Invasi Rusia ke Ukraina Didukung Warganya Sendiri, Oknum Penimbun & Penjual Minyak Goreng Harga Tinggi Akan Dipidanakan, Luas Hutan Amazon Terus Berkurang, Pemilihan Presiden Korea Selatan

140

Good morning

Thursday is here and it means… weekend is near! Now that the sense of normalcy is slowly coming back into our lives, you can enjoy some gathering time with friends and family, but it’s always useful to still keep your guards up. Mask on, practice social distancing, and wash your hands frequently. Happy (almost) weekend!

When you’re wondering what the Russians think about the invasion…

Tau ga guys? Ternyata kebanyakan dukung, lho!
Iya, ketika seluruh dunia lagi rame menjatuhkan berbagai macam boikot untuk mengecam serangan Rusia ke Ukraina, ternyata di dalam negeri sendiri, ada lebih dari setengah penduduk Rusia yang mendukung invasi yang dilakukan sama pemerintahan mereka ke Ukraina.

 
Whaaaat?
Iya. Jadi hal ini diketahui dari sebuah riset lewat polling telepon yang dilakukan oleh lembaga riset independen di Rusia yang membagi hasil risetnya itu ke ahli polling asal Amerika Serikat, Gary Langer. Nah, si Mr. Langer ini kemudian men-share penemuan tersebut ke Washington Post, dan kini, mimin lagi nyeritain lagi hasil risetnya ke kamu deh. Anyway guys, ternyata emang invasi Rusia ke Ukraina ini didukung oleh warganya sendiri, dengan persentase yang mencapai 58 persen yang pro, dan 23 persennya menentang, terus sisanya abstain.
 
Go on…
Adapun yang menyatakan mendukung banget tindakan Putin adalah orang-orang yang berusia 66 tahun ke atas dengan persentase sebesar 75%. Sementara yang muda-muda persentasenya lebih rendah nih, di kisaran 20 sampai 40% lah yang mendukung. Selanjutnya yang menarik ni gengs, warga yang penghasilannya bertambah atau at least tetap sepanjang tahun lalu diketahui lebih banyak yang mendukung invasi ini, dibanding warga yang penghasilannya berkurang. Jadi faktor U aka uang juga ngaruh ni.
 
Well, this finding is interesting…
Rite? Hasil ini emang dibilang banyak pihak lumayan mengejutkan sih, tapi ya emang informasi dalam negeri di Rusia juga udah patut dipertanyakan. Menurut Langer, media di Rusia tuh udah dikontrol abis sama Kremlin, jadi isinya akan sangat mengglorifikasi serangan tersebut. Misalnya aja dalam menjuluki serangannya, media resmi pemerintah memilih untuk menggunakan kata-kata “special military action” yang bermaksud untuk “membebaskan” warga Ukraina.
 
I see…
Hal ini juga diperparah dengan keputusan Kremlin beberapa hari lalu yang mem-block Facebook dan pengesahan “fake news law” yang isinya bakal menghukum warga dengan hukuman penjara selama 15 tahun kalo sampe ada pemberitaan yang berlawanan dengan yang dirilis resmi dari pemerintah. Karenanya, sulit banget untuk mendapatkan hasil polling yang akurat, under those circumstances. 
 
Got it.
Adapun surveinya dilakukan melalui polling telepon atas 1.640 orang yang dipilih secara random dari berbagai wilayah di Rusia, dan dilaksanakan pada rentang waktu 28 Februari sampai 1 Maret kemarin. Hasil ini tentunya memberi kita gambaran dikit guys soal kondisi di dalam negeri Rusia, di mana warga sedang terbelah antara yang mendukung dan menolak.
 
Ada yang menolak?
Ada. Kamu tentunya masih inget, tokoh oposisi Rusia Alexey Navalny yang lagi dipenjara karena diduga terlibat aksi pencucian uang. Jadi Navalny ini adalah salah satu lawan politik Putin yang sampe sempet diracun segala guys, tapi selamat. Nah abis menjalani pengobatan akibat keracunan di Jerman, doi lalu balik ke Rusia dan langsung ditangkap dengan tuduhan money laundering tadi. More on Navalny’s case, here
 
OK. Go on…
Nah meski lagi dipenjara, Navalny bilang bahwa doi abis melakukan online poll yang dilakukan oleh para asistennya, dengan sample 700-an orang warga Moscow. Dalam polling tersebut, para peserta diminta untuk memilih apakah Rusia sebagai peace maker, aggressor, liberator, atau not sure. Nah hasilnya, jumlah warga yang memandang Rusia sebagai aggressor naik dari 29% pada 25 Februari, jadi 53% pada 3 Maret. Terus, pas ditanya soal siapa yang bersalah atas serangan ini, 36% warga menjawab Rusia pada 3 Maret, compared to polling sebelumnya di tanggal 25 Februari yang cuma 14% aja jawab Rusia. More on Navalny polls, here.
 
Whoaaaa…
Nah tapi itu tadi guys, meski hasilnya ngga mendukung, Navalny ngingetin bahwa ini bukan polling dari seluruh populasi di Rusia, tapi hanya kelompok kecil aja. Namun yang perlu di-note adalah perubahan opini publik yang cepet banget berubah dari Februari ke Maret yang menunjukkan bahwa warga Rusia udah menyadari siapa sebenernya yang bertanggungjawab atas invasi ini.

Who’s sending some warnings?

Kementerian Perdagangan (Kemendag RI).
Buat warga negara Indonesia yang suka menimbun minyak goreng.
 
Hah gimana?
Iya kamu pasti ngeh kan guys bahwa belakangan ini tuh, cari minyak goreng susahnya ampir sama kayak nyari jodoh. Terus kalaupun ada, harganya kerap kali mahal, padahal pemerintah udah menyalurkan minyak subsidi ke masyarakat. Nah udah beberapa kali, polisi maupun aparat terkait berhasil menemukan dugaan penimbunan yang dilakukan oleh oknum nakal. Makanya nih kemarin, Mendag Pak Muhammad Lutfi ngingetin warga yang suka nimbun bahwa ga main-main, mereka yang ketauan bakal disanksi pidana.
 
Welp… emang sekarang kondisinya gimana?
Jadi guys, sekarang kan minyak goreng emang lagi langka dan mahal banget, seiring dengan harga minyak dunia yang lagi tinggi, bahkan di pasaran bisa sampai Rp20 ribuan per liternya. Nah, dari situ pemerintah akhirnya ngeluarin kebijakan minyak goreng subsidi dengan harga Rp14 ribu aja, buat rumah tangga yang emang berat banget nih dengan harga Rp20ribuan lebih itu. Nah tapi, selalu aja minyak gorengnya udah abis, atau kalaupun ada, harganya mahal banget melebihi harga yang pemerintah udah tetapin.
 
Kok bisa?
Well, menurut Pak Lutfi sih, ada berbagai kemungkinan kenapa minyak goreng masih mahal aja di pasaran. Pertama, karena minyak goreng dijual dengan harga yang tinggi, dan yang kedua, penyelundupan yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu. Pak Lutfi bilang, ada yang emang menimbun dan menjual minyak tadi ke industri atau bahkan sampe yang menyelundupkan minyaknya ke luar negeri. Nah ini nih padahal tindakan pidana banget guys, dan bisa berujung penjara.
 
Nooooo….
Makanya Pak Lutfi juga gedeg banget. Kata mantan Dubes Indonesia buat Jepang ini, sebenernya pemerintah tuh udah nyiapin minyak goreng subsidi sebanyak 393 juta liter buat didistribusikan ke seluruh pasar di Indonesia. That being said, minyak segitu bakalan cukup at least sampai satu bulan ke depan lah. Dan dengan minyak segitu banyak, justru jadi pertanyaan dong kemana nih barangnya kok di pasar tetep kosong-kosong aja? Makanya kata Pak Luthfi, yang nakal-nakal itu tadi bakalan ditindak tegas guys.
 
Tindak tegas gimana emang?
Dilaporin ke polisi dan dibawa ke meja hijau aka pengadilan. Iya. Dalam hal ini, Kementerian Perdagangan udah bekerja sama dengan Mabes Polri buat memberantas oknum-oknum yang nakal yang jualin minyak goreng dengan harga tinggi, maupun yang nimbun minyak gorengnya dan bikin minyaknya jadi langka. Nah oknum-oknum ini bakal dipidanakan.
 
Huft. Did anyone say anything?
Ada. Ketua DPR RI Mbak Puan Maharani meminta pemerintah untuk segera plz beresin ni masalah kelangkaan minyak goreng by awal April alias sebelum Ramadan. Mbak Puan juga meminta pemerintah buat terus menyelidiki kenapa walaupun udah disubsidi, namun minyak masih langka? Lagian juga w kemarin abis kunker ke Jawa Timur, produksi minyak goreng di pabriknya masih normal-normal aja, tuh. Gitu katanya.
 
Got it. Anything else?
Nah, kalian harus tahu nih guys, minyak goreng yang ada sekarang itu, yang subsidi dari pemerintah, adalah hasil kebijakan pemenuhan kewajiban dalam negeri aka domestic market obligation aka DMO. Yang mana itu merupakan minyak punyanya pemerintah yang harus dijual berdasarkan ketetapannya pemerintah juga, guys. karena udah ada Harga Eceran Tertinggi (HET)-nya yakni 14ribuan tadi. Jadi jangan beli dari yang mahal-mahal itu ya.

What’s getting more and more concerning?

Amazon rainforest in Brazil.
 
What happened?
Karena luasnya terus dan teruuuus berkurang hingga diprediksi, hutan hujan Amazon yang dikenal sebagai hutan tropis terbesar di dunia itu bakal berubah total jadi Savana rerumputan doang dan Amazon udah nggak akan jadi hutan hujan lagi.
 
Lah kok bisa?
Well, thanks to climate crisis. Jadi para ilmuwan tuh udah penelitian gitu kan di mana mereka meng-observe area Hutan Amazon itu lewat data satelit setiap bulannya selama 20 tahun terakhir. Spesifiknya lagi, para peneliti ini meng-observe tingkat kehijauan hutannya buat cari tahu gimana sih perubahannya time by time di tengah kondisi cuaca yang juga nggak menentu ini.
 
Terus hasilnya?
Hasilnya, tiga perempat Hutan Amazon tuh udah nunjukkin tanda-tanda “resilience loss” aka kehilangan ketahanan alias rapuh banget guys hutannya. This means that kalau ada apa-apa kayak kekeringan, hutannya ditebang, apalagi sampai dibakar, nah itu mereka susah banget buat balik ke kondisi normal, dan tanda-tandanya itu udah ada sejak tahun 2000an.
 
Masih bisa diakalin kan tapi?
Sadly, we’re too late. Peneliti di sana bilangnya kondisi resilience loss itu udah nggak bisa diubah lagi, guys. Terus, kan sekarang kondisinya masih banyak pohon dan flora fauna yang hidup di situ tuh, masih bisa dikategorikan hutan hujanlah Hutan Amazon itu. Tapiii, ada potensi Amazon bisa berubah jadi sabana yang isinya rerumputan doang. Walaupun emang tandanya belum keliatan jelas jadi nggak bisa dipastikan kapan hal itu bakal kejadian. But once tandanya udah jelas, we’re too late to fix things.
 
