Kasus Covid-19 di Indonesia Naik Lagi, Korut Mendukung Penuh Upaya Invasi Rusia ke Ukraina, 2024 Apple Akan Menggunakan USB Type-C, Sikap Optimis Memperpanjang Harapan Hidup

32

Good morning

Hello and welcome to Wednesday. Since we’ve been hearing a lot about the new variant of Covid-19 (yep, they’re still here!) consider this email as a gentle reminder for you to take your vitamins. Stay safe, exercise, listen to our podcast, and be optimistic. Wanna know why? Scroll down…

When you think Covid-19 era is over….

Hold your thoughts,
Karena baru aja nih, kasus Covid-19 di Indonesia naik lagi, guys.
 
Not again…
Well, welcome to mid-2022. Covid-19 yang kita pikir udah nggak se-urgent waktu 2020-2021 lalu, dengan kegiatan masyarakat yang udah balik normal lagi. Dipikir kayak ya udah, siap-siap mau endemi lah kita kan. Eh, taunya, varian baru masih muncul, guys, dan udah masuk ke Indonesia.
 
Gimana?
Ok, Seperti yang kita sama-sama tahu nih, perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia dari awal tahun kemarin semakin menunjukkan progres yang positif. Angka kasus yang kian melandai, tingkat kematian yang semakin menurun, dan kondisi rumah sakit yang semakin terkendali. Makanya pemerintah juga kemudian menerbitkan berbagai kebijakan adaptasi dengan melonggarkan berbagai kebijakan terkait pengendalian Covid-19 ini. Kayak PPKM Level 1, Lebaran udah boleh mudik, sampai aturan boleh buka masker outdoor. Terus infonya, pemerintah juga lagi menggodog skenario persiapan menuju endemi.
 
What a progress….
Indeed. Nah cuma yang kadang kita semua skip adalah kenyataan bahwa Coronavirus is still here. Walaupun penularannya nggak semasif dulu (thanks to three doses of vaccines), masyarakat masih bisa banget tertular virus ini, guys. Dan virus ini pun masih bisa mengembangkan dirinya lagi ke berbagai varian. Nah ini yang terjadi baru-baru ini, di mana Covid-19 berkembang lagi dalam varian baru, yang dikasih nama varian BA.4 dan BA.5.
 
Apatu?
Gini, jadi secara global, varian Covid-19 terbaru, yakni BA.4 udah menginfeksi sebanyak 6.903 orang yang ditemukan di 58 negara. Adapun 5 negara dengan kasus terbanyak ada di Amerika Serikat, Afrika Selatan, Inggris, Denmark, dan Israel. Meanwhile, BA.5 diketahui punya angka kasus yang lebih tinggi, yaitu di angka 8.687 kasus dan menginfeksi di 63 negara. Lima negara dengan kasus tertinggi ada d Amerika Serikat, Jerman, Portugal, Inggris, dan Afrika Selatan. Inhale, then exhale. The thing is, dua varian ini dikonfirmasi sudah ditemukan di Indonesia.
 
Here we go again….
We know, rite. Konfirmasi kasus ini disampaikan langsung oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan persnya hari Senin kemarin. Pak Budi menyebut saat ini udah ada total delapan kasus di Indonesia dan tiga di antaranya datang dari orang-orang Mauritius, Amerika Serikat, dan Brazil yang akhir Mei lalu sempat ke Bali dalam rangka Global Platform for Disaster. Sementara lima lainnya tuh kena transmisi lokal, empat kasusnya di Jakarta, satu di Bali.
 
Terus terus….
Lebih jauh, Menkes Budi Gunadi Sadikin bilangnya kalau diliat dari tren yang sebelum-sebelumnya kayak Delta dan Omicron, puncak kasus itu bakalan terjadi di satu bulan setelah kasus pertama ditemukan. This means kalau kasus pertama di Indonesia ditemukannya akhir Mei, berarti punak kasus Covid-19 varian BA.4 dan BA.5 ini bakalan terjadi di akhir Juni nanti sampe Juli. Nah tapi kayaknya nggak usah nunggu akhir bulan, dalam beberapa hari terakhir ini aja kasusnya udah naik aja nih guys.
 
Hadeuuuu…
Yep, kemarin banget nih, Indonesia mencatatkan kasus Covid-19 tertinggi sejak bulan April 2022, yaitu sebesar 930 ribu kasus di seluruh tanah air. Lebih jauh, Jubir Vaksinasi Kemenkes, Siti Nadia Tarmidzi menyebut peningkatan kasusnya tuh terjadi paling banyak di enam provinsi, guys. Ada DKI Jakarta, Jawa Tengah, Lampung, Bali, Kalimantan Utara, dan Maluku. Luckily di luar enam provinsi ini belum melaporkan adanya peningkatan kasus.
 
