Bank Belum Bebas Dari Emisi

29

When you should be more aware…

Of where you put your money at. 
Alias bank.
Yoi guys. Sekarang kita mau ngomongin tentang rahasia (Probably one of the biggest secrets) Yang mungkin kamu belum tahu dari tempat kita nabung ini. Yep, this is the untold story of…. banks.
 
Hah gimana?
Iya. Gini lo guys, secara usia-usia kita sekarang tuh kan udah fase adulting yah. Kamu pasti sering banget dong berurusan sama bank. Berkali-kali keluar masuk bank, sampe ketagihan dilayanin sama satpam di situ EHEHEHEHEH. Terus, kamu pasti udah tahu juga kan kalau kamu tuh bisa banget minjem duit ke bank untuk berbagai kebutuhan, guys. Termasuklah juga si para pengusaha yang mau mengembangkan bisnisnya.
 
I see….
Sebenernya yha nggak ada masalah kalau bank mau minjemin dan mendanakan berbagai bisnis tadi. Nah, masalahnya ada di jenis bisnisnya itu lo, gengs. Di Indonesia, masih banyak bank-bank yang ternyata melakukan pendanaan ke bisnis-bisnis yang sifatnya merusak lingkungan, hiks. Kayak bisnis batu bara misalnya. Meaning, Bank-bank itu ternyata juga nggak menerapkan sustainable banking dan green financing.
 
Apatu?
Nah dua hal ini yang kemaren rame kita bahas di Twitter, guys. Barengan sama Dian Paramita dan Hans Nicholas Jong. Kita ngebahas soal konsep sustainable banking dan green financing yang diterapkan di bank-bank di Indonesia. Dan dari pembicaraan ini, baik Hans dan Dian udah setuju kalau bank di Indonesia tuh sebenarnya udah most likely mendukung green financing. TETAPIIII, mereka masih belum bebas dari emisi, guys. Emiisi ini yang kemudian bikin suhu bumi jadi panas dan gas efek rumah kaca juga makin parah.
 
And it all starts from….
The money aka banks, yang kasih pinjaman ke pengusaha itu. Kalau dibandingin sama bank-bank di beberapa negara, mereka tuh udah nggak lagi kasih kredit aka pinjaman or whatsoever ke pengusaha yang propose bisnis dengan industri fosil ini, guys. Beda sama bank-bank di Indonesia mau itu yang milik negara atau yang swasta yang kebanyakan masih mendukung industri fosil dan merusak lingkungan ini. Parah banget kan.
 
Terus gimana dong?
Nah kalau kata Mbak Dian, yang bisa menghentikan bank-bank di dalam negeri buat menghentikan pendanaan ke industri fosil itu salah satunya adalah dengan mereka yang peka sama tren bank-bank di negara lain, guys. Dengan mereka yang peka sama tren di luar negeri itu, ini bisa jadi trick marketing yang ampuh banget, lo. Brand image bank mereka pun nggak lagi dicap buruk deh. Selain itu, once bank di Indonesia udah berhenti melakukan pendanaan ke industri kotor itu tuh, nilai mereka dalam pasar kompetisi industri juga makin naik dong.
 
Makes sense…
Selain itu, penghentian pendanaan ke industri fosil ini juga bisa dilakukan dari diri kita sendiri, guys. kalau kata Hans yang basic-nya emang seorang jurnalis sih, dengan masyarakat tahu fakta ini, masyarakat kemudian bisa mikir apa nih yang salah, di mana salahnya, yang bener harusnya gimana, gitu-gitu. Yang penting masyarakat aware dulu, dengan disampaikan secara hati-hati ke masyarakat. While masyarakat juga mikir yang bener harusnya gimana, at the same time media juga punya peran di mana bisa kasih solusi, yang ketika dibaca sama orang, jadi kayak, “Oh iya yaa.. Gitu ya? bener juga sih,” gitu kira-kira, gengs.
 
That’s it? Anything else?

Mbak Dian juga menuturkan spreading awareness ke orang-orang tuh bisa dilakukan dengan nge-approach dulu orang-orang yang terdekat sama kita kayak mama papa, kakak, sodara, dan bestie yang 24/7 ketemu. Itu dulu yang dikejar. Kasih tau deh ke mereka tentang keadaan sekarang gimana, urgensinya gimana, bilangin, “Climate crisis tuh lagi happening lo. Kita nggak bisa tinggal diem!” Nah dari situ, baru deh disebarin lagi dengan skala yang lebih luas. Dengan begitu, the real sustainable banking dan green financing bisa kita achieve, deh. Emisi karbon juga jadi zero carbon.

And it will start from… you.