MenKes New Zealand Resmi Tetapkan Smokefree 2025 Action Plan

84

Who’s kissing cigarettes goodbye?

New Zealanders.
Yoi guys, karena minggu lalu, Menteri Kesehatan New Zealand, Dr. Ayesha Verrall, baru aja mengumumkan kalau di 2027 nanti, masyarakat yang saat ini berusia 14 tahun ke atas nggak akan bisa lagi membeli rokok seumur hidupnya. Aturan ini rencananya bakal resmi ditetapkan tahun depan dan merupakan bagian dari Smokefree 2025 Action Plan.

Whoaaa bold. Gimme some background.

OK. Jadi dengan aturan ini, maka orang-orang yang sekarang masih ngerokok sih bakal teteup bisa beli rokok, namun pemerintah bakal meningkatkan usia batas merokok secara bertahap, hingga nantinya bakal tercipta masyarakat yang entirely bebas rokok. Terus guys, mulai tahun depan kan orang yang berumur 14 tahun ke bawah bakal dilarang seumur hidup untuk beli rokok. Jadi gambarannya nih, nanti di tahun 2050, orang berusia 42 atau lebih tua bakal bisa beli rokok, namun yang lebih muda udah nggak bisa, karena udah dilarang itu. Jadi nanti makin lama, warga yang lebih muda makin bebas rokok.
 
I see….
Yep, jadi dalam dalam keterangannya minggu lalu, Dr. Ayesha bilang bahwa pemerintah mau make sure supaya generasi muda itu never start smoking agar mereka penuh semangat dan kaya akan cita-cita. Karena yha udah pada tahu lah ya bahayanya ngerokok tuh kayak apa, dan merokok ini juga jadi the leading cause of preventable death aka kematian yang bisa dihindari di New ZealandNot to mention rokok juga jadi penyebab timbulnya penyakit kanker. Karenanya, New Zealand simply nggak mau kehilangan generasi emas yang bakal memimpin negara mereka di masa depan.
 
Nice…
Secara spesifik, New Zealand mau mengurangi national smoking rate mereka di angka 5% di tahun 2025, dan terus menurun hingga ke angka nol. Fyi, untuk saat ini, sebanyak 13% orang dewasa di negara berpenduduk 5 juta orang itu masih ngerokok. Pemerintah juga menghitung bahwa merokok udah menyebabkan kematian bagi sekitar 5.000 orang per tahun, dan menyumbang 15% penyebab kematian di Selandia Baru.
 
Any other regulations, though?
Yep, selain nggak akan menjual rokok ke anak berusia 14 tahun ke bawah, toko-toko yang jualan rokok bakalan super duper dibatasi. Dari 8.000 stores yang ada sekarang, nantinya cuma 500 stores aja yang boleh jualan rokok. Terus rokok yang dijual juga harus dipastikan yang kadar nikotinnya super duper rendah.
 
I wonder what the citizens think…
Well, tentunya ada yang dukung dan enggak ya. Misalnya, warga yang mendukung emang merasa khawatir dengan fenomena saat ini di mana banyak anak-anak yang udah merokok. Terus, Dr. Natalie Walker, pakar riset dari University of Auckland bilang kalau dengan adanya smoking free implementation plan ini, New Zealand jadi pemimpin dunia yang bold banget dan men-tackle isu rokok ini.
 
So, is anyone saying no?
Yeps, ada yang bilang kebijakan untuk ngurangin kadar nikotin yang adiktif luar biasa itu malah kebijakan nggak guna. Karena itu cuma bakal bikin orang beli rokok dengan jumlah yang lebih banyak buat dapetin jumlah nikotin yang seharusnya. Hal ini cuma bakal bikin masyarakat menengah ke bawah makin menderita. Tapi hal ini dibantah sama Dr. Ayesha yang bilang, “Yha kalo nggak gitu kan lo nggak berenti nyebat.”
Lanjut, masih dari yang kontra sama kebijakan ini, ada yang bilang kalau smoke-free plan ini cuman bikin black market bertambah jumlahnya, dan berkembang luas pasarnya. Yak karena orang-orang yang nggak bisa lepas dari sebat ini udah nggak bisa lagi merokok secara legal, tapi masih kekeuh pengen merokok, ya udah black market adalah jalan ninjanya nggak sih. Beberapa tahun terakhir black market yang jualin tobacco emang sedang berkembang pesat banget di sana.

I see. Anything else I should know?

Yang menarik guys, emang sih, jumlah perokok di New Zealand udah menurun banget, jadi 13% tadi, dari 28% di beberapa dekade lalu. Meski begitu, jumlah perokok paling banyak adalah suku asli New Zealand yaitu Māori dan Pacific Islanders, kalo yang White Europeans mah emang udah banyak yang nggak ngerokok. Karenanya, para pengamat kebijakan di sana meminta pemerintah untuk membuat kebijakan yang juga memfokuskan pada pengurangan konsumsi rokok di Māori dan Pasifika households.