Satpam BCA Jadi Trending di Twitter

236

When you’re seeing soo many Satpam BCA mentions in your timeline…

Well, here’s why.
Jadi gini guys. Kamu pasti udah sering denger kan, soal keramahan satpam Bank Central Asia (BCA) yang top-notch banget dan super duper melayani? Nah, fenomena ini ini belakangan lagi jadi trending di Twitter karena ada hubungannya sama tindakan polisi yang Indonesia yang dinilai jauh banget kalo dibandingin sama keramahan para satpam BCA ini.
 
Go on…

Nah, di tengah-tengah berbagai insiden belakangan ini yang put polisi under the spotlight, muncullah twit dari akun @fchkautsar yang bilang gini: “Polisi se-Indonesia bisa diganti satpam BCA aja gaksih.” Twit yang merupakan salah satu kritik yang lagi banyak banget diterima sama institusi kepolisian Indonesia belakangan ini malah backfired dan bikin akun tersebut nerima hostile treatment dari banyak akun lainnya yang diduga merupakan bagian dari Polri.

Hold on, I need more background.
Got it. So, beberapa minggu ini emang kritik masyarakat terhadap Polri emang lagi tinggi banget guys. Hal ini bermula dari laporan yang diterbitin sama Project Multatuli soal kasus pemerkosaan terhadap tiga anak di Luwu Timur oleh ayah kandungnya sendiri yang penyelidikannya diberhentikan oleh kepolisian. Artikel ini rame di-share sama netijen dan dipublikasi ulang oleh media lainnya pas Project Multatuli kena serangan hacker. Artikel yang menyertakan hashtag #Percumalaporpolisi ini juga bikin hashtag tersebut rame di media sosial dan nge-highlight kritik terhadap polisi, termasuk twit barusan.

I see. Go on.
Nah balik ke twit itu, setelah Fachrial sebagai pemilik akun tersebut ngetwit itu, mulai banyak akun-akun yang ngeteror Fachrial baik di Twitter maupun Instagram guys. Ada yang akun anonim dan ada juga akun yang mengindikasikan pemiliknya merupakan polisi dari foto profil yang dipasang. Terornya dengan nanyain tinggal di mana dan ngasih ancaman intimidasi ke Fachrial karena dianggap udah ngata-ngatain Polri.

Geez… Fachrialnya sendiri gimana? Aman?
Masih aman guys. Tapi, doi bilang pernah dapet spam call dengan nomor berawalan +1, which is kode telepon Amerika Serikat atau Kanada. Nomor ini berbarengan dengan nomor Indonesia lainnya yang juga ikut neror Fachrial. Anehnya adalah, gak cuma nomor utama Fachrial yang diteror, tapi juga nomor yang gak pernah dia share ke mana-mana dan cuma dipake buat paket data internet aja.

That does smell fishy… Anyone saying anything?
Yep. Ada Direktur Eksekutif Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) Damar Juniarto yang setuju ini emang aneh banget gengs. Buat dapetin nomor seseorang, harus dengan nelpon provider dan punya kuasa lebih buat dapet data orang lain. Damar bilang kalo kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya. Spam call pernah diterima oleh orang-orang yang terlibat peristiwa politik di Indonesia, kayak mereka yang waktu itu menentang Omnibus Law.

Hmmm. Does Polri have anything in their defense?
Kabag Penum Div Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan bilang ni kalo Polri bukan institusi yang antikritik. Makanya, twit Fachrial yang ngebandingin kinerja polisi dengan satpam BCA dan kritik-kritik lainnya juga dianggap sebagai kritik yang membangun dan diterima dengan positif oleh Polri. Terus soal teror yang diterima sama Fachrial, Ahmad bilang kalo pihaknya bakal memproses penegakan hukum dengan akuntabel dan transparan.

Oke lah. Anything else?
Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Gerindra Habiburokhman bilang kalo kritik yang diterima oleh polisi dari masyarakat harus jadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kinerja polisi. Habiburokhman bilang jangan sampe peristiwa kekerasan yang dilakukan oknum kepolisian kepada masyarakat justru dinilai akan menodai institusi Polri, kayak yang terjadi minggu lalu di Tangerang itu gengs di mana polisi nge-smackdown mahasiswa yang demo di Tangerang.