Kualitas Udara Indonesia Semakin Buruk

12

Who’s in denial about Indonesia’s air quality?

The government.
Iya ni guys, makin ke sini, kualitas udara di Indonesia ternyata makin buruk. Hal ini diketahui dari data terbaru milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang baru aja merilis Pedoman Kualitas Udara Global (AQG). Jadi dengan pedoman itu, ada rekomendasi standar kualitas udara yang dinilai aman menurut WHO, dan diketahui bahwa kualitas udara Indonesia enggak masuk standar.
 
Wait, I need more background.
Ok. Jadi sebagai komponen yang peeeeenting banget dalam kehidupan kita, kualitas udara yang baik bakal bikin fisik kita jadi lebih sehat. Nah kalau dampak buruknya dapat dirasakan dalam jangka waktu baik panjang, maupun pendek. Jangka panjangnya, kamu bisa menderita berbagai gangguan kesehatan kayak gangguan saluran pernapasan, asma, kanker, dll. Sedangkan jangka pandeknya, kamu bisa merasa nggak nyaman kayak batuk-batuk, infeksi saluran nafas, hingga iritasi. Bahaya banget kan guys, makanya nih, otoritas yang berwenang baik di tanah air maupun di dunia global punya standar tertentu terkait kayak apa sih kualitas udara yang baik itu.
 
I see…
Nah di Indonesia sendiri, standar ini Namanya Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang merupakan laporan kualitas udara kepada masyarakat untuk menerangkan seberapa bersih atau tercemarnya kualitas udara di wilayah mereka. Indeks ini juga bisa dipake untuk melihat bagaimana dampak kualitas udara terhadap kesehatan setelah seseorang menghirup udara tersebut selama beberapa jam atau hari. Indeks ini mengukur polutan yang terdapat di udara, dan salah satu polutan yang diukur adalah particulate matter (PM) 2.5 yang ukurannya bahkan lebih kecil dari diameter 1 helai rambut kita pengukurannya.
 
Go on…
Terus ni ya guys, standar aman baku mutu udara ambien menurut WHO dalam guideline terbarunya adalah maksimal 15 mikrogram per kubik untuk harian, dan 5 mikrogram per kubik untuk tahunan. Tapi niiih, saat ini kualitas udara Indonesia masih jauh banget dari standar ideal WHO, di mana hariannya masih di angka 55 mikrogram per kubik, dan tahunannya adalah 15 mikrogram per kubik.
 
Oh no… kok jauh banget bedanya?
Iyaa makanya, hal inilah yang menyulut kontroversi, karena angka standar Indonesia tiga kali lebih rendah dari standar aman yang disarankan WHO. Terus hal ini juga sebenernya makin mengancam masa depan guys, secara menurut Guru Besar FKM UI Prof. Budi Haryanto, kalau kita gak melakukan sesuatu yang revolusioner untuk mengendalikan pencemaran udara di tanah air, maka diprediksi di tahun 2030 nanti polusi udara yang muncul akan 50% lebih tinggi dari polusi udara tahun ini.
 
OMG… Terus kalo kualitas udaranya buruk, efeknya apa?
Yha banyak guys, tapi yang paling kerasa tentunya risiko kesehatan. Jadi, Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) bikin simulasi soal dampak kesehatan dengan standar WHO tahun 2005, standar terbaru WHO tahun ini, dan standar Indonesia. Hasilnya, dengan semakin tingginya angka baku mutu yang ditetapkan, maka akan semakin tinggi juga resiko kesehatan masyarakat. Contohnya, dengan standar WHO 2005, angka risiko kematian ditaksir sebanyak 210.128, sedangkan dengan standar WHO 2021 sebanyak 109.063. Nah kalo dengan standar Indonesia saat ini, angkanya bahkan sampe 264.301 gengs. Begitu pula dengan risiko Kesehatan lainnya kayak stroke, kanker paru-paru, gangguan pernapasan, hingga kelahiran prematur.
 
Oh no… So what now?
Sekarang, makin banyak masyarakat yang mulai bergerak dan mendesak ke pemerintah buat menghasilkan kebijakan yang bisa menanggulangi permasalahan soal kualitas udara di Indonesia. Kalo kamu inget kemaren yang pemerintah dinyatakan bersalah karena polusi udara di lingkungan DKI Jakarta, itu salah satunya gengs yang nunjukin kalo kondisi ini emang udah urgent banget. Nah, kalo kamu mau tau lebih lanjut soal isu kualitas udara ini, kamu bisa langsung cek Instagram @bicaraudara dan kamu bisa jadi bagian dari komunitas ini. Cusss!
 
*This is a sponsored content.