50% Anak Kelas 1 SD Belum Bisa Baca & Tulis

60

What’s declining because of the pandemic?

Prestasi anak.
Hiks. Iya ni guys. Sedih banget deh. Jadi baru aja disampaikan oleh Kantor Staf Presiden (KSP) minggu lalu, bahwa ada 50 persen dari anak kelas 1 SD sekarang tuh juga pada belum bisa baca dan tulis, dan beberapa dari mereka juga nilainya juga nggak sesuai standar.

Kok bisa ya?

Ya bisa. Penyebabnya adalah pandemi COVID-19 yang bikin anak-anak jadi harus melakukan Pembelajaran Jarak Jauh aka PJJ aka online learning. Menurut Tenaga ahli utama KSP, Abraham Wirotomo, PJJ ini berdampak banget sama proses pembelajaran anak-anak, yang mana akibatnya, terdapat penurunan kualitas belajar mereka. Prestasi mereka juga menurun kata Pak Abraham.

No…
Yoi guys, beliau melanjutkan bahwa menurut kajian dari Kemendikbud dan Kemenag, hanya 15 persen anak SD kelas 1 yang nilainya sesuai standar. Bahkan, hasil verifikasi lapangan KSP malah menemukan 50 persen anak SD kelas 1 belum bisa baca tulis. Karenanya, Pak Abraham berpendapat bahwa tetep mendingan diadakan pembelajaran tatap muka (PTM) aja meskipun pandemi COVID-19 belum selesai. Beliau juga mendorong seluruh daerah supaya menggelar PTM sesuai ketentuan pada surat keputusan bersama (SKB) 4 menteri.
 
Is this why PTM masih 100%?
Probably yes. Karena menurut Direktur Sekolah Dasar Kemendikbud Ristek Sri Wahyuningsih, ada banyak alasan guys, kenapa PTM tetap berjalan meski kasus lagi naik. Pertama, anak-anak ni udah ketinggalan banget kualitas dan mutu pembelajarannya. Terus kedua, terjadinya kemunduran dan kesiapan dalam pembelajaran. Ketiga, proses karakter anak merosot. Keempat, anak-anak jadi malas-malasan di rumah, karena biasa belajar online (PJJ). Terus, mereka juga lebih sering pake medsos, which is berdampak negatif. Berangkat dari alasan beberapa alasan inilah pemerintah memutuskan PTM tetap dijalani.
 
Got it. Did anyone say anything?
Terkait Pembelajaran Tatap Muka, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, emang online learning yang terlalu lama tuh bakalan bikin siswa-siswi di negara kita mengalami learning loss. Makanya Bu Hetifah juga mendukung PTM tetap diadain dengan mengacu sama SKB 4 Menteri tadi. Sepanjang pandemi, angka literasi udah turun 52 % dan angka numerasi juga turun 44%. Kita nggak bisa ambil resiko yang lebih jauh lagi, katanya.
 
Is anyone against it?
Yep, misalnya Ketua Satgas COVID19 PB IDI Profesor Zubairi Djoerba yang minta pemerintah supaya plz banget dipikir-pikir lagi nih kalo mau PTM 100% terus. Pasalnya, saat ini positivity rate alias rasio kasus positif COVID-19 di Indonesia semakin meningkat terutama dampak penyebaran varian Omicron yang udah mencatatkan ribuan kasus.
 
Got it. Anything else?
Nggak cuman PAUD dan Pendidikan Dasar Menengah aja yang nyiapin metode pembelajaran di tengah pandemi ini gengs, pendidikan tinggi juga. Universitas Brawijaya lagi nyiapin metode pembelajaran hybrid yang bakal berlaku mulai dari Februari besok. Rektor Unibraw, Nuhfil Hanani bilang pihak mereka udah ngedesain metode hybrid ini sejak akhir tahun lalu dan bakalan mulai bulan depan dengan aturan yang ketat. Salah satu aturannya adalah mahasiswa yang berasal dari daerah dengan kasus COVID-19 tinggi yha nggak boleh ikutan offline dulu, online aja gitu.