Efek Buruk Pembelajaran Online

65

When Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) could affect your mental health…

Ga mental health aja, tapi physical juga.
Yoi guys, ternyata pembelajaran online yang dijalani sama semua siswa dan mahasiswa di hampir seluruh belahan dunia ini ternyata punya efek negatif yang besar dan masih dirasakan sampai sekarang even sekolah dan kampus di beberapa daerah udah mulai reopening.
 
EH?
Yep, jadi a little flashback here, di Maret 2020 lalu sejak pandemi COVID-19 pertama kali terdeteksi di Indonesia, sekolah-sekolah dan universitas tuh kan pada langsung tutup. Awalnya pihak sekolah bilang libur dua minggu, gitu juga sama pendidikan tinggi aka universitas. Tapi ternyata pandemi makin menyebar, dua minggu yang dibilang di awal berlanjut sampaiiiii setahunan dan membuat sekolah dan kampus langsung switch pembelajaran dari luring ke daring, dari offline ke online. Nah, ternyata eh rupanya, pembelajaran online yang berlangsung tuh menimbulkan beberapa efek buruk guys.
 
Hiks, tell me.
OK. Jadi efeknya ini ada banyak, dari fisik sampai mental. Hal ini ditemukan dari penelitian yang baru aja dirilis oleh JAMA Pediatrics minggu ini. Jadi dalam melakukan penelitiannya itu, para researchers melihat progress pertumbuhan anak-anak dan remaja di 11 negara yang tinggal di Eropa. Amerika, dan Asia Selatan. Hasilnya, kebanyakan dari anak-anak yang menjalani pembelajaran online ternyata mengalami gangguan makan, kurang semangat dalam beraktivitas, anxiety bahkan sampai depresi. The only good news adalah, dari dua penelitian yang dilakukan di Inggris dan Jepang, nggak ada tanda-tanda peningkatan kasus bunuh diri yang terjadi pada anak dan remaja, walaupun tiga per empat dari mereka mengalami depresi :(.
 
Wow, terus terus?
Terus dari segi fisik nih, PJJ juga bikin aktivitas fisik anak-anak berkurang. Dari hasil yang ditemukan di Amerika Serikat, diketahui bahwa 11% anak-anak yang disurvei langsung mengalami obesitas cuma dalam waktu 2 bulan setelah kebijakan PJJ diberlakukan.
 
Kenapa bisa sampai kaya gitu ya?
Ada beberapa faktor sih yang menyebabkan efek-efek tadi akhirnya kerasa sama anak-anak yang menjalani pembelajaran online. Sheri Madigan, psikolog sekaligus profesor for child development dari Kanada bilangnya anak-anak tuh kehilangan comfort zone mereka seiring sekolah yang juga ditutup. Secara, kalau di sekolah mereka ketemu bestie, ketemu guru, dan kadang mereka bisa aja cerita apa pun ke guru atau teman mereka secara langsung. Nah kalau pembelajaran diubah online, yha mereka kehilangan resource itu. Padahal elemen-elemen tadi penting dan esensial banget buat perkembangan fisik dan mental anak-anak di usia pertumbuhan.
 
Terus gimana dong? Kan ada pandemi…
Yes exactly, ada pandemi guys, yang sekarang udah masuk tahun ketiganya (Time flies, rite?). Nah, biar mental anak-anak dan remaja bisa tetap terjaga, para ahli sih menyarankan supaya orang tua tetap melatih mereka buat mengembangkan soft skill yang dirasa butuh buat tumbuh kembangnya. Terus yha tetep harus diajak keluar dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Misalnya jalan-jalan ke museum pas weekend, atau olahraga bareng sama temen-temennya. Pokoknya upayakan mereka tetap mendapatkan resources yang bisa mereka dapat di sekolah.
 
OK. Anything else I should know?
Di Indonesia sendiri, kebijakan belajar tatap muka secara langsung masih berlaku di daerah-daerah yang emang memenuhi syarat vaksinasi. However, udah ada beberapa sekolah juga guys yang kembali ditutup karena ditemukannya varian Omicron pada para siswa. Adapun di Jakarta, sekolah yang ditutup sementara ada 39.