Tersangka Kasus Korupsi Minyak Goreng

57

Now, let’s get to know your A to Z about minyak goreng…

*Caution! this story will or will not make you wanna puke. But most likely will.*
 
Anyway guys, jadi thanks to Kejaksaan Agung RI yang kemarin akhirnya mengumumkan tersangka kasus korupsi minyak goreng yang merugikan negara dan bikin minyak goreng either mahal atau langka belakangan ini. Dan orang itu adalah… jeng-jeeeeng yak orang pemerintahannya itu sendiri! Dan beberapa pihak swasta yang jadi partner in crime-nya.
 
Why am I not surprised…
Same. Jadi dalam pengumumannya yang langsung dilakukan oleh Jaksa Agung ST Burhanuddin, disebutkan bahwa sang tersangka yaitu Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Dirjen Daglu Kemendag) berinisial IWW aka Indrasari Wisnu Wardana sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pemberian fasilitas ekspor crude palm oil atau CPO atau minyak goreng. Selain Si Indra, ada tiga orang lagi dari pihak swasta yang juga jadi tersangka.
 
WOW. Gimana tu cara mainnya?
Jadi gini guys, back in January lalu, kementerian perdagangan itu bikin aturan supaya harga minyak goreng tetap terjangkau dan ngga langka di pasaran. Adapun nama kebijakannya adalah Domestic Market Obligation (DMO) dan Domestic Price Obligation (DPO). Dalam DMO, pemerintah ngatur bahwa perusahaan-perusahaan yang mau ngekspor minyak goreng ke luar negeri tuh harus memasok juga ke dalam negeri sebesar 20 persen dari volume ekspor mereka ke luar negeri. Ya kan, kan supaya ngga langka tu minyak.
 
Terus…
Nah sedangkan DPO, aturannya adalah soal berapa harga barangnya di pasaran gengs, di mana pemerintah juga menetapkan bahwa harganya adalah Rp 9.300 per kilogram untuk CPO dan Rp 10.300 per liter untuk olein. Nah karena ada dua kebijakan ini, maka pemerintah juga menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng di kisaran harga Rp 11.500 sampe Rp14.000 per liter aja. Yakan supaya ngga mahal. Nah hopefully karena supply-nya udah diisi sama perusahaan-perusahaan ekspor tadi, dan harga minyaknya juga udah dibatasi, ya logikanya harusnya stabil lagi dong tu, supply dan harga minyak di pasaran…
 
Iya harusnya sih…
Ya tapi tak semudah itu, Fergusso. Karena kalo kamu inget nih, Mendag saat ini Pak Muhammad Lutfi sampe udah puyeng banget karena udah 1001 cara dilakukan namun masih ga muncul juga tu minyak di pasaran. Iya, kayak gajian kamu aja gitu, ilangnya cepet banget. ehehee. Anyway jadi awalnya, Kemendag sampe menyalurkan minyak subsidi sebanyak ratusan juta ton ke warga. Masih langka. Gaet polisi buat razia para penimbun, eh masih langka juga. Nerapin Harga Eceran Tertinggi aka HET, makin langka lagi, sampe MUI ngeluarin fatwa penimbun minyak itu haram dan dosa besar, masih ga mempan juga. Eventually di depan DPR Pak Lutfi bilang: Maap ga mampu menghadapi mafia migor 🙏🏻🙏🏻
 
Jadi pelakunya mafia nih?
Yep, dan plot twist: diduga salah satunya adalah bawahannya Pak Lutfi sendiri yakni si Indrasari tadi. Nah, apa perannya si Indra? Jadi kalo dari penjelasan Pak Jaksa Agung, si Indra ini diduga tetap ngasih izin buat perusahaan-perusahaan eksportir minyak, padahal mereka ngga memenuhi aturan DPO dan DMO tadi. Artinya, perusahaan-perusahaan ini ngga ngejual minyak sesuai harga dari pemerintah (tentunya lebih mahal donk, ga mungkin lebih murah) dan ngga mendistribusikan minyak di dalam negeri sesuai kewajiban yaitu 20% dari total ekspor (hence minyak kita jadi langka). Udah tau ga sesuai, tapi si Indra yang jabatannya dirjen ini tetap menerbitkan izinnya buat perusahaan-perusahaan tadi.
 
Gila w emosi banget. 
Same. Si bapak ga tau aja rasanya makan bakwan direbus.. 🙁 Anyway guys, secara tetap diizinin, akhirnya perusahaan-perusahaan swasta itu jadi bisa mulus melaksanakan aksinya bikin minyak di tanah air mahal dan langka. Adapun produsen yang ketahuan bersekongkol sama si Indra ini adalah dari PT Permata Hijau Group, PT Wilmar Nabati Indonesia, dan PT Musi Mas di mana pejabat-pejabat di perusahaan ini juga udah jadi tersangka bareng sama si Indra. Nah abis diumumkan, para tersangka tadi langsung ditahan guys. 
 
Tapi kayak… Dirjennya aja ni?
Yha gatau. Kata Pak Jaksa Agung sih, pihaknya ga akan pandang bulu, kalo ada bukti dan fakta, mau menteri juga bakal diusut. Tapi sih so far Pak JA bilang dia belum memeriksa Pak Lutfi, karena penyidikan tersebut baru dilakukan sejak awal April kemarin.

Well, I believe Pak Lutfi has a say…
Oh iya. Pak Lutfi bilang, Kementerian Perdagangan tetap dan terus mendukung proses hukum yang dilakukan Kejaksaan Agung terkait dugaan gratifikasi atau suap pemberian izin penerbitan ekspor (PE) minyak goreng. Beliau juga bilang pihaknya siap ngasi info-info yang dibutuhkan untuk mengusut kasus ini sampe tuntas.
 
Nice…
Nah soal dugaan tindak korupsinya ini sendiri, Pak JA sih belum nyebutin ya guys total kerugian negara di kasus ini tuh berapa, karena masih diitung. Tapi ya beli gorengan yang biasa goceng dapet lima biji terus sekarang jadi empat aja tuh udah cukup ngerugiin ga si? Belum lagi pemerintah yang harus menggelontorkan bantuan langsung tunai (BLT) minyak sebesar Rp300ribu buat warga yang emang udah gakuat sama harga minyak yang masih mahal. Padahal kalo ga dikorupsi, dana BLT-nya bisa banget dipake buat pembangunan, pendidikan atau sektor lain yang lebih bermanfaat. Hiks. Terkait tindakannya ini, Indra terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara. However, kita harus pantau terus ni guys, karena kalo liat yang udah-udah, hukuman koruptor suka… ya gitu de.
 
Paham. Anything else?
Well, pengungkapan kasus korupsi yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung ini bikin beberapa pihak mulai mempertanyakan kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kayak, kok sekarang yang nangkep kasus-kasus kakap JA sih, bukan KPK? Pandangan seperti ini muncul salah satunya dari mantan juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Febri Diansyah, yang bilang bahwa eks lembaganya itu “kecolongan” soal korupsi ekspor minyak kelapa sawit. Atau jangan-jangan, KPK udah dilupakan? Gitu guys isi twitnya Bang Febri…