Baku Tembak Anggota Polisi

111

Insiden penembakan di rumah Kadiv Propam Ferdy Sambo.

Aaaaalrite everybody, listen up.
Karena hari ini kita mau ngebahas soal kejadian yang super shockingsuper full of ???? yaitu tragedi baku tembak antara anggota polisi di rumah salah satu petinggi Polri. Akibat dari kejadian ini, satu orang polisi tewas mengenaskan.
 
WHAT????
Iya. Kejadiannya itu terjadi di hari Jumat minggu lalu, di rumah dinas Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan aka Propam Polri, Irjen Ferdy Sambo yang terletak di Kawasan Duren Tiga, Jakarta. Dijelaskan oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan, jadi di hari itu, kondisinya Pak Ferdy nggak ada di rumah tuh. Yang ada cuma istrinya Pak Ferdy yakni Bu Putri Ferdy Sambo, anggota Bareskrim Brigadir Yosua Hutabarat aka Brigadir J yang ditugaskan sebagai sopirnya Bu Putri, dan ajudan Irjen Ferdy, yang berinisial Bharada E.
 
What happened there?
Sore-sore sekitar jam 5, Brigadir J disebut melakukan pelecehan kepada Bu Putri dengan mendatangi beliau ke kamarnya di mana bu Putri lagi beristirahat. Terus pas di kamarnya itu, Brigadir J juga sempat menodongkan pistol ke arah Bu Putri. Panik dong Bu Putri, sehingga beliau berteriak minta tolong, yang kedengeran sama ajudan Pak Ferdy yang berinisial Bharada E. Nah Bharada E yang lagi ada di lantai dua bertanya, “Ada apa bang?” namun pertanyaannya dibalas dengan tembakan. Terjadilah baku tembak di situ.
 
…..
Akhirnya, baku tembak itu berakhir dengan tewasnya Brigadir J. Hal ini terbukti dan diperkuat dengan hasil olah TKP, pemeriksaan saksi, dan alat bukti. Kata Pak Ahmad, ada tujuh proyektil yang dikeluarkan dari Brigadir J, dan lima dari Bharada E. Nah pas kejadian Pak Ferdy sang suami lagi ngga di rumah, namun kemudian Bu Putri menelepon beliau dan meminta supaya segera pulang. Nah, Pas Ferdy pulang, Brigadir J udah ditemukan tumbang dan dinyatakan tewas. Dari situ, Irjen Ferdy buru-buru menelpon Polres Metro Jakarta Selatan untuk melakukan olah TKP dan penyelidikan.
 
OMG…
Nah guys, setelah insiden penembakan ini, Bharada E langsung diamankan polisi untuk dimintai keterangan. Sampai berita ini ditulis, Bharada E masih berstatus sebagai saksi. Terus masih menurut Pak Ahmad, penembakan oleh Bharada E itu nggak punya motif lain selain karena mau membela diri dan membela Bu Putri. Karena siapa pun yang lagi di bawah ancaman tentunya bakal melakukan tindakan serupa.
 
Terus kalo Brigadir J-nya? 
Adapun Jenazah Brigadir J udah dibawa pulang ke keluarganya di Kabupaten Muaro Jambi, di Jambi kemarin. Dia dimakamkan tanpa adanya upacara kepolisian. Hal ini dikarenakan sampai jenazah selesai dimakamkan, instruksi dari Mabes Polri terkait upacara kepolisian itu juga nggak ada. Nah terus, prosesi pemakamannya juga penuh haru, di mana Ibunda dari Brigadir J terus menangis di samping peti jenazahnya anaknya.

Talking about the family…

Yep, they’re not really happy. Pihak keluarga menemukan banyak kejanggalan dalam kematian maupun jenazah Brigadir J. Misalnya, mereka menemukan sayatan di beberapa bagian tubuh Brigadir J. Selain sayatan, dua jarinya putus dan ada juga lebam kayak abis dianiaya. Pihak keluarga kemudian bertanya-tanya, kayak kalo ditembak kan jarak jauh, terus kenapa ada lebam sampe jari putus segala? Hal ini kemudian diluruskan lagi sama Polri, dikonfirmasi oleh Brigjen Ramadan, balik lagi ke fakta kalau satu peluru itu bisa menyebabkan lebih dari satu luka tembak kan. Secara spesifik, satu peluru nih ditembakin, kena ke jari. Eh tembus, sampai ke bagian dada dan daerah dekat mata, makanya bisa ada sayatan, guys. Hal ini pun bisa dikonfirmasi sama Polri setelah dilakukannya proses autopsi.

 
Anything more?
Iya, pihak keluarga juga mengakui bahwa ketika pertama kali tahu bahwa Brigadir J meninggal, mereka sempat didatangi polisi dan disekap. Rumah mereka ditutup, dan ponsel juga ngga boleh digunakan. Selain itu, pihak keluarga juga sempet ngga boleh melihat luka tembak di jenazah. Atas berbagai kejanggalan inilah, pihak keluarga dari Brigadir J bilang bahwa mereka ngga puas dengan penjelasan polisi dan menuntut adanya pembukaan CCTV.
 
Oh iyaa kan ada CCTV…
Nah CCTV-nya itu lagi rusak gengs. Menurut Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Budhi Herdi Susianto, decoder CCTV di rumah Irjen Ferdy Sambo lagi rusak sejak dua minggu lalu. Karena rusak inilah, ngga ada gambar yang terambil saat peristiwa penembakan tersebut. Makanya, polisi lagi terus mendalami kasus ini dengan mencari alat bukti lain.

 
Rumit deh…
Gitu lah guys. Makanya berita adu tembak dan tewasnya anggota Polri ini juga sampe udah nyampe ke  Presiden Jokowi. Terus, Presiden Jokowi akhirnya memberi instruksi supaya kasus ini diusut tuntas dan proses hukum pun harus dilakukan, no matter what. Terus, Indonesia Police Watch aka IPW mendesak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo supaya membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta aka TGPF buat mengusut kasus ini secara detail. Menurut mereka, emang harus ada lembaga independen satu lagi yang turun buat cari tahu apa motif sebenarnya dari penembakan ini. Pak Kapolri sendiri udah bilang bahwa pihaknya akan membentuk tim khusus demi mengusut kasus ini.
 
Got it. Anything else?
Nah, seiring dengan munculnya kejadian ini, muncul juga berbagai seruan yang mendesak supaya Pak Ferdy dicopot dari jabatannya sebagai Kadiv Propam. Namun hal ini kemudian menuai pro dan kontra karena di satu sisi, beliau tetap menjabat juga bakal sangat memengaruhi profesionalitas Propam ketika menangani kasus ini, tapi di sisi lain sebagai pejabat tinggi Polri, emang proses pencopotannya ngga gampang, lagian juga beliau lagi ngga di rumah.