PPKM di Jawa-Bali Berakhir

26

When we talk about things getting back to normal….

We’re looking at you, Covid-19.
Yang makin ke sini, perkembangannya makin menggembirakan. Iya ni guys, kamu juga tentunya ngeh bahwa sekarang kehidupan udah berangsur-angsur kembali normal, seiring dengan jumlah kasus Covid-19 yang makin berkurang. Nah terus, per kemarin banget nih, PPKM di Jawa-Bali beakhir, setelah sebelumnya berlaku selama dua minggu.
 
Cool. Tell me more. 
Well, jadi dalam dua mingguan ke belakang, kasus Covid-19 di Indonesia semakin menunjukkan progres yang baik, di mana pada periode 4-10 April kemarin, angka kasus Covid-19 dalam seminggu tercatat sebanyak 12.726 kasus. Nah terus minggu lalu, di periode 11-17 April, angka kasus menurun jadi 7 ribuan kasus. Oke nggak tuh?
 
Oke banget sih, terus terus?
Terus, bukan cuma angka kasusnya aja yang mengalami penurunan, namun juga angka kematiannya. Jadi dari jumlah total kematian sebanyak  338 kasus di periode 4-10 April, terus turun jadi 240 kasus di minggu depannya. Ini dia yang bikin pemerintah (and all of us) juga hepi karena ini tandanya Covid di Indonesia beneran mulai bisa dikendalikan.
 
Alright. So anything changed?
Of course. Seiring dengan perkembangan ini, Pak Jokowi kemudian mengumumkan informasi yang tentunya bikin kamu mixed feeling nih: Silakan mudik. Yoi guys, setelah dua tahun kamu bisa menghindar dari pertanyaan kapan niqa dengan alasan pandemi, sekarang udah engga bisa lagi. Karena kamu udah boleh pulang kampung aka mudik sama Pak Jokowi.
 
Hah bener nih?
Bener. Jadi dalam keterangannya kemarin, Pak Jokowi engga hanya membolehkan mudik, tapi juga mengimbau supaya mudik dilakukan lebih awal, supaya kamu ngga kena macet. Kata Pak Jokowi, bakal ada 23 juta mobil dan 17 juta sepeda motor selama arus mudik, jadi most likely bakal terjadi kemacetan pada puncak arus mudik. Karenanya, yuk masyarakat ayo kita hindari puncak arus mudik yaitu pada 28, 29, dan 30 April 2022.
 
Jadi legit udah bisa mudik nih ya…
Udah banget, bahkan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 juga udah merilis ni guys, aturan syarat perjalanan orang dengan moda kereta api untuk periode mulai 2 April 2022 atau menjelang mudik lebaran tahun ini. Nih simak baik-baik ya, karena ada empat poin utama. Pertama, kalo kamu udah booster, maka kamu bisa naik kereta api tanpa harus menunjukkan hasil negatif tes RT-PCR atau rapid test antigen. Terus kalo udah dapet 2nd shot, kamu masih harus menunjukkan hasil negatif antigen maupun PCR. Hasil antigennya harus 1×24 jam, sedangkan PCR bisa yang 3×24 jam.
 
Terus terus…
Nah kalau baru vaksinnya baru yang pertama aja, maka wajib ngasi liat hasil PCR 3×24 jam sebelum perjalanan. Finally, kalo kamu punya kondisi kesehatan khusus yang bikin kamu ga bisa divaksin, maka kamu harus menunjukkan hasil negatif tes PCR maksimal 3×24 jam, dan dengan melampirkan surat dari RS yang bilang bahwa kamu belum atau ngga bisa mengikuti vaksinasi Covid-19.
 
Jadi… udah bisa halal bihalal juga nih?
Yep, tapi it comes with a twist: Halal bihalalnya diimbau untuk engga sambil makan gengs. Menurut Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KCP-PEN) Airlangga Hartarto, masyarakat lebih baik engga melakukan aktivitas makan dan minum pas lagi halal bihalal. Hal ini tentunya untuk meminimalisasi potensi penularan Covid-19 yang sampai saat ini masih bertransmisi di masyarakat.
 
GPP yang penting dikasi THR.
Same. Nah ngomongin THR, not that you asked, but if you’re curious… kamu kepo ga THR-nya Pak Jokowi dan Kiai Maruf Amin berapa? Nah guys, dengan aturan pengalian 6 kali dari gaji tertinggi, maka gajinya Pak Jokowi adalah sebesar Rp30,24 juta per bulan. Sedangkan Kiai Ma’ruf digaji Rp20,16 juta. Ditambah tunjangan pejabat dll, maka THR yang bakal diterima sama Pak Jokowi at least sebesar Rp62,74 juta dan Kiai Ma’ruf sebesar Rp42,16 juta.
 
Ha-ha-ha ok nice to know. Anything else?
Finally, kamu juga perlu tahu ni guys bahwa kemarin, Menteri Kesehatan Pak Budi Gunadi Sadikin bilang bahwa 99,2 persen masyarakat Indonesia udah memiliki antibodi terhadap Covid-19. Kata Pak Budi, antibodi itu terbentuk dari program vaksinasi dan infeksi yang terjadi. FYI, data ini diketahui dari hasil survei yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan bersama Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI).