PM Belanda Sampaikan Permintaan Maaf Pada Indonesia

45

Who’s singing: Is it too late now to say sorry?

Belanda.
 
To who?
To us, Indonesians.
 
They said sorry?
Yep, for their use of excessive violence, aka kekerasan ekstrim yang mereka lakukan pas melawan perjuangan kemerdekaan di Indonesia back in 1945-1950. Jadi guys, penggunaan kekerasan ini diketahui dari hasil penelitian yang dilakukan oleh tiga lembaga peneliti Belanda yakni KITLV, NIMH, dan NIOD. Berangkat dari hasil riset ini, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte minggu lalu menyampaikan permintaan maafnya yang mendalam pada kita-kita warga +62.
 
But what happened?
OK, let’s go back to History 101. Jadi kamu inget dong guys bahwa Indonesia ini kan merdeka pada 17 Agustus 1945 yah, dan waktu itu kita memproklamasikan kemerdekaan dari penjajahan Jepang. Jepang sendiri harus melepas negara-negara jajahannya karena udah fix nih kalah perang melawan sekutu, di mana di kubu sekutu itu ada Inggris, Amerika Serikat, Australia, termasuk juga di dalamnya si mantan ter-toxic, Belanda.
 
Wkwkwk terus….
Nah terus, karena kita ini adalah mantan jajahannya Jepang, maka seiring dengan kekalahan negara matahari terbit itu, kekuasaan terhadap Indonesia jatuh ke blok Sekutu. So, the moment mereka menang, para sekutu ni udah pada mendarat di Indonesia guys, ada yang dari Inggris, dari Australia, termasuk ya of course dari Belanda yang datang membawa bendera NICA, which stands for Netherland Indies Civil Administration. Nah, rombongan NICA ini dipimpin oleh Dr. Hubertus J van Mook, yang intinya sih udah di-brief sama Ratu Belanda Wilhelmina untuk menyampaikan ke pemerintah Indonesia bahwa mereka mau berkuasa lagi di Indonesia dan di kemudian hari bakal dibentuk sebuah persemakmuran. Terus anggota dari persemakmuran itu adalah Kerajaan Belanda dan Hindia Belanda a.k.a KITA. So our founding fathers were like…. “GIMANE???”
 
Iya, kan udah merdeka?
Ya mereka ga terima dan gamau mengakui guys, makanya disebutnya aja Hindia Belanda, bukan Indonesia. Wah ngeselin banget dong tu Belanda, so our founding fathers were like, “Over my dead body!!” dan itulah yang literally terjadi di periode 1945-1950 tadi. Perjuangan dan pertumpahan darah melawan Belanda serta sekutu terjadi di banyak daerah di Indonesia, dan ini tu bener-bener perjuangan yang keras, berat dan memakan banyak korban. Karena saking parahnya inilah, PM Mark Rutte tadi minta maaf, karena terjadi baaaanyak banget kesadisan yang terungkap yang dilakukan oleh pihak Belanda terhadap para pejuang Indonesia.
 
Ada contoh kejadiannya ga?
Well, misalnya aja nih ya yang jadi Hari Libur Nasional yaitu Hari Pahlawan di 10 November tiap tahunnya. Ternyata, 10 November itu adalah puncak pertempuran antara pejuang kemerdekaan Indonesia melawan tentara sekutu. Ini adalah perang terbuka pertama pasca sekutu mendarat, dan kerap kali disebut sebagai pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia. Pada peperangan ini, warga Surabaya yang meninggal diperkirakan sekitar 6.000 – 16.000 orang, dan ada sekitar 200ribu rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Terus juga peristiwa Bandung lautan api, di mana ada sekitar 200ribu warga di Bandung, Jawa Barat yang membakar rumah mereka dan cabs ke gunung demi mencegah tentara Sekutu dan Belanda untuk bisa make kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.
 
Omggg…
Iya kan? Terus ada juga pertempuran Medan Area di Medan, terus juga Palagan Ambarawa di Semarang, Pertempuran Selat Bali, Pertempuran Margarana, di  Tabanan, Bali, Pembantaian Westerling, di Sulawesi Selatan, dll. Pokoknya banyak banget deh guys. So, repeat after us: We will not take this freedom for granted.
 
I promise. Go on. 
Dan balik lagi ke hasil penelitian tadi ya, dari berbagai records yang diteliti, ditemukanlah bahwa selama periode ini, pihak tentara Belanda melakukan penyiksaan ekstrim secara luas dan terstruktur dari level politik, militer, dan hukum terhadap warga Indonesia. Terus berbagai kejahatan yang mereka lakukan di antaranya adalah mengeksekusi mati orang tanpa pengadilan, penyiksaan yang tidak manusiawi, pembakaran rumah dan perkampungan, memusnahkan sumber makanan dan sering random nangkep-nangkepin dan membunuh orang secara massal. Read the report here. 
 
Kok mereka bisa segitunya sih?
Nah ternyata menurut report-nya juga, hampir seluruh kalangan di pihak kolonial Belanda emang menutup-nutupi dan pura-pura nggak tahu soal aksi kekejian ini. In their words: Pihak yang harus bertanggungjawab atas tragedi ini adalah Belanda, mulai dari politisinya, PNS-nya, tentaranya, hakimnya, dll. Karena mereka tentunya tahu ada penggunaan kekejaman secara ekstrim pada periode ini. TAPI, ada keinginan bersama untuk nutup-nutupin aja, atau menjustifikasi kekejian ini dan gausah dihukum. Tujuannya apa? Ya supaya menang perang.
 
This is SAD.
Rite. Makanya ga lama setelah penelitian ini terbit, Mark Rutte langsung menyampaikan permintaan maafnya. Doi bilang kurang lebih: “I apologize deeply to the people of Indonesia. Maaf banget untuk penyiksaan ekstrim yang dilakukan oleh Belanda terhadap Indonesia, dan untuk pemerintahan kita sebelumnya yang suka pura-pura skip.” Kini, pemerintahannya juga bakal bertanggungjawab penuh atas kegagalan bersama tadi. Nah guys, yang juga menarik adalah, sebenernya ini bukan kali pertama Belanda minta maaf atas penjajahannya di Indonesia, tapi ini adalah pertama kalinya mereka mengakui adanya penyiksaan ekstrim yang dilakukan terhadap jajahannya. Biasanya mah minta maap aja gitu.
 
Welldid anyone say anything?
Terkait permintaan maaf ini, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Faris menyambut baik. Menurutnya, hasil penelitian kayak gini tuh somehow jadi langkah maju di mana yang dibahas emang berbasis data, nggak secara emosional dan bisa jadi pijakan buat penilaian akademik sama moral politik. Juga langkah maju buat hubungan diplomatik Indonesia-Belanda juga kan. Hilmar yang diminta kasih epilog buat penelitian itu juga udah menekankan why Belanda did what they did karena emang paham kolonialisme yang mereka anut.
 
Got it. Anything else I should know?
Nah guys, di mana-mana namanya negara kolonial kalo udah mengakui kejahatan terhadap koloninya, biasanya akan diikuti dengan pemberian kompensasi (kayak Jepang ke China, atau Jepang ke Korea Selatan). Hal ini jugalah yang ditekankan oleh seorang anak dari saksi mata dari aksi brutal Tentara Belanda di Rengat, Riau pada 5 Januari 1949 lalu yang bernama Panca Setyo Prihatin. Dalam keterangannya, Panca bilang bahwa minta maaf aja nggak cukup, tapi Belanda harus ngasih kompensasi moriil dan materiil juga.