Gerindra VS Demokrat “Memanas”

110

When you need some drama to gossip about on holidays…

Yuk, daripada gosipin tetangga, mending bahas yang lagi panas yaitu: Gerindra VS Demokrat.
 
Lol agak jauh ya sis, but tell me.
OK. Jadi belakangan ini things are heating up between both parties setelah terjadi saling sindir soal regenerasi di tubuh partai.
 
Tehnya sudah siap, kakak….
Ceritanya tuh gini. Hari Minggu kemarin kan Ketua Hariannya Gerindra, Pak Sufmi Dasco Ahmad melantik Mbak Rahayu Saraswati Djojohadikusumo sebagai Ketua Umum Tunas Indonesia Raya (Tidar). Tidar ini sayap partainya Gerindra, btwMeanwhile, Mbak Sara yang juga menjabat Waketum Partai Gerindra 2020-2025 itu adalah anak dari Hasyim Djojohadikusumo, yang merupakan adiknya Pak Prabowo Subianto, yang taq lain taq bukan adalah Ketua Umum aka Ketua Dewan Pembina dari Partai Gerindra. Jadi yhaa Mbak Sara ini ponakannya Pak Prabowo.
 
So, where’s the problem?
Problem-nya ada di pernyataan Pak Dasco yang mengklaim Partai Gerindra nggak mengenal oligarki. Di situ Pak Dasco bilang Mbak Rahayu terpilih jadi ketum emang karena kapabilitas beliau di dunia perpoltikan, sepak terjangnya  yang udah pernah menjabat sebagai anggota DPR RI, terus Waketum partai besar juga. Jadi bukan karena melihat siapa keluarganya gitu.
 
I see…
Lanjut, Pak Dasco juga bilang bahwa Gerindra tuh enggak kayak partai lain yang bapaknya mendirikan partai atau ketum partai, eh anaknya langsung dikarbit. Gerindra nggak kayak gitu ceunah. Mereka nggak pandang bulu, setiap orang harus melewati fase yang panjanggggggg jadinya ketika ada di satu posisi, mereka udah matang dan tinggal menjalankan tugas. So, Partai Demokrat be lyk, “Xcuse meeee?”
 
Demokrat?
Iya, secara kan saat ini Ketua Umumnya PD adalah Mas Agus Harimurti Yudhoyono yang merupakan anaknya Ketum terdahulu (dan Presiden RI ke-6) yaitu Pak Susilo Bambang Yudhoyono. Terus sekjen partainya juga Mas Ibas aka adeknya Mas Agus. So of course they have a say…
 
Apa katanya?
Well, Deputi Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat Kamhar Lakumani sih bilang doi justru bersyukur Demokrat dipimpin oleh orang kayak Mas AHY, yang mau belajar dan siap-siap jadi penerus Pak SBY. Beliau juga bilang bahwa pihaknya menghargai pernyataan Pak Dasco soal dinamika di internal Partai Gerindra, namun no comment kalo soal partai lain.
 
Ok. terus terus?
Masih soal respons terhadap statement-nya Pa Dasco tadi, Pak Kamhar juga sekalian menyampaikan berbagai pencapaian Mas AHY selama duduk di kursi Ketum padahal belum genap dua tahun. Kesuksesan Pilkada Serentak 2020 kemarin misalnya, terus respon partai terhadap COVID, AHY yang sering muncul di survei-survei capres yang berarti elektabilitasnya diperhitungkan lah. Not to mention ketika Mas AHY mengelola konflik terkait pengambilalihan jabatan dulu (Catch up with the issue here).
 
Got it. Anyone else saying anything?
Terus, ada juga Herzaky Mahendra Putra selaku kepala Badan Komunikasi Startegis Demokrat yang menyanggah kalau partainya dibilang oligarki. Pak Herzaky bilang kalau demokrasi berjalan sangat baik selama 20 tahun berdiri. Terbukti mereka udah menggelar lima kongres dan udah punya lima ketua umum yang terpilih secara demokratis dan konstitusional. Terus, regenerasi di Demokrat juga disebutnya berjalan tertib dan konsisten. Fyi guys, sejauh ini Mas AHY maupun Pak Prabowo belum ada komentar apa pun terkait drama ini.
 
Rite. Wrap it up then. Anything else?
In a totally unrelated news, kedua partai ini juga kayaknya lagi hepi ni gengs, secara survei yang dilakukan oleh lembaga penelitian politik Poligov kemarin menemukan bahwa keduanya masuk tiga besar partai dengan elektabilitas tertinggi menjelang Pemilu 2024. Jadi di posisi pertama ada PDIP yang dipilih responden sebesar 27,4%, diikuti Gerindra 19,9%, dan Demokrat di 18,3%.