Mantan Menteri Kesehatan RI dr. Terawan Dipecat Dari IDI

85

Who’s saying “You are not part of us anymore”

Ikatan Dokter Indonesia aka IDI.
To dr. Terawan.
 
Hah gimana? 
Yep, sejak kemarin, kita tentunya sering liat berita soal keputusan IDI yang baru aja memecat mantan Menteri Kesehatan RI, dr. Terawan dari keanggotaan mereka. Dengan dipecat, maka dr. Terawan jadi gabisa praktek deh guys, karena rekomendasinya ada di IDI.
 
But…. how did we get here? 
Jadi gini ceritanya, guys. Sama kayak perhimpunan-perhimpunan lain, IDI ini juga ada pertemuannya gitu kan, yang mana di sini dikenal sebagai Muktamar. Nah, di Muktamar IDI tiga tahun lalu yang digelar di Samarinda, sebenernya pernah dibahas tuh soal rekomendasi pemecatan Terawan dari keanggotaan IDI. Tapi waktu itu nggak di-follow up lagi. Nah terus, Jumat kemarin banget tuh para dokter-dokter abis Muktamar lagi di Banda Aceh, dan dii situlah dibahas lagi soal rekomendasi pemecatan Terawan.
 
Tapi kenapa harus dipecat?
A few reasons, menurut IDI. Jadi at least ada lima pelanggaran etik berat yang dilakukan Terawan. Pertama, doi pernah dikenakan sanksi oleh IDI pada tahun 2018, tapi sampai saat ini beliau belum nyerahin bukti udah menjalankan sanksinya. Kedua, ybs melakukan promosi ke masyarakat luas tentang vaksin nusantara sebelum penelitiannya selesai.
 
Lanjut…
Nah yang ketiga, beliau pernah menjabat sebagai ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Klinik Indonesia, tapiii, pembentukan perhimpunannya itu nggak melalui prosedur yang udah ditetapkan sama IDI. Terus pengesahannya juga nggak lewat Muktamarnya IDI, guys. Last but not least, Terawan waktu itu pernah pengen mutasi dari Jakarta Pusat ke Jakarta Barat, yang salah satu syaratnya adalah mengisi form mutasi keanggotaan yang berisi pernyataan tentang sanksi organisasi dan/atau terkena sanksi Ikatan Dokter Indonesia. Berangkat dari berbagai alasan ini, maka dalam muktamarnya itu IDI udah bulat hati nih untuk memecat Terawan dari keanggotaan.
 
Terus Pak Terawan sekarang gimana?
Yha sedih sih. Dalam keterangan tertulisnya, Terawan bilang dia masih sangat bangga dan merasa terhormat berhimpun di IDI. IDI tuh udah kayak rumah kedua buat Pak Terawan katanya, tempatnya bersama saudara-saudara sejawat dan bernaung. Lebih jauh, Pak Terawan juga bilang ke teman-teman dokternya yang lain buat nggak menimbulkan huru-hara dan kisruh politik, karena masih pandemi. Kasian sejawat lain di daerah-daerah lain yang kena imbasnya. Soal sumpah dokternya, Pak Terawan bilang dia bakal selalu membaktikan hidupnya buat perikemanusiaan, mengutamakan kesehatan pasien, dan kepentingan masyarakat.
 
I see. Kemenkes ada tanggapan, nggak? 
Nah kalau dari Kementerian Kesehatan sendiri, disampaikan oleh Menkes Budi Gunadi Sadikin, pihaknya bakalan membantu proses mediasi antara Terawan sama IDI. Biar komunikasinya juga enak, terus situasinya juga makin kondusif. Pak Budi juga bilangnya diskusi, komunikasi, sama hubungan IDI dan seluruh anggotanya bisa baik-baik aja. Apalagi ini masih pandemi, di mana tenaga kesehatan tuh masih sangat dibutuhkan, gengs. Belum lagi kalau pasca pandemi. Makanya jangan ada konflik-konflik dehh.
 
Anyone else says anything?
Yep. Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad sih ngga setuju dengan pemecatan ini dan bilang bahwa keputusan tersebut berlawanan sama aturan IDI yang hanya sebatas rekomendasi. Makanya perlu ada kajian lebih lanjut lagi soal Undang-Undang Praktik Kedokteran dan dokumen lain, biar jelas juga. Selain dari DPR, dukungan buat Terawan juga muncul dari petisi lo, berjudul “Save dr. Terawan” dan udah ditandatangani sama ribuan orang di Indonesia.
 
Anything else I should know? 
Nah, despite of track record Pak Terawan yang udah jadi Letnan Jenderal, pernah jadi Direktur RSPAD, mantan Menteri Kesehatan juga, tapi emang hubungan Pak Terawan sama IDI nih emang lumayan complicated. Sebelumnya di tahun 2018, beliau juga pernah dijatuhkan sanksi sama IDI, bahkan sampe diberhentikan sementara gara-gara dinilai melanggar kode etik kodokteran Indonesia. Hal ini adalah karena beliau menguji dan mengiklankan hasil penelitiannya yang belum teruji kebenarannya.