Harga Kedelai Naik, Pengrajin Tahu Tempe Mogok Produksi

93

Who’s singing “I can’t live without you…”

Who?
Indonesians, to tahu tempe. Iya guys, jadi dalam beberapa hari terakhir, kamu pasti ngeh bahwa tahu tempe hilang aka gone dari pasaran. Hal ini bikin warga sedih banget, secara makan tahu tempe tuh enak dan udah jadi “main staple” di mayoritas meja makan warga +62.
 
Terus kenapa kok bisa gone?
Karenaaa banyak pengrajin tahu tempe yang mogok produksi guys. Mereka memutuskan untuk “mon maap ga dulu 🙅🏻” karena naiknya harga kedelai. Adapun harga kedelai yang merupakan bahan baku tempe dan tahu itu emang lagi naik sejak awal tahun kemarin. Penyebabnya, nggak lain adalah harga kedelai impor yang juga lagi naik. Well, in case you didn’t know, tempe tahu yang kamu nikmati pagi siang dan malam itu emang mostly asalnya dari kedelai yang diimpor dari Benua Amerika, jadi kalo harga dari sononya naik, pasti nyampe kitanya juga naik.
 
Oh, baru tau w…
Iya kan. Hal ini juga udah dikonfirmasi sama Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi yang bilang bahwa di Amerika Selatan, tepatnya Argentina tuh emang lagi ada Badai La Nina, guys, di mana hal itu juga berdampak ke harga kedelai yang biasanya US$12 per gantang sekarang naik jadi US$18. Selain itu, demand-nya si kedelai ini juga tinggi, khususnya dari China. Jadi kan di China tu banyak yang makan babi ya, terus baru aja nih, pakan babi di sana berubah jadi kedelai, padahal sebelumnya bukan. Ga tanggung-tanggung, ada 5 miliar ekor babi di sana yang makan kedelai guys. Jadi yhaa kalo supply-nya dikit tapi demand-nya banyak kan jadinya kelangkaan, dan kalo barang langka udah hampir pasti harganya melambung. Kayak yang sekarang lagi dialami oleh kedelai ini.
 
I see…
Nah karena harga bahan bakunya naik, akhirnya mau ga mau para pengrajin tempe ini juga menjerit dong, secara modal mereka jadi naik, tapi kalo harga tempenya dinaikin, kita-kita konsumen yang menjerit guys. Jadi yha dilematis banget kan. Gambarannya gini: Biasanya harga kedelai itu sekilonya adalah Rp 9.000-Rp 10.000 per kilogram, dan sekarang harganya naik jadi Rp 12.000. Nah kenaikan ini bikin harga tempe tahu juga naik sekitar Rp 3.000 sampe Rp2.000 dan ini kerasa banget, jadi daripada tetep jualan tapi malah rugi, para pengrajin ini memutuskan untuk “maap ga duluu”.
 
I see…
Nah menurut Ketua Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Jakarta Pusat, Khairun, aksi mogok produksi ini dilakukan serempak sama perajin-perajin di Jabodetabek. Pak Khairun bilangnya aksi ini sengaja dilakuin biar pemerintah juga peka kalau mereka harus take action juga terkait harga kedelai yang naik ini, misalnya dengan subsidi. Supaya para pengrajin ngga kecekek banget. Aksi ini sendiri dilakukan selama tiga hari mulai dari Senin kemarin sampai hari ini.
 
Well, pemerintah ada komentar ga?
Ada dong. Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi bilang kalau dalam waktu dekat ini, minggu-minggu ini tepatnya, pemerintah bakalan menetapkan kebijakan yang bisa jadi solusi dari harga kedelai naik yang jadi biang kerok atas semua ke-chaos-an ini. Dalam hal ini, Kementerian Perdagangan juga udah jadi mediator buat para improtir dan perajin tahu-tempe soal isu ini, dan ke depannya, bakalan ada harga wajar yang ditetapkan sama pihak mereka.
 
Got it. Did anyone say anything?
Ada. Wakil ketua DPR Rachmat Gobel bilangnya Kementerian Perdagangan sama Kementerian Pertanian tuh harusnya bisa lebih gercep dan nggak membiarkan masalah harga tahu tempe yang naik ini berlarut-larut. Karena kalau kayak gini terus, yang ada lapangan pekerjaan dan lapangan usaha masyarakat bisa keganggu, dan kalau udah kayak gitu, yang ada malah bikin masalah yang lebih serius, yaitu kemiskinan. Apalagi kalo lagi pandemi kayak sekarang kan.
 
I see. Anything else I should know?
Well guys, isu kelangkaan tahu tempe ini kembali memunculkan kontroversi soal janji kampanye Pak Jokowi pas Pilpres 2014 lalu yang bilang bahwa Indonesia mau swasembada kedelai dan kalo dalam waktu tiga tahun ngga tercapai, menterinya mau dipecat. Namun kayak lagunya Terry, janji manis ya tinggal janji, karena faktanya dari tahun ke tahun, jumlah impor kedelai kita naik terus. Saat ini, 86,4% dari kedelai yang ada di pasaran adalah impor dan paling banyak datang dari Amerika Serikat.