Jokowi Buka Suara Soal Isu 3 Periode

36

Who’s tired of “tiga periode” rumor?

Me! Definitely.
Well, Pak Jokowi juga guys.
 
Beneran?
Yoi, karena kemarin, Pak Jokowi akhirnya buka suara soal isu yang udah lama banget jadi perbincangan publik ini. Yep ga lain ga bukan soal tiga periode, atau perpanjangan masa jabatan. Well, either way, kita sih no. Gatau ya kalo Mas Anang.
 
Kalo gue abstain deh…
Got it. Tapi kemarin guys, akhirnya Pak Jokowi mengeluarkan statement, di mana beliau menyampaikan instruksi ke menteri-menterinya buat, “Udah yuk. Nggak usah ngomongin perkara pemilu diundur atau tiga periode lagi. Karena ini sikon lagi ga mudah, bentar lagi lebaran, jadi plz kita urusin dulu nih soal bahan pokok.”
 
Amen. But how did we get here? 
Jadi emang dalam beberapa waktu belakangan ini, banyak pejabat publik yang memunculkan wacana tiga periode atau perpanjangan masa jabatan. Padahal, Pak Jokowi udah menjabat di periode kedua, yang kalo di aturan undang-undang dasar sih udah max, gabole nambah lagi. Nah tapi dengan berbagai alasan (pandemi, ekonomi, big data, dll), banyak jajaran menterinya Pak Jokowi yang menyuarakan terkait hal ini, dan tentunya ide ini menuai pro dan kontra di masyarakat. Kayak, “Paan ni weyy kan udah ketok palu mo pemilu…”
 
Terus…
Nah kalo kamu perhatiin, selain soal tiga periode, headline di media belakangan ini juga banyak banget menyorot soal kenaikan harga-harga komoditas. Mulai dari minyak goreng mahal, terus sektor energi kayak gas LPG sama Pertamax harganya juga udah mulai merangkak naik, dll. Dari situ, kemarin banget nih, Presiden Jokowi akhirnya menggelar Sidang Paripurna Kabinet yang dihadiri sama seluruh jajaran menterinya. Di situ beliau ngasih instruksi buat jajaran menterinya buat bikin kebijakan yang sesuai dan tepat sasaran.
 
Okay…..
Nah, mengingat keadaan global yang masih chaos kayak sekarang ini, beliau juga ngingetin para menteri biar jangan bikin polemik dan huru-hara di masyarakat. Termasuk salah satunya adalah jangan lagi ngomongin soal isu penundaan pemilu. Pak Jokowi bilangnya tuh pemerintah harus punya sense of crisis aka sensitif sama kesulitan rakyat. Rakyat lagi susah, jangan diperkeruh lagi sama isu-isu penundaan pemilu. In his words, Presiden Jokowi bilang, “Jangan ada lagi yang menyuarakan mengenai urusan penundaan. urusan perpanjangan. Ndak,” katanya.
 
OK BENER YA PAK. 
Yoi. Terus lebih lanjut, Presiden Jokowi juga bilang ke menteri-menterinya buat jangan diem-diem bae. Ini harga minyak goreng naik udah empat bulan, nggak ada penjelasan apa pun. Harga Pertamax naik, diem. Harusnya yha menteri terkait jelasin kenapa harganya bisa naik. Kasih clarity of why-nya gitu kan. Diceritain aja ke rakyat pakai bahasa rakyat, langkah-langkah apa aja yang udah kita ambil. Jangan seolah-olah bikin persepsi kalau pemerintah tuh nggak ngapa-ngapain dan nggak kerja. Dan jangan bikin persepsi seolah pemerintah tuh nggak punya empati gitu lo.
 
Terus, langkah konkritnya bakal kayak gimana?
Langkah konkritnya adalah dengan nyiapin APBN yang bisa dialokasikan dengan benar dan tepat sasaran, guys. Dalam keterangannya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani bilangnya bakalan ada penambahan pendapatan negara dari inflasi global yang terus meningkat ini kan. Nah, dari pendapatan itu, Kemenkeu bakalan ngerumusin lagi gimana caranya daya beli masyarakat tetap ada, terus momentum ekonominya tetap kejaga, dan APBN juga bisa on track.
 
I see. Terus, ngomongin apa lagi mereka?
Dalam rapat itu juga diomongin soal arus mudik lebaran. Setelah dua tahun kemarin mudik tuh dilarang, akhirnya tahun ini mudik diperbolehkan. Pertimbangannya karena emang angka kasus Covid yang udah melandai, dll. Nah soal ini Pak Jokowi menyebut bahwa semua orang tuh kayaknya tahun ini bakalan mudik. Jadi persiapannya harus ekstra, udah harus mulai dihitung berbagai kemungkinan dan perkiraannya bakal kayak apa.
 
🙁 Anything else?
Btw ngerasa nggak sih kalau struggle kita tuh sekarang bukan lagi soal pandemi tapi soal kenaikan harga? Ini juga yang jadi concern-nya pemerintah, gengs. Pemerintah juga sadar kalau harga pangan yang naik ini udah jadi challenge dan struggle ngalahin pandemi. Untuk itu, pemerintah lagi genjot buat perbaikan ketahanan lapangan kerja yang bakal diadain dari dananya Pemulihan Ekonomi Nasional aka PEN sebesar Rp455 Triliun. Biar masyarakat juga nggak lagi nelangsa dan sengsara, gengs.