Kasus Cacar Monyet di Eropa Meningkat

50

What’s causing some global concern?

Monkeypox.
Yang belakangan ini kasusnya makin meningkat aja di seluruh dunia. Yep, baru aja di-update WHO kemarin, jumlah kasus cacar monyet di Eropa udah meningkat hingga tiga kali lipat. Padahal, wabah itu ngga endemi di sana.
 
WHAT?
Yep. Kamu masih inget kan kalau sekarang ini, bukan hanya pandemi Covid-19 yang still haunting us all, tapi juga ada satu wabah lain yang nggak kalah bikin kita panik, namanya monkeypox aka cacar monyet. A little catch up! about the disease: cacar monyet ini adalah salah satu jenis cacar yang awalnya nyerang ke koloni kera, termasuk tupai, tikus, gitu-gitu. Tapi seiring berjalannya waktu, wabah cacar monyet ini diketahui juga ikutan nyerang manusia, gengs. Jadi dari hewan ke manusia, terus manusia ke manusia lainnya gitu.
 
Hadehhhh…
Nah, cacar monyet ini emang kerap kali kasusnya ditemukan di Afrika. Namun belakangan, jumlah kasusnya semakin meningkat dan penyebarannya makin meluas ke negara Afrika lainnya yang sebelumnya ngga punya kasus tersebut, kayak Afsel dan Maroko. Akibatnya, otoritas kesehatan di sana jadi makin tighten the seat belt dan menjadikan cacar monyet ini sebagai keadaan darurat. Dari situ, mereka juga minta negara-negara tajir buat bagi vaksin ke mereka, biar masalah equity yang terjadi waktu jaman Covid-19 kemaren nggak keulang dua kali.
 
I see….
Nah yang lagi jadi concern, kasus cacar monyet mulai banyak ditemukan di Eropa, padahal penyakit ini diketahui bukan penyakit endemi di benua biru tersebut. Engga tanggung-tanggung, jumlah kasusnya bahkan udah mencapai tiga kali lipat dalam dua minggu terakhir. Makanya, disampaikan oleh Koordinator WHO buat Eropa, Dr. Hans Kluge, berbagai upaya pencegahan dan penanganan wabahnya harus di-upgrade ke next level lagi, biar kasusnya juga nggak makin parah dan bisa ditekan. Secara keadaannya udah mendesak kayak gini yekan.
 
Tapi kalo monkeypox ini udah ada vaksinnya ya?
Yep, udah. Jadi vaksinnya itu pengembangan aja guys dari vaksin smallpox atau chickenpox aka cacar air. Nah, di negara-negara kayak Inggris dan Jerman, pemberian vaksinasi buat monkeypox ini udah dilakukan khususnya kepada mereka yang high risk. Adapun kalo di Covid-19, kelompok high risk adalah mereka yang punya comorbid atau udah tua, maka dalam monkeypox ini, yang highrisk adalah gay dan bisexual men yang punya banyak partner seksual. Kesimpulan ini diambil karena dari data UK Health Security Agency (UKHSA), ditemukan bahwa sejak pertama kali kasusnya terdeteksi di Inggris pada 7 Mei lalu, 96% penderitanya adalah gay. Terus dari semua kasus yang ada, penderita yang berjenis kelamin perempuan cuma ada lima aja.
 
Kalau di Indonesia gimana?
Meanwhile here at home, Kementerian Kesehatan memastikan belum ada kasus monkeypox yang ditemukan di Indonesia. However, disampaikan oleh Jubir Kemenkes dr. Mohammad Syahril, Sp.P, MPH, pemerintah udah siap siaga melakukan berbagai upaya pencegahan. Salah satunya adalah dengan melakukan pengetatan di pintu-pintu masuk negara, kayak pelabuhan atau bandara. FYI, penularan monkeypox ini terjadi melalui skin-to-skin contact, kissing, maupun droplet yang berdekatan. Terus, wabah ini ngga menyebar melalui udara kayak covid-19 gitu.
 
Okay….
Masih dari pernyataan dr. Syahril, di pelabuhan atau bandara itu udah dilakukan screening, jadi kalau ada yang bergejala seperti gejalanya cacar monyet, yha nggak boleh masuk. Tapi kalau yang udah sembuh atau mereka yang tanpa gejala, mereka tetap masih bisa masuk ke wilayah Indonesia, kalau kata dr. Syahril sih gitu, guys. Adapun gejala yang ada di wabah ini adalah sakit kepala, badan panas, dan ada benjolan kayak cacar di sekujur tubuh.
 
I see. Did anyone say anything?
Yep. Dirjen WHO, Tedros Ghebreyesus, bilang pihaknya udah berkoordinasi dengan beberapa ahli dari seluruh dunia buat mengubah nama monekypox ini, guys. Kenapa diganti, hal ini dikarenakan desakan berbagai pihak yang bikin surat terbuka langsung ke WHO atas nama monkeypox yang diskriminatif dan full of stigma banget, dan ngejurusnya langsung ke Afrika. Makanya harus diganti. Selain itu, Pak Tedros juga bilangnya minggu depan bakalan diputuskan apakah wabah monkeypox ini masuk ke kategori darurat. Kalau iya, berarti kan pembentukan Komite Daruratnya juga bakal segera diputuskan gitu.
 
OK. Anything else?
Btw, despite the fact that Indonesia belum menemukan satupun kasus monekypox, bukan artinya kita boleh lengah, guys. Protokol kesehatannya jangan sampai ketinggalan. Meanwhile, pemerintah