Kebijakan Lingkungan Lewat Sosmed

57

Who’s got a superpower?

Young people in Jakarta, and all over Indonesia.
Yep. Raise your hand kalau FYP TikTok mu penuh sama konten-konten anak muda yang nongkrong di Kawasan Sudirman, Jakarta? Raise your hand if you have that mixed up feeling waktu nontonin video-video itu: Kzl, seneng, sedih, eh seneng deh. Eh, sedih lagi. Oke w biasa aja ternyata. Now, hands down.

We got you.
Fenomena anak muda  yang kalau weekend rame banget nongkrong di Jalanan Sudirman tuh emang rame banget diomongin netizen +62 yah guys. Dan ngomong-ngomong anak muda, mereka emang ada di mana-mana karena Indonesia emang bakal mengalami yang namanya bonus demografi di tahun 2045 mendatang. That being said, masa depan bangsa kita sebenernya ada di tangan anak muda karena kita bakal mengisi 60 persen potensi suara dalam Pemilu 2024. Artinya, suara kita mayoritas loh gengs! Makanya, peran anak muda ini bakal sentral banget dalam mewujudkan kebijakan atas lingkungan dan demokrasi secara lebih baik di masa depan. Karena pemimpin yang nantinya kamu pilih bakal punya otoritas yang besar untuk bikin kebijakan soal isu lingkungan.
 
Ah iya. Lingkungan.
Nah ini yang masih kurang banget di-highlight sama banyak orang, guys. Dengan berbagai bencana alam yang terjadi sekarang di Tanah Air mulai dari banjir, tanah longsor, sampai kebakaran hutan, semuanya tuh terjadi karena kebijakan publik yang akhirnya nge-lead kepada terjadinya berbagai bencana ini. Kalau udah kayak gini, siapa coba yang dirugiin? Yep, masyarakat. Jumlah kerugiannya pun kalau ditotal either secara materi atau nggak juga nggak sedikit. Makanya biar kita nggak terus-terusan berada di situasi kayak gini, penting banget buat kita paham apa yang calon pemimpin bring to the table, dan gimana si calon pemimpin tadi bisa relevan sama apa yang kita butuhkan, khususnya soal isu lingkungan ini.

Dan harus lingkungan karena…
Well, first of all, namanya anak muda, you’ll likely live for another 30-40 years lagi lah ya at least. Nah di waktu-waktu itu, tentunya alam udah banyak berubah, dan apa yang kita lakukan sekarang, akan sangat berpengaruh banget di masa depan, guys. Misalnya nih kalo dari sekarang kebijakan pemerintahan kita ngga concern sama lingkungan, maka ga heran kalo dalam waktu 10-20 tahun lagi, hutan kita udah abis misalnya. Begitu juga sebaliknya, kalo pemerintah saat ini udah mulai gigih menghasilkan kebijakan yang menjaga lingkungan, misalnya as simple as melarang penggunaan plastik sekali pakai, imagine how clean the earth will probably be in the next five years.

I see…
Nah hal ini juga terkait dengan lokasi kita yang berada di garis khatulistiwa yang sebenarnya juga prone to natural disaster. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2019, bencana terjadi sebanyak 9.375 kali di Indonesia. Terus, kebakaran hutan merupakan salah satu dari bencana yang sering terjadi yakni mencapai 3.276 kali sepanjang 2019, dengan kerugian mencapai Rp 75 triliun. Also remember, our forests won’t stay forever. Kalo dibakar terus-terusan ya nanti pas jamannya kita tua, hutannya juga bisa jadi udah abis. This is probably not the future you want for your children, rite?
 
OK terus gimana? 

Well, definitely salah satu cara yang bisa dilakukan adalah kita harus punya pemahaman yang lebih baik terhadap kebijakan publik dan lingkungan. Menurut anggota Solidaritas Perempuan Rima M. Bilaut, dari sekian banyak isu yang muncul di tahun politik, isu lingkungan selalu terpinggirkan meski terasa amat dekat dengan masyarakat. Padahal, masalah ini udah urgent banget secara sebagai negara kepulauan Indonesia memiliki risiko lebih tinggi. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Crisis (IPCC) bahkan menyebutkan secara khusus risiko yang akan dihadapi Indonesia.

Got it. Where do I start?
Well, kamu nggak perlu ikut kelas, seminar, atau webinar buat ikutan pendidikan politik kok. Kan kamu anak muda yang 24/7 mantengin sosmed nih, nah jadi kalau ada konten politik, khususnya terkait kebijakan lingkungan lewat di FYP TikTok kamu, atau muncul di TL kamu, jangan di-skip. Atau kamu sendiri pun juga bisa loh ikut menyuarakan pendapat dan aspirasi kamu di social media. Jadi bareng-bareng, kita sama-sama belajar and get to know more about the political institutions (kayak calon anggota DPR, capres, cawapres), dan yang paling penting, kita mantengin kebijakan lingkungan mereka gimana. Kalo masih pro energi fossil, masih B aja pas hutan-hutan dibakar, ga gercep bikin kita beralih ke energi terbarukan, skip aja ga sih EHEHEHEHE.