Covid-19 Sudah Menjadi Endemi di Indonesia?, Militer Myanmar Semakin Brutal, IMF Memotong Angka Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Jadi Lebih Rendah, Pengguna Layanan Netflix Berkurang

92

Good morning
Hello and welcome to Thursday. We hope you’re still all strong and motivated at work today because well, weekend is just around the corner. Get up, get dressed, and remember that just like your deadlines, THR is coming. Let’s go!

Dear Indonesians, are you ready to call Covid-19…

As endemic?
Yes guys, setelah hampir tiga tahun kita hidup berdampingan sama pandemi Covid-19, sekarang kita udah ada di tahap di mana kasusnya udah turun, angka kematian juga udah turun, dan jumlah vaksinasi naik. Seiring dengan itu, the big question is: Are we ready to call Covid-19 as endemic?
 
Tell me.
So basically, dengan berbagai upaya penanggulangan yang dilakukan, dunia mulai pelan-pelan pulih ni guys dari Covid-19. Bandara udah mulai buka, pembatasan sosial udah berkurang, vaksinasi makin banyak, so people around the world are starting to shift from a pandemic to endemic phase. Hal ini juga yang lagi jadi pertanyaan di Indonesia, apakah kita udah siap guys, geser dari pandemi ke endemi?
 
Siap ga?
Tanya ke Presiden Joko Widodo coba gih. Soalnya kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, ketetapan penentuan status Covid-19 dari pandemi jadi endemi di Indonesia itu datangnya dari presiden, guys. Adapun ketetapan itu juga didasarkan pada berbagai penilaian dan indikasi yang udah disediakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia aka World Health Organization aka WHO.
 
Tapi kira-kira kapan ya jadi endemi?
Well, kalau diliat dari target global, pandemi bisa jadi endemi tuh bakal tercapai di Oktober tahun ini, gengs. Meanwhile, di Indonesia sendiri, Menkes Budi menargetkan transisi pandemi Covid-19 bakal jadi endemi di Indonesia berlangsung satu bulan sebelumnya, yaitu di September. Pak Budi bilang, September ini jadi waktu yang realistis asal nggak ada mutasi baru yang punya karakteristik berbahaya dan bikin laju tingkat penularan yang tinggi. Dan beberapa syarat lain yang ditetapkan sama Kemenkes.
 
Syaratnya apa aja emang?
Nih yah, yang pertama, rate penularan ke orang harus kurang dari 1 persen. Terus rasio positivity rate harus kurang dari 5 persen. Buat yang ini tuh juga udah disesuaikan sama ketentuan dari WHO ya guys, terus yang dirawat di rumah sakit nggak boleh lebih dari 5%, angka kematian nggak boleh lebih dari 3% and last but not least, PPKM pakai level-levelan yang ditetapkan pemerintah harus ada di level 1.
 
Sounds so easy, yet so difficult…
We know rite. Lebih jauh, Jubir Kemenkes Siti Nadia Tarmidzi bilangnya syarat-syarat yang ada tadi itu harus udah terpenuhi at least selama 6 bulan. Jadi kalau pemerintah netapin transisi pandemi Covid-19 di Indonesia itu per September, nah itung aja dari September sampai enam bulan kemudian, berarti di Febrari 2023, itu syarat-syaratnya harus tetap terpenuhi. Baru kemudian bisa diputuskan ini Covid-19 di Indonesia udah masuk endemi atau masih pandemi.
 
 
Now tell me the condition in this April…
Sure. Kita mulai dari syarat pertama. Per April ini, Indonesia belum memenuhi syarat pertama. Hal ini disebabkan karena rate penularan virus ke orang di Indonesia masih ada di angka 2,61% out of 100 ribu penduduk satu minggunya. But the good news is, dari 2,61% itu, dijabarin lagi per provinsi di mana ada 13 provinsi kayak Jambi, Riau, Aceh, Sumatera Utara, dll yang rate penularannya udah rendah di bawah 1, dan 21 provinsi lainnya kayak DKI Jakarta dan Jawa Barat tu masih di atas 1. So, it’s a no.
 