Gejala varian baru ini kayak gimana sih?

Well, dari total delapan kasus yang ditemukan, rata-rata dari mereka tuh adalah masyarakat yang udah divaksin, dan udah divaksin booster. Makanya, kebanyakan dari dari pasien positif ini juga nggak bergejala. Nah kalau yang bergejala, disampaikan oleh perwakilan dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Erlina Burhan, menyebut, pasien Covid BA.4 dan BA.5 ini mengalami sakit tenggorokan, mual, sesak nafas, lemah lesu, dll.

 
OMG pls banget jangan….
Amen. Balik lagi ke Menkes Budi. Pak Budi bilang pihaknya bakalan terus memantau perkembangan kasus di tanah air atas dua varian ini. Secara kalau menurut standard-nya WHO, Indonesia dengan delapan kasus tuh masih ada di level 1, guys. Iya, Pak Budi bilangnya standard dari WHO kalau kasusnya masih di maksimal 20 kasus per minggu per 100 penduduk itu masih masuk level 1.
 
OK. Anything else?
Sejauh ini pemerintah masih terus siaga mencegah gimana caranya biar kasus Covid-19 varian B4 dan B5 ini sebanyak delapan kasus ini nggak bertambah. Untuk itu, Presiden Joko Widodo tetap menyarankan masyarakat buruan vaksin booster, biar kekebalan tubuh juga meningkat. Secara sekarang udah banyak banget kegiatan berkerumun kayak konser dan sebagainya.

Who says “Gw dukung lo sob“?

North Korea.

To Russia.
Yep, from one random guy, to another random white guy. Kim Jong-un si pemimpin Korea Utara yang bestie banget sama Vladimir Putin itu akhirnya kemarin mengumumkan kalau dia mendukung penuh upaya invasi yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina.
 
Wait, how did we get here? Catch Me Up! 
Jadi kan sejak Februari lalu, Rusia udah menuai banyak kecaman sampe kebencian dari dunia internasional karena serangannya ke Ukraina. Alasannya, kedekatan Ukraina ke negara-negara Barat kayak AS dkk itu mengancam kedaulatan Rusia banget, secara Ukraina dan Rusia tuh bener-bener tetanggaan, dan Rusia (under Putin) ga suka juga sama negara-negara Barat (talking about luka masa lalu, perang dingin, kenangan Uni Soviet…). Pokoknya Rusia be lyke, “Gue ga suka sama negara-negara Barat, titik!”
 
Go on…
Nah tapi, si tetangga aka Ukraina ini justru malah makin deket sama negara Barat, ditambah Ukraina pengen jadi member NATO, aka aliansi militernya negara-negara Barat. Makanya Rusia makin ngegas dong. Buat mereka, ini ancaman nyata banget, karena di NATO tuh ada aturan bahwa kalo satu anggota diserang, maka semua bakal balik nyerang. Meaning, kekuatan militer Ukraina bakal suddenly multiplies kalo mereka gabung sama NATO. So Russia was like, “Nope, that can’t be happening.” Dan setelah nego-nego diplomasi back and forth ga ketemu-ketemu, akhirnya Rusia melancarkan the so called “special military operation” ke Ukraina and since then… all hell breaks loose, invasi dan peperangan terus terjadi. Sampe sekarang.
 
Geeez….
Rite. Nah dalam menanggapi serangan ini, sebenernya respons masyarakat global tuh mixed feelings. Ada negara-negara Barat yang ngamuk banget sama Rusia sampe memboikot macem-macem, ada kayak kita, Arab Saudi, sampe India yang diem-diem bae, ada juga nih, Suriah (we know, random) yang secara terbuka mendukung Rusia. Nah terbaru, Pak Putin ini baru dapet dukungan juga dari pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un.
 
I see…
Nah soal ini, dari awal emang Korut udah menunjukkan dukungannya buat serangan Rusia ke Ukraina. Makanya pas waktu itu sempet viral soal mayat bergelimpangan di Bucha, Ukraina yang dibilang karena dibantai tentara Rusia, Korut secara terang-terangan tetep mendukung Rusia berada di forum Dewan HAM PBB. Padahal, negara-negara Barat lainnya ngeliat tragedi itu sebagai pelanggaran HAM berat dan Rusia udah ngga seharusnya ada di dewan HAM tersebut. (catch up! with the full story here)
 
Terus terus…
Lebih lanjut dalam keterangan resminya Senin waktu setempat. Kementerian Luar Negeri Korut menyebut bahwa invasi yang terjadi di Ukraina tuh bukan salahnya Rusia sama sekali, tapi salahnya AS. Di situ disebutkan pihak AS bersalah karena udah menerapkan double standard karena mendukung Ukraina in the name of peace and stability tanpa ngeliat Rusia yang juga harus mempertahankan keamanan dan kedaulatan buat negaranya sendiri. Makanya mereka stand together with Rusia dan mengecam AS.
 