Jadi kita bakalan kena dampaknya dong?
Of course. Secara Hutan Amazon merupakan hutan hujan terbesar di dunia. Selain jadi rumah buat bermacam flora dan fauna, hutan ini juga menyimpan karbon yang jumlahnya buanyakkk banget. Sekarang aja, jumlah karbon yang tersimpan di pohon (dan tanahnya) Hutan Amazon adalah sebanyak 90 miliar ton. Kalau Hutan Amazon udah nggak jadi hutan hujan lagi, yha dia nggak akan nyimpenin karbon dioksida itu lagi. That being said, tempat penyimpanan karbon dioksida di muka bumi ini bakalan berkurang jauh.
 
Aishh. Anything else?
Balik lagi ke resilence loss tadi aka kehilangan ketahanan, ditemukan juga bahwa daerah yang paling berdampak sama kondisi ini adalah daerah yang berdekatan dengan aktivitas manusia. Artinya, emang udah ngga bisa disangkal lagi bahwa us humans adalah penyebab utama berbagai jenis kerusakan lingkungan.

Who’s voting their new president?

South Koreans
 
Yoi guys, kemarin banget nih, ada sekitar 44juta warga di Korea Selatan yang nyoblos untuk memilih presiden barunya yang akan menggantikan presiden mereka saat ini, Moon Jae-in. Adapun total kandidat capres yang sebenernya daftar ada 14 orang, namun angka ini jadi terfokus pada dua kandidat terkuat aja, yakni Lee Jae-myung dari Partai Demokrat yang merupakan partai incumbent, dan Yook Suk-yeol dari People Power Party yang merupakan partai konservatif dan merupakan oposisi dari partai demokrat tadi.
 
Nah guys, sepanjang perjalanan masa kampanye, banyak drama-drama yang terjadi antara dua kandidat, sampe mereka pada calling names on each other. Adapun “names” yang digunakan tuh ngga tanggung-tanggung guys, ada “Hitler”, “Beast”, “Parasite”, sampe-sampe banyak warga Korsel yang bilang pemilu kali ini tuh kayak Squid Game, secara kedua kandidat banyak banget saling buka skandal aka aib sendiri, hingga diprediksi, siapa pun yang kalah bakal masuk penjara. Nah saking panasnya suhu politik di sana, keduanya sampe bikin perjanjian bahwa siapa pun yang menang nanti nggak akan memenjarakan lawan politiknya yang kalah.
 
FYI, siapa pun yang menang dalam pemilu kali ini akan menjadi pengganti presiden Moon yang udah selesai menjabat selama lima tahun. Presiden baru ini juga bakal menghadapi berbagai PR yang lumayan berat, kayak membangkitkan ekonomi pasca COVID-19, isu dalam negeri kayak korupsi dan gender equality, hingga hubungan sama negara tetangga Korea Utara yang lagi agresif-agresifnya.

“Karena sudah bekerja dengan baik sebagai menteri.”

Itu tadi guys, alasan yang disampaikan oleh Majelis Hakim dalam persidangan mantan menteri kelautan dan perikanan Edhy Wibowo ketika memutuskan untuk mengurangi masa hukuman Pak Edhy dari sembilan tahun jadi lima tahun. Kata hakim, pengurangan ini karena doi kerjanya bagus banget pas jadi menteri, yaitu mendengarkan aspirasi nelayan dan memberdayakan lobster. FYI, selain penjara selama lima tahun, Pak Edhy juga dijatuhi hukuman pidana denda sebesar Rp400juta atas tindakannya menerima suap impor benih lobster sebesar US$77ribu.
 
And here we are, working really hard but didn’t even get a raise…

Announcement


Thanks to Chandra, Rama, Gisel, Mia, Seseorang, & Hadi for buying us coffee today!

(Mau ikutan nraktir tim Catch Me Up! kopi? Here, here…just click here Dengan mendukung, kamu nggak cuma beliin kopi yang menemani kami nulis, namun kamu juga udah men-support kami untuk terus berkarya dan membuat konten-konten berkualitas yang imparsial dan bebas dari kepentingan. Thank you so much!)

Catch Me Up! recommendations

If you’re going through a hard break up, read this.