Btw, merespons scamming yang terjadi di Kamboja ini, Migrant CARE, yang concern banget sama isu-isu migrasi ini juga ikutan angkat suara, guys. Disampaikan langsung oleh dirketur eksekutifnya, Pak Wahyu Susilo, pemerintah Indonesia tuh harusnya bisa lebih tanggap lagi kalau ada isu-isu begini. Jangan nunggu ada aduan dulu gitu. Harusnya bisa lebih dimaksimalkan lagi dengan bersikap proaktif koordinasi barengan sama Kementerian Luar Negeri, Kementerian Ketenagakerjaan, Polri, sampai polisi internasional aka Interpol. Terus, Pak Wahyu juga bilangnya Bu Retno harus bawa masalah ini ke forum ASEAN. Secara Kamboja kan Ketua ASEAN tahun ini yah, jadi harusnya bisa kasih contoh ceunah.