Rumit ugha.
Ya bener. Terus ga cukup dengan openly supporting aja, pada momentum Russian Day 12 Juni lalu, Presiden Korut Kim Jong-un secara resmi nge-DM Vladimir Putin langsung dan menyatakan dukungan penuhnya terhadap invasi yang dilakukan Putin, despite berbagai kecaman internasional yang diterima dua negara. Di message itu, Kim juga bilang kalau Rusia udah mencapai keberhasilan besar dalam upayanya membela martabat dan keamanan negara.
 
I see.. Terus apalagi katanya?

Lebih lanjut, Kim Jong-un juga bilang kalau serangan yang dilancarkan Rusia itu emang makes sense buat membela kedaulatan negara, dan sebagai perjalanan panjang dalam membela keadilan internasional dan buat nge-make sure keamanan global tetap terjaga. That being said, hubungan persahabatan dua negara ini bakalan terus menguat di semua bidang, guys.

 
Bestie banget nii…
Iya, tapi at the same time, kalo diliat-liat keduanya emang punya common enemy yaitu jeng jeeeeng Amerika Serikat! Yep, AS dengan segala power-nya di PBB tuh hobi banget ngusul-ngusulin sanksi, dan sebelumnya, mereka pernah mengusulkan di Sidang Umum PBB supaya organisasi internasional itu menjatuhkan sanksi ke Korea Utara. Alasannya, karena Kim Jong-un dkk udah melakukan enam kali uji coba rudal nuklir ini di tahun ini. Tapi, usulan AS tuh di-veto sama China dan Rusia. The same story goes with Russia, yang udah berjejer banget nih boikot-boikot dan sanksinya dari US. Segala McD udah gaada di sana, guys. Jadi kayak, ngeselin banget kan ni si Paman Sam buat Putin dan ahjussi Kim ini.
 
Got it. Anything else?
Meanwhile, in Ukraine, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut bahwa mencapai titik buntu dalam perang melawan Rusia is not an option for them. Dari situ, Zelenskyy juga maunya mereka damai aja gitu, biar nggak ada lagi masyrakat Ukraina yang harus jadi korban. Tapi, yang harus diajak ngomong supaya damai yha emang harus Vladimir Putin-nya langsung, nggak bisa orang lain. Nah ini yang mereka nggak bisa lakukan sampai sekarang.

Who’s having something in common?

Me and my crush.
Well, sama dong. Sama Android dan Apple. EHEHEHE.
 
Gimana?
Jadi baru aja confirmed nih, bahwa pengguna Android dan iPhone di Eropa akhirnya bisa bersatu karena start from 2024 nanti, seluruh handphone, termasuk iPhone diwajibkan di-charge pakai kabel yang sama kayak yang dipakai kebanyakan Android, yaitu Kabel USB Type-C.
 
Interesting.. How did we get here?
Well, selama ini kan kita tahunya iPhone dan produk Apple lainnya termasuk iPad dan AirPods tuh di-charge pakai kabel khusus ‘Lightning’ dan emang cuma bisa dipakai buat produknya Apple kan. Nah, minggu lalu, Parlemen Uni Eropa resmi mengeluarkan aturan di mana seluruh produk elektronik di Eropa berupa smartphone, tablet, laptop, earbuds, dan speaker portable harus di-charge pakai kabel USB Type-C, guys.
 
Wow…
Nggak sembarang aturan, penggunaan USB Type-C ini nantinya juga bakalan disahkan jadi undang-undang di summer tahun ini, which is sekitar Juli-Agustus, dan bakalan legit sah dan wajib dijalankan sebagai aturan dalam kurun waktu 24 bulan sejak aturan itu disahkan, yaitu di Summer tahun 2024 nanti.
 
Jadi Apple bakalan ganti kabel dong? 
Yha mau nggak mau. Disampaikan oleh Anggota Parlemen EU, Malta Alex Agius Saliba, aturan ini bakalan berlaku buat semua pihak. Dan sampai saat ini, belum ada nota kesepakatan yang ngomongin soal kelonggaran buat produk-produknya Apple. That being said, Apple mau nggak mau harus ngikutin kebijakan ini, kalau emang mereka masih mau dagang di Eropa. Lebih jauh, Apple juga punya waktu dua tahun buat nge-adjust produk barunya diganti ke kabel yang Type-C itu. Kalau nggak, yha bakalan kalah saing sama Samsung, Huawei, Realme, Vivo, dan Android lainnya yang udah duluan beralih ke Type-C.
 
