Presiden Turki Menetapkan Persona Non Grata Kepada 10 Duta Besar Negara

170

Who’s no longer welcome in Turkey?

Ten western ambassadors.
Yoi guys, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan baru aja menetapkan status persona non grata aka orang yang nggak disenengin kepada sepuluh duta besar negara western yang ada di Turki hari Sabtu kemaren. Artinya, kesepuluh duta besar ini dilepaskan hak diplomasinya di Turki dan mereka diminta supaya buru-buru cabs dari negara tersebut.
 
Whaaaaat?
Yep, adapun kesepuluh duta besar ini berasal dari negara-negara yang secara kompak ngedukung aktivis dan filantropis Turki Osman Kavala, dan meminta adanya penyelesaian dari kasusnya yang dipenjara padahal belum dinyatakan melakukan tindakan kriminal apa pun.
 
Wait, I need more background. Who is Osman Kavala?
Jadi, Osman Kavala adalah aktivis yang dari dulu terkenal keras banget mengkritik pemerintahan Erdogan. Tahun 2013 lalu, masyarakat Turki melakukan demo anti pemerintahan Erdogan secara besar. Terus di tahun 2016, ada rencana kudeta pemerintahan Erdogan yang gagal. Nah, keduanya ini dikaitin sama Kavala gengs. Akhirnya, tahun 2017 doi ditahan sama pemerintah Turki meskipun gak pernah dijatuhi vonis hukum.
 
Serius?? Terus hubungannya sama negara-negara yang diusir ini apa?
Serius. Nah, pada awal minggu kemaren, utusan negara-negara western yang ada di Ankara, Turki mengeluarkan keterangan bersama yang menuntut penyelesaian kasus hukum Kavala secepatnya. Kesepuluh negara tersebut adalah Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Belanda, Denmark, Finlandia, Swedia, Kanada, Selandia Baru, dan Norwegia. Hari Selasa-nya, Menlu Turki memanggil mereka semua buat ngasih kejelasan “maksud u ni apa ikut campur kayak gini”. Terus enggak pake lama, pada Hari Kamisnya, Kementerian Luar Negeri Turki kemudian nyampein status Persona Non Grata tersebut ke mereka.
 
Kok bisa diusir gitu aja?
Kalo kata Erdogan, negaranya itu enggak akan membebaskan “bandit, teroris, dan pembunuh.” Terus doi juga menegaskan bahwa semua utusan khusus negara lain yang ada di Turki harus “memahami” negara tersebut. Kalo mereka udah gak bisa “memahami” Turki, mending hengkang deh dari sini. Nah tindakan kesepuluh negara tersebut yang menuntut pembebasan Kavala ini dianggap tindakan yang “gak memahami” Turki gengs, makanya mereka no longer welcome di Turki. Karena Turki ingin dimengerti~
 
Whoah… Anyone saying anything?
Ada. The European Court of Human Rights atau Dewan HAM Eropa langsung tegas mengecam dan menegaskan bahwa mereka bakal menyanksi Turki kalo misalkan akhir November nanti Kavala belom juga dibebaskan. Adapun sanksinya berupa proses disipliner sampe peninjauan ulang soal status pendaftaran Turki untuk bergabung di Uni Eropa. FYI, tanggal 26 November 2021 nanti, Kavala bakal menjalankan sidang hearing-nya terkait penahanannya. Banyak yang berkomentar kalo Kavala ini most likely cuma tahanan politik di Turki aja karena ya emang gaada vonis dan tuduhan apa-apa gengs.
 
I see… Anything else?
FYI, gak cuma Kavala yang jadi tahanan di Turki karena dianggap anti pemerintahan. Selain itu, ada aktivis Kurdi bernama Selahattin Demirtas yang ditahan sejak 2016 silam. Sama kayak Kavala, Demirtas gak dijatuhi vonis hukuman apa pun, jadi beneran ditahan aja gitu gengs. Makanya, both Kavala dan Demirtas dianggap sebagai tahanan politik oleh pengamat HAM internasional.