Kasus Ferdy Sambo Dibawa Ke Rapat DPR

44

Of course, we’re gonna start the day with….

Ferdy Sambo’s case.
Yang kemarin dirapatin di DPR.

Yep. Bear with us
 karena saking complicated-nya ini kasus, kita masih bakal ngebahas perkembangan ceritanya Irjen Ferdy Sambo, tersangka Pembunuhan Berencana Brigadir Yosua Hutabarat aka Brigadir J. Well, kemarin banget nih, kasus ini dibawa ke rapatnya Komisi III DPR barengan sama none other than Prof. Mahfud MD yang merupakan ketua dari Kompolnas.

Kawal terus ygy….
Yoi. Kasus tembak menembak yang turns out terungkap sebagai pembunuhan berencana ini masih jauh banget dari kata beres, guys. Terusssss bergulir, pemeriksaan pun terusssss dilakukan dari berbagai pihak mulai dari Polri itu sendiri, Komnas HAM, sampai LPSK. Nah, kamu ngeh nggak sih kalau selama ini, ada satu lembaga negara yang minim banget muncul ke publik, padahal biasanya mereka vokal banget kalau ada masalah begini, guys. Yep, we’re talking about Dewan Perwakilan Rakyat aka DPR.

Oh iya juga….
Ini juga yang dibahas sama Menko Polhukam, dan juga Ketua Kompolnas, Mahfud MD kemarin, guys. Jadi kemarin kan Pak Mahfud, yang notabene ditugasi Presiden buat mengawasi kasus ini kan akhirnya rapat sama Komisi III DPR RI. Terus di rapat itu, Pak Mahfud mempertanyakan dong kemana nih DPR, kok diem-diem bae. Apalagi seriring kasusnya yang makin memanas, DPR makin nggak ada suara. Padahal niatnya Pak Mahfud tuh Komisi III juga ikut mengawal dan mendorong penyelesaian kasus ini gitu.

Emang kenapa DPR harus ikutan, Pak?
Ya itu tadi. Since kasus ini tuh what everyone is talking about banget, makanya keterlibatan DPR sangat dibutuhkan biar bisa cepetan tuntas tas tas, guys. Lagian juga DPR sebenernya punya fungsi pengawasan kan, untuk ngawasin kinerja mitra mereka, termasuk kepolisian. Lebih jauh, Pak Mahfud juga menjelaskan kalau ini tuh kan masalah hukum yah. Nah hukum tuh adalah salah satu produk politik, guys. Jadi dia nggak bisa jalan sendiri kalau nggak ada suasana politik yang ngedorong suara masyarakat. In that sense, DPR lah yang harus terlibat.

Oh gitu. Terus tanggapan DPR gimana dong?
Mereka nggak terima dong dibilang diem-diem bae sama Pak Mahfud. Sempat heboh lah di situ, banyak anggota Komisi III yang menyampaikan pendapatnya bahwa, “Kita nggak diem aja pls.” Salah satunya adalah anggota DPR dari Fraksi PDIP Arteria Dahlan. Menurut Bang Teri, DPR tuh nggak diem. Dari awal mereka udah kerja, cuman kerjanya dalam keheningan aja sesuai sama spirit kehormatan antar lembaga. Masih dari keterangan Bang Arteri, DPR tuh kerjanya nggak berdasarkan tekanan publik. In his words, beliau bilang, “Kita tidak genit dan kita tidak berusaha membuat kegaduhan baru.”
 
I see…
Selain itu, dalam kesempatan yang sama, pemimpin rapat Pak Ahmad Sahroni bilang bahwa DPR tuh ga diem aja, tapi emang kemaren-kemaren lagi masa reses alias turun dapil. Iya guys, jadi resesnya kan baru selesai bertepatan dengan 17 Agustus kemarin, artinya baru deh DPR bisa mulai rapat-rapat lagi, dan buktinya once rapat dimulai, langsung deh dipanggil semua tu. Mulai dari Kompolnas, Komnas HAM dan LPSK. Rabu besok, Pak Kapolri bakal dimintai keterangan juga ni sama DPR.

Semoga makin terbuka lebar ini kasus….
Amen. But talking abut that, let’s go back to Bang Arteria Dahlan. Dalam kesempatan itu, Bang Teri sempat nanya ke Pak Mahfud terkait motif kasus ini, termasuk perintilan lain kayak isu LGBT dan autopsi dubur yang bikin kasus ini makin complicated. Apalagi sebelumnya Kabareskrim Komjen Agus Andrianto menyebut motif dari peristiwa ini cuman bakal jadi konsumsi penyidik buat menjaga perasaan banyak pihak. Plus, Pak Mahfud MD himself juga sempat bilang motifnya itu cuman bisa didengar sama orang dewasa. Makanya di-clarify lagi apa maksudnya.

