COP26 Selesai Hasilkan Perjanjian Baru Yang Harus Diikuti Anggota PBB

226

When the COP26 finally ended…

Everyone, meet: The Glasgow Pact.
Yep, COP26 has come to an end pada tanggal 12 November kemaren dan akhirnya menghasilkan perjanjian baru atau pakta yang harus diikuti oleh para anggota PBB. Adapun perjanjian tersebut bernama The Glasgow Pact.
 
What’s that?
Well, perjanjian ini berisi tentang regulasi soal batu bara, mobil, deforestasi, or basically anything that produces emission. Regulasi ini disetujui dalam rangka membuat goal The Paris Agreement di COP tahun 2015 lalu lebih jelas, yaitu untuk mencapai penambahan maksimal 1,5 derajat Celsius lebih tinggi dari masa pra-industri.
 
Tell me more about the pact.
Jadi, pakta ini membahas tentang gimana caranya para pemerintah negara-negara anggota untuk bisa mencapai target suhu bumi gak boleh 1,5 derajat celcius lebih tinggi dari masa pra-industri. Para pemerintah kemudian diminta untuk nge-submit kontribusi mereka akhir tahun depan, instead of setiap lima tahun kayak perjanjian di Paris Agreement. Terus, pemerintah juga diminta untuk mengurangi ketergantungannya terhadap energi batu bara dan fosil yang dianggap buruk buat iklim. Nah, ini juga yang jadi lumayan pro dan kontra, terutama buat India yang menyuarakan concern-nya.
 
Why?
India minta kalo adaptasi keluar dari batu bara dan fosil ini dilakukan secara perlahan-lahan. Sedangkan dalam pakta tersebut yang tertulis adalah “phase out“, bukan “phase down“, alias diminta langsung cepet-cepet instead of gradually. Terus juga di perjanjian tersebut menyebutkan soal sumber energi yang “inefficient“, bukan “unabated“. Hal inilah yang sebenernya bikin regulasi terhadap batu bara dan fosil masih kurang jelas.
 
Hmm, I see. Go on.
Dalam perjanjian ini juga diatur soal gimana negara-negara maju melakukan semacam retribusi ke negara miskin dan berkembang sebagai kompensasi terhadap “loss and damage” yang mereka alami dari krisis iklim ini. Hal ini kemudian menjadi bahasan penting karena negara-negara miskin dan vulnerable justru yang biasanya menghasilkan emisi paling sedikit, tapi terkena dampak paling besar. Hal ini juga diperparah dengan ketidakmampuan mereka untuk memitigasi bencana yang muncul dari krisis iklim. Terus, negara-negara miskin ini juga biasanya enggak punya sumber daya yang cukup buat mengadopsi energi terbarukan kayak negara-negara maju. However, banyak negara miskin dan berkembang yang ngerasa kalo pembahasan soal loss and damage ini gak nge-resolve apa-apa, kayak India.
 
Terus apa lagi?
Selain itu juga ada carbon market deal. Perjanjian ini dibuat untuk melindungi hutan dan membangun fasilitas sumber daya energi baru terbarukan (EBT) di negara-negara yang memiliki hutan. Terus, deal ini juga mengatur soal kompensasi yang harus dibayar negara atas dampak iklim yang mereka sebabkan. Salah satunya dengan forestasi dan pembangunan fasilitas sumber daya EBT.
 
Anyone saying anything?
Ada Direktur Eksekutif Greenpeace International Jennifer Morgan yang bilang kalo hasil dari COP26 ini masih lemah banget. Mulai dari kegakjelasan soal loss and damage, sampe pendirian negara-negara yang terlibat di COP26 soal batu bara dan fosil. Jennifer juga bilang bahwa negara-negara miskin dan vulnerable dateng ke COP26 mencari jawaban untuk menolong masyarakatnya yang terkena dampak krisis iklim tapi mereka pulang tanpa jawaban yang jelas. Meski begitu, teteup pertemuan ini menandakan akhir dari penggunaan batu bara dan fosil, which is good.
 
Ooof that’s rough. Anything else?

Ada juga Sekjen PBB António Guterres yang udah bilang dari awal doi tau pembahasan batu bara dan fosil bakal jadi pembahasan yang tricky di pertemuan ini. Guterres juga bilang kalo target 1,5 derajat Celsius ini gak begitu menyelamatkan bumi, tapi cuma bikin planet kita “on life support” aja. Menurutnya, target baru dari COP26 ini masih kurang ambisius dalam menyelamatkan bumi dari krisis iklim global. That’s why para observers minta negara-negara untuk lebih well-prepared buat COP tahun depan. We’ll see, guys. We’ll see.