Lanjut…
Lanjut syarat kedua kita oke nih, gengs. Positivity rate kita ada di angka 1,25% out of ambang batas 5%, terus kalau yang ketiga soal keterisian rumah sakit, kita juga oke, guys dengan rata-rata BOR sebesar 3%, meskipun di beberapa daerah kayak Papua BOR-nya masih tinggi banget, but after all, we’re working on it. Nah syarat keempat kita juga checked. Dari batas maksimal 3%, tingkat kematian kita ada di 0.09%. Yang PR tuh di syarat terakhir ini, PPKM level 1, so far baru ada 29 daerah yang udah menerapkan PPKM level 1 ini.
 
Got it. Anything else I should know?
Fyi gengs, kamu harus tahu kalau endemi itu bukan tujuan akhir yah. Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman bilangnya endemi itu juga bukan kondisi yang bagus. Tapi goal sebenarnya adalah gimana caranya supaya nggak ada lagi yang meninggal, nggak ada lagi yang di ICU, nah itu yang harus jadi goal.

When things are getting more concerning…

In Myanmar.
Iya nih gengs, parah banget deh. Kamu tentunya udah tahu kan bahwa selama ini, Myanmar dipimpin oleh rezim militer yang meraih kekuasannya dengan cara mengkudeta pemimpin demokrasi yang legit. Nah selama berkuasa ini, militer Myanmar disebut makin brutal dengan melakukan penangkapan maupun pembunuhan ke siapapun, termasuk tenaga kesehatan aka nakes. Padahal, nakes itu dibutuhkan banget buat providing healthcare bagi warga Myanmar yang mengalami masalah kesehatan.
 
Hold on how did we get here?
Sure. Jadi gini ceritanya. As we all know pemerintahan legit-nya Myanmar tuh dikudeta sama pasukan militer sana sejak awal tahun 2021 kemarin kan, and yes it is still happening until today. Nah, dari kudeta yang dilakukan, banyak banget pemberontakan dan protes di sana-sini, di mana warga turun ke jalan dan meminta supaya pemerintahan legit di bawah Aung San Suu Kyi kembali menjabat. Adapun warga yang protes juga datang dari background yang macem-macem, salah satunya adalah healthcare workers aka tenaga kesehatan aka nakes.
 
Terus terus?
Nah, karena dimonitor terus juga, para tentara militer kemudian menangkap orang-orang yang protes tadi, guys. Termasuklah orang dari golongan healthcare workers ini. Padahal yah, kondisi kesehatan masyarakat Myanmar sekarang tuh lagi nggak baik-baik aja, masuk kategori darurat malah. Dokter yang bertugas makin dikit, rumah sakit makin banyak yang ditutup, eh ini yang ada pakai ditangkap pula.
 
Nooooo 🙁
Yep. Terus diketahui bahwa sejak Februari 2021 lalu, udah ada 140 dokter yang ditangkap karena ikut terlibat di aksi protes nasional di mana 89 dari mereka dijebloskan ke penjara. Nggak cuma itu, tentara-tentara itu juga menyita aset dokter-dokter di sana (Since dokter emang golongan masyarakat paling kaya di sana), terus ngecabut izin praktiknya, sampai masuk geledah rumah sakit buat cari dokter-dokter yang ketahuan menentang rezim. Terus, diketahui juga udah ada sekitar 30 dokter yang dinyatakan tewas di tangan rezim. Hal ini bikin Myanmar jadi salah satu negara yang paling nggak aman bagi pekerja kesehatan, guys. Hiks.
 
Ya ampun, jadi gimana dong tuh?
Karena adanya berbagai aksi penindasan terhadap dokter ini, maka hampir satu juta anak di Myanmar belum diimunisasi rutin. Terus kalau nggak diimunisasi, maka anak itu bakalan rentan banget kena berbagai penyakit kayak campak, cacar, polio, dll. Selain anak-anak, pasien dewasa juga banyak yang akhirnya diterlantarkan gitu aja, tanpa ada perawatan lebih lanjut. Selain itu, banyak juga pasien yang direlakan aja untuk menutup mata, karena emang bener-bener gaada dokter yang bisa nanganin. Terus misalnya pasien tsb harus operasi, sering kejadian tentara masuk terus menggeledah ruang operasi untuk menangkap dokter yang lagi in charge di ruangan operasi itu. Chaos banget kan.
 
