Penangkapan Seorang Dokter Oleh Densus 88

48

When you missed the big headline during the weekend…

Have you heard about dr. SU?
Iya, jadi minggu lalu tuh netizen Indonesia dibuat kaget dengan kejadian upaya penangkapan seorang dokter oleh Densus 88 yang diduga terjerat kasus terorisme di Sukoharjo, Jawa Tengah. Nah tapi, belum sempat dibawa ke kantor polisi, pelaku udah ditembak duluan, guys. lalu tewas.
 
Hah gimana?
Everybody, meet: Hilal Ahmar Society Indonesia aka HASI. HASI ini adalah salah satu sayap organisasinya Jemaah Islamiyah aka JI dan udah terafiliasi sama Al Qaeda, jaringan teroris yang merupakan dalang serangan 9/11. HASI ini juga merupakan LSM yang luarannya aja berbentuk lembaga pengumpulan amal, padahal dana yang ada disalurin buat mendukung aksi-aksi terorisme. Selain itu, menurut dokumen di DK PBB, HASI juga kerap merekrut dan mengirim anggota Jamaah Islamiyah (JI) ke Suriah untuk berperang, dan dana pengirimannya itu dikumpulkan dari sumbangan masyarakat.
 
Terus…
Nah terus, dr. SU disebut polisi sebagai salah satu dari petinggi di HASI dan JI ini. Adapun dalam penangkapannya, polisi terpaksa melumpuhkan dr. SU dengan menembaknya karena doi melakukan perlawanan secara agresif, yaitu dengan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Selain itu, peringatan dari petugas juga diabaikan, dan tindakannya itu juga disebut polisi membahayakan jiwa petugas dan masyarakat. Karena itulah, petugas melakukan upaya paksa dan terukur dengan melumpuhkan si tersangka tadi dengan tembakan dan mengenai di daerah punggung atas dan bagian pinggul kanan bawah.
 
Whoaaa…
Nah karena dilumpuhkan inilah dr. SU sempet dilarikan ke RS Bhayangkara di Polresta Surakarta untuk mendapat penanganan medis, tapi yha doi keburu meninggal dunia saat dievakuasi.
 
Now tell me more about him.
OK. Jadi udah dikonfirmasi oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sukoharjo, dr. Arif Budi Satria, dr. SU ini memang berprofesi sebagai dokter umum lulusan dari Universitas Sebelas Maret aka UNS tahun 85 dan masih aktif sampai sekarang. Doi buka praktek di rumah, dan disebut memiliki jiwa sosial tinggi, dan taat administrasi. Dr. SU ini juga disebut sering ikut dalam berbagai kegiatan relawan kemanusiaan maupun bencana alam.
 
I see…
Nah, kejadian tewasnya dr. SU ini juga menuai kontroversi dari banyak pihak guys, salah satunya datang dari Islamic Study and Action Center (ISAC) Surakarta yang memang kerap mengadvokasi kasus-kasus penangkapan terduga teroris. Menurut Sekretaris ISAC Surakarta Endro Sudarsono, patut dipertanyakan apakah penangkapan ini sesuai prosedur. Secara ya guys, penangkapan dilakukan di jalan raya pada malam hari, padahal dr. SU juga ada di rumah, ga ke mana-mana, dan bukan dalam pelarian. Terus sampe berita ini ditulis, disebut juga bahwa piha keluarga dr.SU masih belum dapet keterangan apapun dari polisi soal status hukum dr.SU padahal harusnya ada surat penangkapan dulu nih, yang jelas. Doi ditangkep sebagai apa, atau atas kasus apa, jadi keluarga juga tau.
 
Well, kata polisi apa?
Kata Pak Polisi sih penangkapan ini udah sesuai prosedur guys, dan kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Ahmad Ramadhan minggu lalu, dr. SU ini emang statusnya udah tersangka tindak pidana terorisme, udah bukan terduga lagi. Karenanya, penindakan Densus 88 untuk menembak mati dokter SU udah sesuai aturan dan prosedur.
 
Got it. Anything else?
Well, kasus penembakan ini juga menjadi perhatian bagi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Menurut Komisioner Komnas HAM Choirul Anam, pihaknya bakal memanggil Densus 88 pada minggu ini untuk meminta keterangan terkait duduk perkaranya. Adapun saat ini, Komnas HAM juga lagi ngumpulin berbagai informasi yang ada dan bakal melakukan monitoring terus.