Kekerasan Seksual Ponpes di Jombang

58

Everybody, we really need a safer place…

From sexual assaults and violence.
Yep, it’s always been disheartening to talk about this issue karena beneran deh, makin sering aja kita mendengar berita soal kekerasan dan pelecehan seksual di sekeliling kita. Dan parahnya lagi, yang terbaru dan bikin shock adalah yang terjadi di lingkungan pendidikan, aka pesantren. Yep, everybody, let’s catch up! on: kasus dugaan kekerasan seksual yang terjadi di Pondok Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyah, Jombang, Jawa Timur.
 
Tell me everything.
Ok. Everybody, meet: Moch. Subchi Azal Tsani aka Bechi yang merupakan anak dari pendiri ponpes, KH Muhammad Mukhtar Mukhti yang merupakan tokoh masyarakat ternama di sana. Pesantren Shiddiqiyah ini udah berdiri sejak tahun 1973 dan menjadi tempat pendidikan buat 998 orang santri dari berbagai jenjang. Balik lagi ke Bechi, jadi pada Oktober 2019 lalu, Bechi dilaporkan ke Polres Jombang atas dugaan pencabulan terhadap santrinya yang berjumlah lima orang. Nah abis melakukan penyelidikan lebih lanjut, polisi akhirnya menetapkan Bechi sebagai tersangka, dan namanya tersangka ya harus diproses hukum donk.
 
Tapi….
Tapi Bechi kerap mangkir saat mau diperiksa, hingga pada Januari 2020, Polda Jatim mengambil alih kasus tersebut. Tapi ya gitu, Bechi mangkir terus pas mau diperiksa, hingga kasusnya berlarut-larut sampe tiga kali pergantian kepemimpinan Kapolda Jatim. Ga sampe di situ, Bechi juga menilai bahwa status tersangkanya tuh ngga sah, makanya dia juga mengajukan praperadilan sampe dua kali di PN Jombang dan PN Surabaya, tapi keduanya ditolak. Artinya doi masih tersangka dan masih harus menjalani proses hukum.
 
Lanjut…
Nah tapi ya gitu, Bechi ini selalu mangkir walaupun polisi udah bilang: W jemput loh, plz dong menyerahkan diri?? W jemput yaa?? Yuk jemput! Eh dihadang massa simpatisan, guys. Hal ini dibikin makin rumit dengan sikap ayahnya Bechi, Kiai Mukhtar, yang bilang kalau berbagai kasus ini tuh fitnah doang. Makanya banyak simpatisan yang rame-rame menghalangi polisi yang mau melakukan penjemputan paksa. However, Kamis lalu, Polisi be like, “Nope, enough is enough!” Dan akhirnya polisi menerjunkan langsung ratusan personel beratribut lengkap untuk mengepung pesantren Shiddiqiyah tadi dengan satu tujuan: Menangkap Bechi.
 
Whoaaa…
Yep, suasana kemudian memanas karena polisi langsung head to head sama puluhan pendukung dan simpatisan yang menjaga pesantren. Kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Dirmanto, pihaknya udah berusaha banget humanis dalam menangani kasus ini, dengan ngingetin lewat lawyer, keluarga, dll tapi ybs tetep ga dateng bahkan sampe udah masuk DPO. Makanya ya diambillah cara paksa ini. Adapun dalam mencari Bechi juga polisi ngga hanya berhadapan dengan massa, namun juga dengan upaya pencarian di dalam pesantren yang luas banget. Finally, setelah 15 jam yang menegangkan, Bechi berhasil ditangkap.
 
Tapi emang modus operandinya si Bechi nih gimana? 
Jadi, si Bechi ini menyebut dirinya menguasai ilmu metafakta yang bisa nyembuhin penyakit dan mengabulkan segala permintaan. Nah, keren banget kan kalo kita bisa kayak gituuu? Makanya kata Bechi, dia bisa banget nih mentransfer ilmu itu ke para santriwatinya in one condition: Santriwati itu harus ngelepas semua pakaian (????). Btw, stop asking “Kok mereka percaya-percaya aja si?” Mereka juga nggak percaya, guys. Mereka pun sempat nolak. Tapi, Bechi terus memanipulasi korban hingga terjadilah pemerkosaan.

Geez… tapi sekarang udah ketangkep ni ya?

Yep, di Hari Kamis itu, Bechi akhirnya berhasil diamankan polisi. Jadi meskipun dihalang-halangi segimana rupanya sama orang-orang pro dirinya dan ayahnya, namun polisi tetap menjalankan tugasnya buat menangkap Bechi. Setelah dikepung sejak pagi, Bechi akhirnya ditangkap pada Hari Kamis pukul setengah 12 malam. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Kapolda Jawa Timur, Irjen Nico Afinta. Selain Bechi, polisi juga menangkap 320 orang simpatisan yang menghalangi proses penjemputan paksa tadi, guys. Jadi dari Jombang, Bechi langsung dibawa ke markas Polda Jawa Timur dan langsung diproses di Surabaya. Yep, ngga di Jombang lagi dengan alasan keamanan.

 
Rumittt rumit.
Belum berhenti sampe situ, guys. Kasusnya Bechi ini berbuntut panjang banget, karena Kemeterian Agama akhirnya memutuskan untuk mencabut izin pesantren Shiddiqiyah Jombang. Menurut Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Waryono, Kemenag punya kewenangan administratif untuk membatasi ruang gerak lembaga yang diduga melakukan pelanggaran hukum berat. Selain itu, pihak pesantren juga dinilai menghalang-halangi proses hukum, padahal pencabulan itu bukan hanya tindakan kriminal yang melanggar hukum, tetapi juga perilaku yang dilarang ajaran agama.
 
Got it. Did anyone say anything?
Yep. Katib Syuriah Pengurus Besar Nadhlatul Ulama Abdul Ghaffar Rozin bilangnya kejadian ini tuh harusnya bisa dijadiin pelajaran buat semua pesantren di seluruh Indonesia, tanpa terkecuali. Lebih jauh, Gus Rozin juga bilang semua pesantren tuh harusnya bisa muhasabah aka introspeksi internal keadaan di pesantren masing-masing, biar sama-sama ningkatin kualitas moral dan akhlak.
 
I see. Anything else I should know?
Btw masih dari kejadian ini, Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto nyaranin orang tua santri-santriwati buat menarik anaknya dari ponpes itu. Disampaikan oleh Komjen Pol Agus, penarikan ini adalah sebagai bentuk dukungan masyarakat, biar masalah ini cepat kelar dan anak-anak pun bisa dipindahin ke pesantren yang lebih aman dari tindak kekerasan seksual.