Speechless….
Yep. Nah sebagai solusi untuk masalah ini, di Yangon yang kota terbesar di Myanmar, banyak dokter yang udah dibebasin tapi bersyarat gitu, gengs. Syaratnya adalah mereka harus bersedia buat nggak lagi ikut-ikutan protes membangkang pemerintah dan bersedia ditempatkan di rumah sakit yang dikendaliin sama pemerintahan rezim militer
 
🙁 anything else?
Sampai berita ini diterbitkan, belum ada keterangan apapun yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan terkait kondisi healthcare Myanmar yang awut-awutan. Terus, in case you’re wondering, kasus yang menjerat pemimpin legit Myanmar Aung san Suu Kyi saat ini masih berlanjut dan masuk ke sidang pembacaan vonis minggu depan. Kemungkinan Suu Kyi bakal dikenakan hukuman 15 tahun penjara atas dugaan kecurangan pemilu yang dituduhkan ke dia.

Who’s setting low expectations?

You to your boyfie?
Kinda, but also IMF and World Bank, to global economic growth.
 
Hah gimana?
Iya, jadi harapan kita supaya kondisi ekonomi global membaik pasca pandemi Covid-19 kayaknya harus dikubur dalam-dalam ni guys. Hal ini karena baru aja kemarin, International Monetary Fund (IMF) memotong angka prediksi pertumbuhan ekonominya jadi lebih rendah (meaning mereka less optimistic dengan pertumbuhan ekonomi dunia di masa depan guys.
 
Hiks. Tell me.
Yep, jadi dalam prediksinya itu, IMF menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi dunia bakal meningkat sebanyak 3,6% aja pada tahun 2022 dan 2023. Jumlah ini menunjukkan penurunan yang drastis banget dari tahun sebelumnya yaitu 2021 dengan growth di angka 6,1%. Nah kamu tahu ga guys apa salah satu yang bikin ekonomi kita lesu kayak kamu kalo lagi siang-siang puasa?
 
Apa?
Konflik Ukraina-Rusia. Jadi emang sejak invasi Rusia ke Ukraina dilancarkan beberapa waktu lalu, efeknya nggak cuma secara politik maupun sosial, tapi yang paling digebukin tuh ekonomi sih. Pasalnya, ekonomi dua negara tadi sebenernya lagi bagus-bagus aja sebelum perang, namun pasca perang, penurunannya langsung drastis. Kayak misalnya penurunan ekonomi Ukraina itu mencapai 35%, dan berbagai gerakan boikot dan larangan dari negara Barat bikin ekonomi Rusia juga menurun sampe 8,5%.
 
Terus hubungannya sama global economic?
Well, karena seluruh dunia kini saling butuh, of course yang terjadi di Ukraina dan Rusia ini mengancam kebutuhan negara-negara lain dong. Hal ini karena perang bikin proses ekonominya terganggu dan akhirnya juga bikin pasokan barang ikutan macet dan menyebabkan harga barangnya jadi lebih mahal. Dalam hal ini, Rusia sendiri merupakan pemasok gas alam ke Eropa dan bareng-bareng sama Ukraina merupakan negara penghasil gandum yang super massive.
 
I see….
Dalam keterangan resminya, IMF bilang bahwa ekonomi global tuh masih belum fully recovered dari efek pandemi, eh, sekarang ada perang lagi. Yha ambyar. Selain IMF, World Bank juga punya prediksi yang mirip-mirip, di mana economic growth tahun ini cuma bakal berkembang sebesar 3,2% aja. However, lembaga-lembaga ini juga nggak menyangkal kalau situasi kayak gini tuh udah beyond normal banget dan very uncertain. Jadi kayak, everything could happen aja gitu.
 