Tapi emang kenapa harus seragam semua si?
Pernah ga kamu punya gadget berbagai jenis (Android, Apple, u name it…) terus ribet banget pas mau nyarger karena bingung kabelnya yang mana? Atau pernah ga kamu merasa bersalah karena jadi punya banyak charger-an elektronik ga kepake yang ended up jadi limbah lingkungan, padahal kamu tahu limbah elektronik itu bahaya banget? Nah hal-hal itu guys yang jadi alasan. Jadi dalam rapatnya Komisi Uni Eropa Selasa lalu, #commoncharger ini emang kudu berlaku, demi mengurangi limbah elektronik dan bikin idup lebih gampang. Secara ga cuma hape, tapi kamera dan tablet pun bakal wajib punya jenis colokan yang seragam.
 
Okay…
Tapi nih guys, kalau Apple tetap kekeuh nggak mau ganti produknya pakai Type-C, ada juga kemungkinan di mana mereka bakalan pakai sistem wireless charging, alias nggak pakai kabel. Secara aturan di atas itu kan berlaku buat produk elektronik yang di-charge pakai kabel doang yah, nah kalau emang bener kemungkinan ini yang diterapkan Apple di tahun 2024 nanti, berarti produk mereka bakalan bersih nggak ada lubang-lubang, kayak yang sekarang udah direalisasikan di iPhone 12 dan 13.
 
I see. Anything else I should know?
Fyi di tahun 2009 lalu, udah ada MoU yang intinya semua perusahaan ponsel harus pakai kabel micro USB sesuai standar-nya Eropa, termasuklah si Apple ini. Eh rupanya, di 2012 Apple rebelled sendiri dengan pakai kabel lightning eksklusif mereka sampai sekarang. Ketika aturan soal #commoncharger ini pertama kali muncul tahun lalu, Apple sempet bilang, “Ya paham sih, tujuan Uni Eropa adalah untuk melindungi lingkungan, terus perusahaan kita juga udah ‘carbon neutral’ kok. Cuma ya kalo aturannya terlalu strict gini, khawatirnya malah menghentikan inovasi yang ujung-ujungnya ngerugiin pengguna.” Tsk tsk.

To all optimistic person di manapun berada...

You could live longer
Yes guys, ada satu hal nih yang bisa kamu lakukan supaya bisa hidup lebih lama. Dan no. We’re not talking about makan sehat, rajin marathon, kena petir kayak Blake Lively di age of Adeline tapi cukup aja dengan…. Being optimistic.
 
Yep. Riset terbaru yang dilakukan oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health Menemukan bahwa emang sikap optimis itu bisa memperpanjang harapan hidup. Dijelaskan oleh peneliti utamanya Hayami Koga, semakin optimis seseorang, maka semakin panjang harapan hidupnya hingga sampai berusia di atas 90 tahun.
 
Adapun hal ini ditemukan dari hasil penelitian atas sekitar 160ribu orang dengan latar belakang dan ras yang berbeda. Hal ini juga mendukung data yang ditemukan oleh penelitian sebelumnya di tahun 2019 yang menemukan bahwa cewek maupun cowok dengan tingkat optimisme tinggi memiliki 11% sampai 15% harapan hidup yang lebih tinggi daripada mereka yang hidupnya kurang optimis.
 
Selain itu, orang-orang optimis juga memiliki harapan hidup rata-rata hingga usia 85 tahun atau lebih. Nah kira-kira, kenapa sih hidup optimis itu sampe bisa bikin harapan hidup kita tinggi? Well ternyata, karena optimis kan bikin kita jadi lebih positive thinking, dan dengan berpikir positif, maka stress kita juga berkurang. Dan berkurangnya stress bisa bikin jantung kita lebih sehat, sistem imun yang lebih baik, hingga fungsi paru yang meningkat.
 
Nah kan, more reasons to live positively…

“Aku kerja saja. Aku mulai dari bawah kerjanya kerja saja, semampu-mampu dan sekuat-kuatnya.”

Gitu guys kata Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo pas ditanya soal isu bahwa dirinya bakal terkena reshuffle kabinet yang akan dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam waktu dekat ini. Pak SYL sih bilang dia ga masalah, pokoknya mau kerja-kerja-kerja aja. FYI guys, emang isu reshuffle ini lagi rame banget, khususnya setelah kemarin sore sampe malem banyak menteri-menteri yang merapat ke Istana Merdeka. Pssst isunya sih guys, reshuffle-nya itu bakal kejadian hari ini.
 
When you just want to avoid all the office drama…

Announcement


Thanks to Dudukpalingdepan & anonymous for buying us coffee today!

(Mau ikutan nraktir tim Catch Me Up! kopi? Here, here…just click here Dengan mendukung, kamu nggak cuma beliin kopi yang menemani kami nulis, namun kamu juga udah men-support kami untuk terus berkarya dan membuat konten-konten berkualitas yang imparsial dan bebas dari kepentingan. Thank you so much!)

Catch Me Up! recommendations

We know, we know, it’s still Wednesday, but here’s some romantic date ideas. Thank us later.