Nah iya. Penasaran juga apatu maksudnya…
Well, Pak Mahfud jelasinnya gini, guys. Misalnya soal isu di awal-awal yaitu pelecehan dan pemerkosaan. Di situ Pak Mahfud menyampaikannya gini, “Pelecehan tuh apa sih? Yang kayak gimana? Apakah memaksa buka baju dalam atau memperlihatkan barang tertentu?” The same case goes to pemerkosaan, yang mana obrolan kayak gini tuh cuman bisa didengar sama orang dewasa kalau kata Pak Mahfud, guys. Oya, di situ Pak Mahfud nggak menjelaskan sih terkait isu LGBT dan autopsi dubur yang sekarang rame diomongin orang.

I see
. Terus, bahas apa lagi mereka?
Ngebahas soal jenderal bintang tiga misterius. Iya, sebelumnya Pak Mahfud tuh pernah kasih statement di salah satu stasiun TV kalau ada jenderal bintang tiga di Polri yang bakal mundur dari kepolisian kalau Ferdy Sambo nggak segera ditetapkan sebagai tersangka. Tapi nggak tahu siapa. Nah mumpung ketemu, salah satu anggota Komisi III Sarifuddin Sudding nanya dong, “Spill dong pak, siapa sih itu jenderal bintang tiga? Ini juga penting lo buat publik,” gitu kan. Karena menurut Pak Sudding, kalau kayak gini ceritanya yang ada jatohnya dalam internal Polri tuh jadi nggak solid dalam penanganan kasus ini, guys.


Terus reaksi Pak Mahfud?
Pak Mahfud nggak mau nge-spill dong. Pak Mahfud menjelaskan emang ada hal-hal yang emang harus dirahasiakan, guys. Sekalipun sama DPR, sekalipun dalam keadaan rapat tertutup. Jadi informasi terkait jenderal bintang tiga itu cuma bakal dia ceritain lengkapnya ke dua pihak: Presiden RI, Joko Widodo dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Terus kalau akhirnya ketahuan itu jenderal bintang tiga siapa, Pak Mahfud bilangnya biar Kapolri aja yang langsung menyampaikan, gitu.

I heard there were
 banyak interupsi…
Yep. Di rapat kemarin juga heboh sama banyaknya interupsi antara Wakil Ketua Komisi III, Desmond Mahesa VS Mahfud MD, gengs. Dalam hal ini, Pak Desmond tuh awalnya nanya soal tugas Kompolnas yang diketuai Pak Mahfud. Dijawablah tugas Kompolnas tuh melakukan pengawasan, kasih rekomendasi, dll. Dibalas lagi sama Pak Desmond, “Ngawasin tuh yang gimana? Siapa yang diawasin?” Lalu Pak Mahfud jawab lagi, “Pengawas eksternal Polri, sebagai mitra. Kerja sama gitu.” Dari sini makin ke-trigger tuh Pak Desmond disangkutin sama kasus ini di mana keterangan anggota Kompolnas cuman jadi public relations aja. Makanya timbul pertanyaan perlu nggak nih Kompolnas. Nah, dibalas lagi lah sama Pak Mahfud. Pak Mahfud bilang yha terserah aja, balik lagi ke DPR. Toh yang membentuk Kompolnas ini kan… DPR. Kalau mau bubarin, bubarin aja, katanya.

:))) Okay…..
Selain bahas Kompolnas, di rapat kemarin itu juga membahas berbagai isu yang sekarang juga lagi rame diomongin sama publik, guys. Salah satunya adalah soal ‘Kerajaan‘ Ferdy Sambo yang kemudian refer to jaringan judi online yang dipimpin Sambo called Konsorsium 303 di mana bagannya tuh banyak kesebar di media sosial. Merespons hal itu, Pak Mahfud sendiri ngakunya nggak tahu menahu soal bagan itu, guys. Tapi Pak Mahfud bilangnya yang dimaksud ‘kerajaan’ di sini tuh posisi Ferdy Sambo sebagai Irjen Kadiv Propam yang membawahi tiga jenderal bintang satu which is pangkatnya Brigadir Jenderal. Makanya dengan power yang dia punya, jadilah diibaratkan kayak kerajaan, gitu lo guys. Lebih jauh, Pak Mahfud juga bilang pihaknya udah kasih rekomendasi buat merombak di Divisi Propam Polri, jadi kayak pemerintahan dibagi tiga: Ada eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Jadi nggak ada yang overpower dan end up bikin ‘kerajaan’ baru deh. Jadi bukan soal judi onlineguys. Pak Mahfud menyebut beliau juga nggak tahu menahu soal judi online ini.
 
I see. Anything else I should know?

Well, balik lagi ngomongin motif. Udah sedetail ini kasusnya terungkap dan semakin banyak menetapkan tersangka plus semakin banyak lembaga negara yang terlibat, we have that big question mark left: Motif pembunuhan ini tuh sebenarnya apa? Sebelumnya kan Pak Mahfud bilang motif pembunuhan ini nggak bisa diungkap ke publik dan cuman boleh didengar orang dewasa. Nah kemarin, Mahfud MD bilangnya dari berbagai macam spekulais motif kayak pelecehan seksual, cinta segi-segian, terus pemerkosaan di Magelang, Pak Mahfud tuh nggak pernah dapet bocoran apa pun, guys.


Again, yang cuma boleh didengar orang dewasa tadi MISALNYA doang ya pak ya…