Autopsi Ulang Jenazah Brigadir J

54

Who’s collecting pieces to pieces?

Everybody 
on Brigadir J’s death case.
Yep. Sejak kasusnya menguak beberapa waktu lalu, banyak banget teka-teki dan kejanggalan dari kematian Brigadir J di rumahnya eks Kadiv Propam Polri, Irjen Ferdy Sambo. Bahkan kematian yang diduga terjadi di rumahnya di Kawasan Duren Tiga itu kini dipertanyakan lagi, dan belum diyakini 100% bener apa nggak, guys.
 
HAH gimana?
Gini, kita mulai dari jasadnya Brigadir Yosua Hutabarat aka Brigadir J yang disebut mencurigakan. Iya, setelah diserahkan ke pihak keluarga dan dicek sama mereka, keluarga menyebut bahwa jasad Brigadir J yang disebut kena tujuh tembakan oleh Bharada E itu nggak keliatan kena luka tembak doang, guys. Ada luka sayatan, ada rahang yang geser, ada lebam, bahkan jarinya yang putus. Hal ini of course bikin keluarga bertanya dong, “Kok bisa begini si?? Ini sih nggak mungkin penembakan doang nih. Ini sih pembunuhan berencana!.”
 
Pembunuhan berencana?
Yep. Dari penemuan itu, diyakini oleh pihak keluarga kalau nggak mungkin ini A to B tragedy doang, guys. Maksudnya, nggak mungkin cuman Bharada E sendiri aja yang melakukan hal ini. Pihaknya juga nggak bisa menerima hasil autopsi sebelumnya yang dilakukan oleh kepolisian yang menyatakan luka sayatan ini adalah tembakan yang ngenain lebih dari satu bagian tubuh jenazah. Makanya, berangkat dari sini, kuasa hukum keluarga Brigadir J, Kamaruddin akhirnya membuat laporan dugaan pembunuhan berencana ke Bareskrim Polri dan mendesak supaya dilakukan autopsi ulang terhadap jasad Brigadir J.
 
Terus, akhirnya autopsi ulang?
Correct. Bareskrim Polri akhirnya menyetujui pelaksanaan autopsi ulang atau yang biasa disebut ekshumasi. Ekshumasi ini sendiri dijadwalkan besok, guys. Hari Rabu, dan berlokasi di tempat pemakaman jenazah di kampung halamannya, di Jambi. Menurut Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo, ada tujuh dokter forensik dari luar kepolisian yang udah mengonfirmasi keterlibatannya dalam melakukan otopsi ulang jenazah Brigadir J. Nah salah satu di antaranya bakal ada dokter forensik TNI juga guys, yang berasal dari RSPAD.
 
Banyakan yha…
Ya iya, kata Pak Dedi, penyidik tuh sangat terbuka terhadap pembuktian ilmiah oleh orang-orang yang ahli di bidangnya. Tujuannya ya supaya kasus ini menjadi terang benderang, transparan, dan akuntabel. Panglima TNI Andhika Perkasa juga menegaskan bahwa pemilihan dokter forensik dari RSPAD itu bukan diarahkan atau dipilih-pilih sama pihaknya, tapi ditunjuk langsung sama Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI). Pokoknya biar gaada kecurigaan. Gitu ceunah.
 
Curiga banget?
Yes, apalagi pihak keluarga Brigadir J yang udah trust issue atas kredibilitas orang-orang di RS Polri yang melakukan proses autopsi awal, guys. Makanya, dengan adanya para dokter dan pakar forensik yang udah disetujui sama pihak keluarga ini, diharapkan proses autopsi ulang pun bisa berjalan secara transparan, biar penanganan kasusnya juga terjamin. Pihak kepolisian pun udah menyetujui rencana autopsi ulang ini. bahkan, Kapolda Jambi, Irjen Rachmad Wibowo juga udah meninjau langsung lokasi autopsi ulang dan segala persiapan lainnya biar proses besok bisa berjalan maksimal.
 
I see. Terus terus, apa lagi?

Nah sambil dilakukan persiapan autopsi ulang, Polri juga working in another station. Tepatnya hari Minggu kemarin, Polda Jambi udah memeriksa dan mintain keterangan dari pihak-pihak terkait, salah satunya dari pacar Brigadir J, namanya Vera. Disampaikan oleh kuasa hukum Vera, Ramos Hutabarat, Vera dimintai keterangan terkait percakapan terakhir yang berjalan antara Brigadir J dan Vera di hari-hari terakhir sebelum kejadian. Hasilnya, Vera bilangnya dia terakhir komunikasi sama Brigadir J di hari Jumat sore, right before kejadian penembakan itu diduga terjadi. Lebih jauh, Vera juga bilang nggak ada kejanggalan apapun yang terjadi dalam percakapan terakhir mereka. Everything was fine aja gitu.


HEMMM… 
Nggak ada kejanggalan ya?
Itu kan katanya Mbak Vera. Kalau kata Kamaruddin selaku kuasa hukum pihak Keluarga Brigadir J, ada kejanggalan yang terjadi, guys. Bahkan udah terjadi sejak Juni lalu, gengs. Pak Kamar menyebut pihaknya udah menemukan rekaman elektronik yang menunjukkan Brigadir J ketakutan dan menangis. Di rekaman itu juga disebutkan terdapat ancaman pembunuhan, dan terus berlanjut sampai satu hari menjelang tragedi penembakan itu, guys. Pak Kamar juga memastikan ancaman itu terjadi di Magelang, Jawa Tengah. That being said, dugaan lokasi TKP tempat Brigadir J akhirnya tewas nggak cuma di rumahnya Irjen Ferdy Sambo aja di Jakarta, tapi juga di Magelang.

 
Hwaduh hwaduh hwaduh….
Speaking about Magelang, tim khusus yang dibentuk Kapolri jenderal Listyo Sigit Prabowo tempo hari juga udah dapet rekaman CCTV sepanjang jalan dari Magelang sampai ke rumahnya Irjen Ferdy Sambo. Kan udah dapet nih, rekaman CCTV itu sekarang lagi diperiksa sama tim penyidik di Laboratorium Forensik Polri buat dicocokkan lagi waktunya. Secara time stamp yang ada di kamera CCTV sama di real time tuh harus sama kan, jadi harus ada proses klarifikasi dan kalibrasi dulu buat mastiin waktunya sama atau nggak.
 
Interesting. Anything else?
In case you’re wondering, sampai saat ini, status Bharada E yang diduga ada bersama Brigadir J di tempat kejadian masih ditetapkan sebagai saksi, guys, belum tersangka. Terus, Bu Putri Candrawathi, yang juga ada bersama mereka di situ juga masih menjalani proses pemulihan trauma bersama psikolognya. Adapun Irjen Ferdy Sambo sendiri udah dinonaktifkan dari jabatannya sebagai Kadiv Propam Polri. Nggak berapa lama, Kepala Biro Pengamanan Internal (Karo Paminal) Divisi Propam Polri, Brigjen Hendra Kurniawan, sama Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Budhi Herdi Susianto juga dinonaktifkan dari jabatan mereka. Hal ini dilakukan biar Polri bisa menangani kasus ini secara profesional dan maksimal.