Terus gimana? Anything else?
Well, as weird as it sounds, tapi semua tuh sekarang tergantung banget sama kebijakan yang diambil Presiden Rusia Vladimir Putin sih guys. Misalnya aja dalam hal energi gas, kalo Rusia tiba-tiba aja memotong pasokannya yang selama ini dialirkan ke Jerman, maka most likely negara tersebut bakal kehilangan sampe US$238 miliar dalam sepanjang dua tahun mendatang. Huhuhuuu.

Who’s asking “Are you still watching?”

Netflix.
Yep, tapi bukan gara-gara kamu ketiduran pas lagi nonton drakor di Netflix guys, tapi emang literally nanya ke kamu nih, “Kamu masih nonton Netflix, ngga?” karena ternyata, pengguna layanan TV streaming itu berkurang terus. Yep, hal ini diketahui dari laporan keuangan Netflix yang dirilis kemarin. Jadi dalam laporannya itu, diketahui bahwa Netflix udah kehilangan sampe 200ribu pelanggan dalam kuartal pertama di tahun 2022. Gara-gara hal ini, kemarin, saham Netflix sampe turun sebesar 37%. Selain jumlah penggunanya yang berkurang, keuntungan yang berhasil diraup Netflix juga berkurang, di mana pada kuartal yang sama, keuntungan Netflix adalah US$1.6 miliar. Turun dari kuartal sebelumnya yang ada di angka US$1.7 miliar.
 
Terus, kok bisa sih sampe pelanggannya berkurang banyak banget gitu? Well, beberapa alasan guys. Pertama tentunya kompetisi yang makin ketat di dunia per-streaming-an, dan ditambah dengan berakhirnya berbagai kebijakan pembatasan atau stay-at-home di banyak negara di dunia. Dengan dihentikannya kebijakan-kebijakan ini, maka orang-orang juga jadi lebih banyak spend waktu di luar rumah dan ngga streaming-an lagi. Selain itu, internet yang lola juga berpengaruh, dan sharing password juga turut berpengaruh. (Yep, looking at u, netijen yang suka jualan akun Netflix 👀). Sampe konflik Rusia Ukraina juga ada kontribusinya guys, karena setelah memutuskan untuk menghentikan layanannya di Rusia, Netflix otomatis langsung kehilangan 700ribu pengguna.
 
Nah untuk memperbaiki performanya, Netflix udah punya beberapa plan untuk bounce back ni guys. Di antaranya adalah dengan bikin aturan yang lebih ketat tentang account sharing, meningkatkan terus servisnya, sampe nge-adjust harga buat para pelanggan.

“Semua harta kekayaan saya dikelola secara profesional, saya sudah tidak melihat sendiri seperti apa.”

 
Ihihihiyy gitu guys kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Pak Sandiaga Uno pas ditanya soal harta kekayaannya yang pada tahun ini bertambah sampe senilai Rp10,6 triliun. FYI guys, jadi dalam laporan LHKPN-nya ke KPK, Pak Sandi melaporkan harta kekayaan sampe 10T tadi, naik sebesar Rp6,8 triliun dibanding tahun sebelumnya. Nah kata Pak Sandi, kekayaan ini merupakan amanah dari Allah SWT yang dititipkan kepada manusia supaya bisa dimanfaatkan bagi orang banyak. Doi juga bilang bahwa dia udah ngga ngecek-ngecek lagi tuh, kondisi kekayaannya kayak apa.
Can’t relate, Pak. Can’t relate.

Announcement


Thanks to min yoongi & Mom of 3 for buying us coffee today!

(Mau ikutan nraktir tim Catch Me Up! kopi? Here, here…just click here Dengan mendukung, kamu nggak cuma beliin kopi yang menemani kami nulis, namun kamu juga udah men-support kami untuk terus berkarya dan membuat konten-konten berkualitas yang imparsial dan bebas dari kepentingan. Thank you so much!)

Catch Me Up! recommendations

Chocolate is good, so you might wanna eat that everyday. But read about these facts first.