Krisis Iklim Ancam Kopi Indonesia Punah

250

When you cannot start your day without a cup of joe…

Same here.
Yoi guys, siapa sih yang bisa memulai hari tanpa ngopi? Mimin aja kalo mau mulai nulis harus ditemenin sama kopi yang kalian traktir *wink wink*. Nah, kalian juga tentunya udah tahu bahwa sebagai negara beriklim tropis, Indonesia dikenal dengan kopinya yang enak-enak. Makanya, enggak heran kalo orang Indonesia konsumsi kopinya tinggi banget gengs. Kata Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Heru Tri Widarto, konsumsi kopi domestik pada 2020 mencapai 294.000 ton, naik 13,9% dibandingkan tahun 2019 dari 258.000 ton. Tapiii, kebiasaan ngopi-ngopi mu bisa terancam, karena…
 
Perubahan iklim.
Yep. Sedih deh guys, karena sebagai komoditas pangan yang sensitif banget terhadap cuaca dan alam sekelilingnya, sedikit perubahan aja pada iklim bakal berpengaruh banget sama perkembangan biji kopi. Hal ini disampaikan sama Agroecosystem Program Manager dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) Renata Puji Sumedi Hanggarawati, Menurutnya, krisis iklim bakal menyebabkan perubahan siklus musim hujan dan kemarau, dan karena musimnya susah diprediksi, maka musim panen juga berubah, dan hama penyakit meningkat. Hiks, kalo begini terus, bisa-bisa kopi Indonesia punah 😔
 
Beneran nih?
Beneran guys. Hal ini udah dikeluhkan langsung sama petani kopi di Sumatra dan Flores Manggarai NTT, yang selama ini bergabung sama program dari KEHATI. Terus ni, selain khawatir sama kondisi supply-nya, para petani juga khawatir sama kondisi demand akan biji kopi NTT yang makin tinggi. Yep, hal ini karena kebiasaan minum kopi di NTT juga kan makin meningkat, karena masyarakat yang biasanya ngopi-ngopi di rumah aja, kini udah banyak yang ngopi di warung kopi dan coffee shop. Kalo produksi kopi di sana gak bisa memenuhi konsumsinya, yha lama-lama bakal beneran abis gengs. Kalo udah kayak gini, gak cuma tanaman kopi yang terkena dampaknya, tapi juga flora lainnya di NTT, bahkan di tempat lain karena dampak dari krisis iklim ini kan banyak dan luas banget.
 
Noooo 🙁
Nah, enggak kok guys, kata Mbak Puji, kopi enggak bakal punah selama kita melakukan langkah konkret untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Selain itu, juga perlu dilakukan adaptasi dan mitigasi supaya produksi kopi di NTT bisa terus terjaga.
 
Kayak apa aja tu contohnya?
Pertama, diperlukan kolaborasi sama para petani. Jadi kata Mbak Puji, petani kopi di NTT itu rata-rata didominasi sama orang tua. Karenanya, dibutuhkan pelibatan anak muda kayak kita-kita ini dalam industri kopi di sana. Caranya yhaa bisa dengan workshop bertani, jadi barista, hingga cara mengelola limbah kopi. Jadi industrinya juga bisa menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan gitu loh gengs. Terus, masyarakat juga didorong untuk terlibat dalam konservasi tanaman kopi. Soalnya ni guys, meskipun enak, tanaman kopi itu bukan tanaman yang soliter. That means, tanaman kopi gak bisa tumbuh sendirian dan butuh tanaman penaung. Kalo kamu gak bisa nanem bibit penaungnya, kamu bisa ikutan donasi aja untuk mendukung program konservasi ini.
 
Anything else I can do?
Yep, kalo kamu udah donasi dan masih pengen berkontribusi lebih jauh untuk pengembangan industri kopi yang berkelanjutan, kamu juga bisa memilih untuk minum kopi yang ramah lingkungan. Caranya gimana? Yhaa minum kopi lokal aja guys. Karena kayak misalnya nih, di Flores tadi, 50% sumber penghasilan warganya adalah dari tanaman kopi. Terus, tanaman kopi itu sifatnya agroforest, alias lahan penanamannya bisa digabung dengan tanaman lain. Hal ini tentunya bikin ekonomi petani lebih bergerak dong, dan dengan membeli kopi dari mereka, otomatis kamu juga mendukung kesejahteraan petani.
 
Hmmm true.
Lagian juga beli kopi lokal bikin kamu bisa berkontribusi lebih pada pelestarian lingkungan, karena biaya distribusi dan hasil yang lebih rendah daripada kamu beli kopi impor. Gak cuma itu, emisi dari impor kopi juga buruk buat lingkungan gengs, karena jarak yang lebih jauh bearti emisi yang lebih tinggi. Nah makanya ni guys, yuk mulai minum kopi lokal!